Sepuluh Kebiasaan Orang Indonesia yang Mengejutkan Orang Rusia

AP
Kenapa orang Indonesia makan nasi TIGA kali sehari dan memakai jaket ketika cuaca panas?

Pepatah Rusia menyebutkan, “Сколько стран, столько и обычаев” (skolko stran, stolko i obychayev). Artinya sama dengan peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Karena itu, kami bertanya kepada beberapa orang Rusia yang pernah berkunjung atau tinggal di Indonesia tentang kebiasaan-kebiasaan warga setempat yang membuat mereka terkejut. Sebagian kebiasaan tersebut bahkan tetap mengejutkan bagi mereka yang telah lama tinggal dan berbaur dengan orang Indonesia!

1. Menatap dan berfoto dengan orang asing

Yang satu ini sebetulnya tak hanya dirasakan orang Rusia, tetapi juga semua orang asing bekulit putih di Indonesia. “Saya sangat kaget karena semua orang ingin berfoto dengan saya,” kata Yulia, seorang mahasiswi Rusia asal Khabarovsk (8.279 km di timur Moskow) yang berlibur ke Indonesia pada akhir Desember lalu. “Orang-orang juga menatapku di mana-mana. Rasanya sangat tidak nyaman,” katanya kepada Russia Beyond. Pada saat yang sama, Irina, seorang gadis asal Cheboksary (673 km di timur Moskow), bercerita, “Terkadang, mereka diam-diam mengambil foto Anda dari suatu tempat supaya tidak ketahuan,” ujarnya. Hal serupa pun dirasakan Alexander. Mahir berbahasa Indonesia, Alexander pernah menghabiskan sekitar enam bulan bekerja di daerah yang sangat jauh dari pusat kota. “Saya terkejut dengan bagaimana orang-orang melihat orang asing, terutama saat berada di luar daerah.”

2. Tidak makan babi, tetapi minum alkohol

Pada 2017, Menteri Pertanian Rusia Alexander Tkachev pernah membuat Presiden Rusia Vladimir Putin tertawa karena ia berniat mengekspor daging babi ke Indonesia. Menanggapi sang menteri, Putin menjawab, “Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim, babi tidak laku di sana.” Putin benar, tetapi bagaimana dengan minuman beralkohol? Banyak orang Rusia terkejut karena muslim di Indonesia ternyata bisa (dan bebas) mengonsumsi alkohol. Kebiasaan ini sontak membuat orang Rusia, seperti Alexandra, penasaran. “Bagaimana bisa seorang muslim menolak makan daging babi karena haram, tetapi tetap minum alkohol (yang juga diharamkan)?”

3. Nasi, nasi, dan nasi

Seperti orang Indonesia, orang Rusia juga makan nasi. Selama tiga abad terakhir, nasi bahkan menjadi bagian penting dalam hidangan dan budaya Rusia. Namun, orang Rusia tidak makan nasi setiap saat. Tatyana, seorang warga Rusia asal Tver (181 km di barat laut Moskow), bercerita, “Saya bingung ketika orang Indonesia bilang bahwa mereka sakit gara-gara seharian tak makan nasi.” Setali tiga uang, Alexander pun tak mengerti dengan kebiasaan makan sehari-hari orang Indonesia. “Orang Indonesia makan nasi dari pagi hingga malam …,” ujarnya.

4. Memegang-megang anak orang

Orang Indonesia memang mudah akrab dan sangat bersahabat. Tak jarang, anak saudara, teman, atau bahkan tetangga dianggap seperti anak sendiri. Anggapan “seperti anak sendiri” ini sering kali termasuk “hak” untuk bermain bersama, menggendong, atau mencubit pipi si anak (karena gemas). Meski begitu, orang Rusia kurang bisa menerima hal semacam itu. “Orang Indonesia selalu mau memegang anak-anak saya,” kata Alexandra, seorang ibu beranak dua dari Moskow yang kini tinggal di Jakarta. “Saya tahu, itu biasa bagi orang Indonesia, tetapi kami tak bisa menerima (kebiasaan) itu.”

5. Ramah secara pribadi, tetapi “kompetitif” di jalan raya

Orang Rusia sama sekali tak meragukan keramahtamahan orang Indonesia. Irina, yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar di Indonesia, mengatakan, “Orang Indonesia sangat ramah! Mereka selalu tersenyum dan menyapa orang asing di jalan.” Itu benar! Namun, sikap itu berubah ketika di jalan raya. “Di jalan raya selalu ada pengemudi yang melanggar lalu lintas, sehingga membuat kemacetan. Orang-orang sudah terbiasa dengan situasi semacam ini, bahkan tak sedikit yang akhirnya ikut-ikutan,” kata Alexandra, “di Rusia, orang seperti itu tentu sudah habis dipukuli pengemudi lain.” Menurut Alexandra, orang Indonesia memang ramah dan sopan, tetapi ketika berkendara, orang-orang bisa berubah kasar dan tak memedulikan pengguna jalan yang lain.

6. Memakai jaket/sweter/pakaian berlapis saat cuaca panas

Orang Rusia tahu betul fungsi jaket. Karena itu, mereka terheran-heran ketika di Indonesia, sebuah negara yang terletak di garis khatulistiwa dan hanya mengalami dua musim dalam setahun, orang-orang suka mengenakan jaket setiap saat, bahkan saat matahari bersinar terik! “Saya bingung ketika melihat orang-orang Indonesia mamakai jaket padahal cuaca di luar sangat panas,” kata Alexander kepada Russia Beyond. Pada situasi yang sama, orang Rusia tentu akan memakai pakaian setipis mungkin!

7. Memakai produk pemutih kulit

Kulit putih memang dianggap sebagai standar kecantikan di Indonesia. Berbagai iklan produk kecantikan selalu menampilkan model-model berkulit putih. Kenyataan ini ternyata cukup mengejutkan bagi kebanyakan orang Rusia. Orang-orang Rusia (dan Barat pada umumnya) justru mendambakan warna kulit yang “lebih berwarna”, tidak putih pucat.

8. Enggan mengaku bila tak tahu

Orang Indonesia tak akan mengaku jika mereka tidak tahu atau tidak memahami sesuatu, kata Galina, seorang warga Rusia asal Kursk (532 km di timur Moskow) yang fasih berbahasa Indonesia. “Misalnya, aku naik taksi ke bandara. Aku mau ke terminal domestik. Aku beberapa kali bilang kepada sopir bahwa tujuanku ke terminal domestik. Akhirnya, dia malah tiba di terminal internasional,” katanya kepada Russia Beyond. Orang Rusia menghargai kejujuran. Mereka akan berterus terang jika tak mengetahui atau memahami sesuatu. Karena itu, mereka pun berharap orang lain akan berkata jujur kepada mereka.

9. Memasukkan gula pada teh untuk tamu

Bisakah Anda membayangkan reaksi orang Rusia ketika meminum secangkir teh (super) manis saat bertamu ke rumah orang Indonesia? Orang Rusia tak pernah paham kenapa orang Indonesia terbiasa mencampurkan gula ke dalam teh, apalagi jika minuman tersebut hendak disodorkan kepada tamu. Orang Rusia suka minum teh. Mereka pun minum teh manis, seperti orang Indonesia pada umumnya. Namun, orang Rusia lebih senang jika mereka sendiri yang menuangkan gula ke dalam minumannya, bukan orang lain. Lagi pula, selera tiap orang berbeda-beda, 'kan?

9. Tidak melepaskan plastik pembungkus barang-barang baru

Banyak orang Indonesia enggan melepaskan plastik pembungkus barang-barang yang baru mereka beli, menurut Irina. “Misalnya, orang Indonesia tidak melepaskan plastik pembungkus kasur dan meletakkan matras atau alas tidur di atas plastik itu,” ujar gadis yang fasih berbahasa Indonesia tersebut. Alasannya sederhana: supaya tidak kotor. Bagi orang Rusia, kebiasaan semacam itu terlihat aneh. Hal serupa juga bisa dijumpai pada jok mobil baru atau aneka peralatan elektronik. Orang-orang sering kali malas membuka plastik pembungkus atau lapisan pelindung barang-barang itu karena “takut tergores”.

10. Minuman manis dan instan di mana-mana

Orang Rusia suka makanan manis. Ada banyak jenis permen dan manisan yang bisa Anda temui di Rusia. Rasanya pun tak kalah manis dengan makanan-makanan sejenis di Indonesia. Namun, orang Rusia tak terbiasa minum minuman instan yang manis. Coba perhatikan isi lemari pendingin di pasar-pasar swalayan di dekat rumah Anda. Apa yang Anda temukan? Ya, segala macam minuman instan, mulai dari teh segala rasa, kopi segala rasa, jus segala buah, dan aneka minuman berperisa lainnya. “Saya tak pernah melihat orang-orang begitu menyukai minuman instan layaknya orang Indonesia, seperti bermacam-macam jenis teh dan kopi dalam botol … rasanya terlalu manis,” kata Yulia. Dia bahkan terkejut ketika melihat minuman-minuman itu dijual bebas oleh para pedagang di pinggir jalan.

Selanjutnya, Russia Beyond mengulas beberapa tren kecantikan yang tampak lumrah bagi kebanyakan perempuan Indonesia, tetapi dianggap aneh atau bahkan tak cantik bagi orang Barat pada umumnya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki