Tragedi Berdarah: Empat Tsar Rusia yang Dibunuh Secara Brutal Sebelum Revolusi Bolshevik

Pembunuhan Tsar Rusia Pavel I, Maret 1801 (1882 – 1884).

Pembunuhan Tsar Rusia Pavel I, Maret 1801 (1882 – 1884).

Wikipedia/www.naviquan.com
Hampir semua orang tahu bahwa Nikolay II dan seluruh keluarganya dieksekusi pada 1918, hampir setahun setelah Bolshevik merebut kekuasaan. Namun, jauh sebelum masa pemerintahannya, pembunuhan raja bukanlah hal yang aneh.

1. Ivan VI

Usia saat dibunuh: 23

Pembunuh: penjaga penjara

Ivan VI.

Ivan VI (Ivan Antonovich, 1740 – 1764) tak pernah berharap bernasib nahas. Ia hanya seorang bayi berusia dua bulan ketika dinobatkan sebagai kaisar, menggantikan Ratu Anna Ioannovna pada 1740. Masa itu merupakan puncak dari apa yang disebut “era kudeta istana” pada abad ke-18, ketika para kaisar dan permaisuri berganti dengan cepat, didukung oleh pengaruh pemerintahan boneka dari aristokrasi.

Kelompok yang mendukung Ivan kalah setelah dua bulan sang “penguasa” balita berkuasa, dan Ivan pun dipenjara. Ivan berada di balik jeruji sepanjang masa kanak-kanaknya, tinggal di kastil terpencil, dan jarang berkomunikasi dengan siapa pun.

Kehidupan sengsara Ivan tak berlangsung lama. Pada 1764, seorang perwira militer yang merencanakan kudeta lain mencoba membebaskannya. Penjaga penjara, mengikuti instruksi yang diperintahkan, menikam sang mantan kaisar cilik hingga mati. Mungkin ia adalah korban paling polos dalam perebutan kekuasaan abad ke-18 yang brutal.

2. Pyotr III

Usia saat (kemungkinan) dibunuh: 34

Pembunuh: tak jelas

Pyotr III.

Tak populer di kalangan aristokrasi dan rakyat, tsar kelahiran Jerman Pyotr III (1728 – 1762) memerintah Rusia hanya selama enam bulan. Penjaga kerajaan yang cemas atas keinginan Pyotr untuk mengirim mereka berperang melawan Denmark, menggulingkan sang kaisar dan menyerahkan takhta kepada istrinya, Ekaterina II (Ekaterina yang Agung).

Sang kaisar ditangkap dan ditahan di sebuah istana di Ropsha di pinggiran Sankt Peterburg, dan seminggu kemudian ia dilaporkan tewas. Masih belum jelas apa yang terjadi, tapi menurut versi resmi ia meninggal akbiat wasir akut, tapi ini diragukan. Sepucuk surat dari Aleksey Orlov, orang kepercayaan Ekaterina yang bertanggung jawab atas pemenjaraan suaminya mengatakan bahwa ia secara tak sengaja terbunuh dalam perkelahian yang disebabkan oleh amarahnya. Ada juga kecurigaan bahwa Ekatarina diam-diam memerintahkan eksekusi suaminya.

3. Pavel I

Usia saat dibunuh: 46

Pembunuh: konspirator

Pavel I.

Putra dan sekaligus penerus Ekatarina, Pavel I (1754 – 1801), membenci ibunya dan menyukai ayahnya, Pyotr III. Ia adalah penguasa yang tegas dan keras yang mencoba menghapus sejumlah reformasi yang dilakukan ibunya untuk memperkuat kaum bangsawan, dan hal ini menyebabkan konflik serius. Menanggapi hal ini, para bangsawan sepakat merencanakan kudeta dan kebanyakan sejarawan percaya bahwa putra sang kaisar, Aleksandr, pun diam-diam mendukung kudeta tersebut.

Pada awal pemerintahannya, Pavel mencurigai musuh-musuh potensial. Karena itu, ia membangun sebuah kastil di pusat Sankt Peterburg (kastil Mikhailovsky), yang diyakini sangat aman dan tak dapat dutembus. Jadi, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di sana. Namun, kastil itu ternyata merupakan jebakan, dan pada 12 Maret 1801 para konspirator — para perwira dari pengawal istananya yang dipimpin oleh Peter von der Palen, gubernur Sankt Peterburg — masuk ke kamar Pavel. Mereka dengan brutal memukulinya dan akhirnya mencekiknya dengan syal.

Pagi berikutnya, putranya dinobatkan sebagai Aleksandr I. Meski begitu, kisah Pavel tak berhenti sampai situ. Hingga kini, arwah Pavel diyakini masih menghantui kastil Mikhailovsky. Tidak ada kaisar lain yang pernah tinggal di sana setelah kematiannya.

4. Aleksandr II

Usia saat dibunuh: 62

Pembunuh: teroris politis sayap kiri

Aleksandr II.

Pada 1861, Aleksandr II (1818 – 1881) meluncurkan reformasi yang mungkin yang paling lama ditunggu-tunggu pada abad ke-19 — penghapusan perbudakan yang memberi kebebasan bagi jutaan petani. Namun, kebebasan tersebut tak jelas karena petani harus tetap bekerja untuk majikan mereka selama beberapa dekade supaya bisa mengklaim kepemilikan atas tanah. “Kecurangan” ini memicu kemarahan publik yang, ditambah dengan pendekatan Aleksandr yang agak liberal terhadap masyarakat, menyebabkan kelompok revolusioner memburu sang kaisar dengan senjata dan bom.

Aleksandr selamat dari beberapa upaya pembunuhan — para aktivis Narodnaya volya (Kehendak Rakyat) meledakkan sebuah ruangan di Istana Musim Dingin tempat seharusnya ia berada — dan di lain waktu seorang revolusioner mencoba untuk menembaknya, tetapi lagi-lagi upaya tersebut gagal. Akhirnya, para pembunuh berhasil menghabisi nyawa Aleksandr pada 1 Maret 1881, ketika sebuah bom meledak di dekat kereta kaisar, melukai beberapa penjaga Cossack. Aleksandr, tanpa rasa takut, keluar untuk memeriksa orang-orang yang terluka — dan saat itulah revolusionis Polandia Ignacy Hryniewiecki melemparkan bom kedua, membunuh dirinya dan sang kaisar.

Siapa pun dapat dengan mudah menemukan tempat pembunuhan Aleksandr II. Putra dan sekaligus penggantinya, Aleksandr III, membangun sebuah gereja di situs tempat tumpahnya darah kerajaan dan menyebutnya Gereja Juru Selamat Banjir Darah (atau hanya Juru Selamat Berdarah) dan masih menjadi salah satu bangunan paling spektakuler di pusat Sankt Peterburg.

Membahas kehidupan para tsar memamg sangat menarik. Pyotr I, misalnya, adalah salah satu reformis terbesar dalam sejarah Rusia. Namun, masa pemerintahannya masih menyisakan misteri yang kadang cukup mengganggu dan masih membayangi kepemimpinannya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki