Lima Upaya Gagal Teroris Membunuh Kaisar Rusia

Sejarah
GEORGY MANAEV
Kaisar Rusia Aleksandr II beberapa kali lolos dari maut sebelum akhirnya terbunuh pada 1 Maret 1881. Lima percobaan pembunuhan telah dilakukan oleh para penentangnya, seperti meledakkan istana dan kereta pribadinya, menembaknya, serta mengejarnya di jalananan.

Upaya Pertama: Penembakan yang Gagal 

Pada 4 April 1886, Kaisar Aleksandr II keluar dari gerbang utara Taman Musim Panas di Sankt Peterburg, untuk berjalan-jalan. Sejumlah kecil pejalan kaki yang melihat langsung menghampirinya dan berkumpul pada jarak wajar untuk melihat sang kaisar berjalan menuju kereta kudanya. Tiba-tiba, salah seorang dari kerumunan, Dmitry Karakozov, 26, mencabut pistol dan menembakkannya ke arah kaisar. Untungnya, Osip Komissarov, 28, seorang petani yang tengah magang sebagai pembuat topi, mencegah upaya pembunuhan itu sehingga nyawa kaisar berhasil diselamatkan. 

"Saya melihat pria itu bergegas melewati kerumunan. Gerak-geriknya yang mencurigakan membuat saya tertarik untuk mengawasinya. Namun, ketika kaisar tiba, saya tak lagi memperhatikannya. Tiba-tiba, saya melihat dia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kaisar," kenang Komissarov. 

Menurut Eduard Totleben, salah seorang Jendral Kekaisaran yang juga berada di tengah kerumunan, jika bukan karena Komissarov, kaisar mungkin telah kehilangan nyawanya. 

"Kaisar berhenti di dekat kereta kudanya untuk mengenakan mantel. Saat itulah Komissarov memukul tangan Karakozov sehingga tembakan teralihkan ke udara," ujar sang jenderal. 

Setelah ditangkap, sebuah surat pernyataan ditemukan di dalam saku Karakozov, yang berbunyi: "Saya merasa sedih dan sakit karena orang-orang saya sekarat. Jadi, saya memutuskan untuk menghancurkan sang kaisar yang jahat dan tak punya belas kasih untuk orang-orang yang saya sayangi. 

"Mengapa Anda mencoba menembak saya?" tanya kaisar kepada Karakozov. 

"Anda telah membodohi rakyat Anda — Anda menjanjikan tanah kepada mereka, tetapi tidak pernah memberikannya," jawab Karakozov, mengacu kepada penghapusan penghambaan tani pada 1861, yang menyebabkan petani harus membeli tanah mereka dari negara

Karakozov ternyata adalah anggota jaringan teroris, yang berencana memulai revolusi dengan pembunuhannya. Ia kemudian diadili dan dieksekusi pada September 1866. Sementara, Komissarov yang telah menyelamatkan kaisar dianugerahi gelar bangsawan turun menurun. Pada malam setelah menyelamatkan kaisar, ia diundang ke Istana Musim dingin, disambut, dan dipeluk oleh Aleksandr II. 

Upaya Kedua: Ledakan Senjata 

Pada Mei 1867, Aleksandr II menghadiri Pameran Dunia bersama putranya Vladimir dan Aleksandr (calon kaisar Aleksandr III) di Paris.  Suatu hari, ketika kaisar dan para putranya berada dalam satu kereta kuda bersama Kaisar Prancis Napoleon III, meninggalkan Pacuan Kuda Longchamp, seorang pria Polandia, Anton Berezovsky, 21, menyerbu ke arah kereta dan menembak sang kaisar dari dekat. 

Namun, pistol Berezovsky meledak sehingga melukai tangannya dan salah satu pelurunya mengenai kuda. Berezovsky langsung ditangkap oleh penonton. Saat diinterogasi, dia sepenuhnya mengakui perbuatannya dan mengatakan bahwa rencana pembunuhan itu dilakukannya  atas nama pembebasan tanah airnya, Polandia. Pada saat itu, Polandia merupakan bagian dari Kekaisaran Rusia dan empat tahun sebelumnya, pada 1863, pemberontakan melawan pemerintahan Rusia ditumpas dengan kejam dan keluarga Berezovsky diasingkan. Pembunuhan itu dimaksudkan sebagai balas dendam. Dia  menjalani 40 tahun kerja paksa dan dibebaskan pada 1906.

Upaya Ketiga: Penembakan Kaisar yang Melarikan Diri 

Pada 2 April 1879, Kaisar Aleksandr II sedang melakukan kegiatan jalan-jalan rutinnya di sekitar Istana Musim Dingin, tanpa pengawalan penjaga. Kebiasaan berjalan-jalan sendiri di sekitar kota ini diambilnya dari sang ayah Nikolai I. Ia tetap melanjutkan tradisi itu meski telah dua kali hampir kehilangan nyawa karena percobaan pembunuhan. 

Ketika melintasi Tanggul Moika, ia ditembak dari jarak 12 langkah oleh Aleksandr Soloviev, 32, seorang bangsawan dan pensiunan pegawai negeri. Dia adalah anggota Zemlya i volya 'Tanah dan Kebebasan', sebuah kelompok revolusioner yang kemudian melahirkan organisasi teroris pertama Rusia Narodnaya Volya  'Kehendak Rakyat'. Namun, tembakan pertama itu meleset dan sang kaisar pun melarikan diri (mungkin ini yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah Rusia). 

Soloviev mengejar Aleksandr II di jalan dan melepaskan dua tembakan lagi dari jarak yang lebih dekat. Setelah tembakan ketiga, seorang polisi yang tengah berpatroli mengejar Soloviev dan memukulkan pedangnya begitu keras hingga bilahnya bengkok. Meski demikian, Soloviev berhasil melepaskan tembakan lagi dan kabur. Ia kembali melepaskan tembakan kelima ke arah kerumunan orang yang mengejarnya, sebelum akhirnya tertangkap. 

Menurut pengakuan Soloviev yang diterbitkan, dia bertindak secara independen, tetapi "dalam semangat program partainya." Dia digantung tiga hari kemudian dihadapan sekitar 70 ribu warga penduduk yang datang untuk menyaksikan eksekusi. 

Upaya Keempat: Peledakan Kereta Api yang Kacau

Anggota Narodnaya Volya mendapat bocoran informasi bahwa Keluarga Kekaisaran akan melakukan perjalanan pulang dari liburan di Krimea ke Sankt Peterburg melalui Moskow. Mereka akhirnya menyusun rencana untuk meledakkan kereta yang membawa Keluarga Kekaisaran. Biasanya, kereta kaisar berjalan 30 menit di belakang kereta pertama yang membawa barang-barang dan rombongan mereka, seperti pelayan, dayang-dayang, dan lain-lain. 

Para teroris menempatkan tiga bom di sepanjang rute kereta kaisar. Bom pertama ditempatkan di dekat Odessa, sementara yang kedua di dekat Aleksandrovsk, Wilayah Zaporozhye (Ukraina) dan yang ketiga di wilayah mendekati Moskow. Namun, rute perjalanan berubah dan tidak melewati Odessa. Sementara, bom kedua di Aleksandrovsk tidak meledak. 

Di samping itu, kereta yang membawa barang dan rombongan mengalami penundaan keberangkatan di Kharkov karena alasan teknis. Sementara, kereta kaisar terus melaju dan para teroris tidak mengetahui hal itu. Jadi, pada 19 November, mereka membiarkan kereta kaisar lewat dan menargetkan kereta setelahnya, yang membawa barang-barang dan rombongan. Bom meledak pada waktu yang tepat dan menghantam gerbong diincar para teroris, yaitu di bawah gerbong keempat dari kereta kedua. Namun, alih-alih meledakkan gerbong kaisar, yang meledak adalah penyimpanan buah dan tidak ada korban jiwa dalam ledakan itu. 

Upaya Kelima: Peledakan Istana yang Meleset 

Narodnaya Volya kembali mencoba membunuh kaisar, kali ini di Istana Musim Dingin. Pada September 1879, sebelum ledakan kereta api yang gagal membunuh kaisar, Stepan Khalturin, 22, seorang mantan petani yang berubah menjadi propagandis revolusioner, melamar pekerjaan sebagai tukang kayu di istana kekaisaran. Dengan pekerjaan itu, ia mendapatkan kamar di ruang bawah tanah istana. Tanpa diketahui oleh petugas keamanan, pada Februari 1880, ia berhasil mengumpulkan sekitar 32 kilogram dinamit di ruang bawah tanah. 

Pada 5 Februari, ia meledakkan dinamit itu di kamarnya yang terletak dua tingkat di bawah ruang makan, tempat kaisar menerima Pangeran Aleksandr dari Hesse (leluhur Pangeran Philip dan saudara laki-laki Permaisuri Maria, istri Aleksandr II). Ledakan itu menewaskan 11 penjaga di lantai bawah ruang makan dan melukai 56 orang lainnya. Akan tetapi, kaisar dan keluarganya tidak terluka. 

Khalturin berhasil lolos dan melanjutkan aktivitas terorisnya. Namun, dua tahun kemudian, dia digantung di Odessa karena terlibat dalam pembunuhan seorang jaksa militer di Kiev. Anehnya, Khalturin berhasil menyembunyikan identitasnya hingga akhir hayatnya. 

* * *

Ada dua percobaan pembunuhan lagi terhadap Aleksandr II. Dalam kasus yang pertama, sebuah bom ditempatkan di bawah jembatan yang akan dilalui kereta kuda kaisar, tetapi sang militan yang bertugas menyulut bom itu datang terlambat. 

Upaya yang kedua terjadi pada 1 Maret 1881. Teroris membuat lorong bawah tanah di bawah jalan untuk menanam ranjau. Namun, ternyata rute perjalanan kereta kuda dirubah. Militan Narodnaya Volya berhasil mengetahui perubahan rute itu dan memutuskan untuk menyerang kaisar dengan granat tangan. Kali ini, upaya itu membuahkan hasil dan kaisar terbunuh dalam serangan itu.

Selain Aleksandr II dan Nikolai II, inilah tiga kaisar Rusia yang juga dibunuh secara brutal oleh para penentangnya.