Tiga Misteri Mengerikan yang Masih Membayangi Kepemimpinan Pyotr yang Agung

Sang Penunggang Kuda Perunggu, patung Pyotr yang Agung saat menunggang kuda karya pematung Prancis Étienne Maurice Falconet.

Sang Penunggang Kuda Perunggu, patung Pyotr yang Agung saat menunggang kuda karya pematung Prancis Étienne Maurice Falconet.

Kora27/Wikipedia
Pyotr I adalah salah satu reformis terbesar dalam sejarah Rusia. Kepemimpinannya bahkan telah diteliti dan ditulis oleh berbagai sejarawan baik di dalam maupun luar negeri dari generasi ke generasi. Namun, masa pemerintahannya masih menyisakan misteri yang kadang cukup mengganggu dan masih membayangi kepemimpinannya.

1. Bukan Tsar yang Asli?

Sebelum Pyotr yang Agung naik takhta, Rusia adalah negara Eropa pinggiran. Namun, pada akhir pemerintahannya (yang berlangsung hanya seperempat abad), Rusia berubah menjadi kekaisaran yang kuat. Pyotr menciptakan tentara modern yang profesional, mendorong pengembangan industri, dan berhasil mendapatkan akses ke rute strategis penting melalui Laut Baltik.

Dalam prosesnya mencapai reformasi, Pyotr menantang tradisi dan ritual kehidupan politik dan sosial Rusia yang telah berjalan selama berabad-abad, menolak tradisi-tradisi kuno, dan mendorong terciptanya negara Eropa modern yang radikal. Tak heran, orang-orang terkejut dengan perubahan drastis dalam rentang waktu yang singkat tersebut dan mencoba mencari penjelasan, bahkan dengan teori-teori aneh sekalipun.

Potret Pyotr yang Agung saat masih muda.

Fakta bahwa Pyotr menyukai orang asing dan dengan penuh semangat mengadopsi gaya hidup mereka memicu desas-desus bahwa ia bukanlah orang Rusia dan merupakan tsar yang tidak sah. Diduga, Pyotr yang sebenarnya telah digantikan oleh “seorang Jerman” yang merupakan rujukan bagi semua orang asing di Rusia pada waktu itu.

Ada dua teori bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Pertama, Pyotr diduga diganti sejak awal, sejak ia lahir. Menurut legenda, ibunya melahirkan seorang anak perempuan, sementara ayah Pyotr menginginkan seorang anak laki-laki. Oleh karena itu, ia mengambil anak laki-laki dari salah satu komandan asing yang bertugas di pemerintahan tsar.

Menurut laporan lain, Pyotr yang asli menghilang dalam perjalanannya yang luar biasa panjang ke Eropa pada 1697 – 1698. Setelah kembali dari apa yang disebut “Kedutaan Besar” — selama ia mengunjungi banyak negara Eropa — Pyotr meluncurkan modernisasi dan reformasi Eropanisasinya. Beberapa orang percaya bahwa “Pyotr yang asli” dipenjara di suatu tempat di negara lain. Ada yang bilang ditahan di dinding benteng Riga, bahkan terendam dalam sebuah tong di Jerman.

Banyak orang Rusia kala itu percaya pada “kehadiran pengganti tsar”, terutama mereka yang tak menerima reformasi gereja dari pemerintahan sebelumnya dan dianiaya secara brutal di bawah Pyotr. Mereka menyebut Pyotr sebagai “Anti-Kristus.” Meski begitu, para sejarawan profesional tak meragukan keaslian Pyotr, baik sebelum berkunjung ke Kedutaan Besar maupun setelahnya.

2. Penemuan Mengerikan

Misteri ini menyangkut penemuan mengerikan yang berkaitan dengan pemerintahan Pyotr, tapi baru diketahui beberapa dekade setelah kematiannya. Pada akhir abad ke-18, Kepala Akademi Rusia Putri Ekaterina Dashkova, bingung dengan kemunculan sejumlah cairan alkohol yang biasa digunakan oleh Akademi. Ia memutuskan untuk mengklarifikasi masalah ini dan mencurigai adanya penyalahgunaan alkohol. Legenda menyebutkan bahwa jawaban dari staf Akademi sungguh mengejutkan sang putri. Dashkova diberitahu bahwa cairan tersebut hanya digunakan untuk tujuan ilmiah, dan kemudian ia ditunjukkan beberapa benda yang mengagetan: dua botol kaca dengan kepala manusia di dalamnya. Cairan tersebut digunakan untuk mengawetkan mereka.

Mary Hamilton sebelum eksekusi. Lukisan karya Pavel Svedomskiy.

Kedua kepala itu diketahui milik mantan pejabat istana Pyotr yang Agung dan istrinya, Ekaterina. Salah satu kepala merupakan milik Mary Hamilton, seorang perempuan keturunan Skotlandia yang pindah ke Rusia pada pertengahan abad ke-16. Ia adalah dayang Ekaterina dan salah satu simpanan Pyotr, dan dieksekusi atas perintah sang tsar karena mengaborsi dan membunuh bayinya. Banyak yang percaya bahwa bayi yang dibunuh kemungkinan adalah anak Pyotr meski pada saat penyelidikan dan pemidanaan ia juga telah melakukan hubungan seksual dengan asisten tsar.

Kepala yang lain merupakan kepalanya Willem Mons, sekretaris Pyotr dan kekasih sang permaisuri. Ketika ketidaksetiaan Ekaterina terbongkar, Pyotr sangat marah meski ia pun memiliki banyak perempuan simpanan, termasuk Mary Hamilton. Mons dituntut karena dugaan penggelapan dan segera dipenggal. Sang tsar dikatakan telah memerintahkan untuk menempatkan kepala Mons yang diawetkan di kamar tidur permaisuri.

3. Kematian Pyotr dan Wasiatnya

Spekulasi mengenai sang tsar tak hanya terbatas pada asal-usulnya, tetapi juga terkait kematiannya. Spekulasi ini dipicu fakta bahwa tak lama sebelum Pyotr wafat, Ekaterina, istrinya, dihapus dari surat wasiatnya karena perselingkuhan sang permaisuri dengan Mons. Hal tersebut merupakan situasi yang berpotensi berbahaya bagi Ekaterina.

Pyotr I di ranjang kematian. Lukisan karya Ivan Nikitin.

Posisi Aleksandr Menshikov, orang paling berkuasa di pemerintahan setelah Pyotr sendiri, juga hancur ketika itu. Ada kabar bahwa Aleksandr dan Ekaterina mungkin menginginkan kematian dini sang raja. Namun, seperti yang dikatakan oleh sejarawan Evgeniy Anisimov, kematian Pyotr pada 1725 adalah akibat penyakit menular seksual yang kronis.

Ada juga berbagai kisah berbeda terkait wasiat kaisar. Salah satu rumor menyebutkan bahwa menjelang kematiannya, sang tsar meminta tinta dan kertas dan diduga menulis, “Memberikan segalanya kepada …” tetapi ia meninggal sebelum dapat menyelesaikan kalimat tersebut.

Setelah kematian Pyotr, seluruh hartanya diberikan kepada Ekaterina. Meski demikian, spekulasi mengenai wasiat sang tsar tak selesai sampai di situ. Hampir seratus tahun kemudian, pada 1812 di Prancis, di tengah perang Napoleon, sebuah dokumen berjudul “Kehendak Pyotr yang Agung” muncul. Diduga, dokumen tersebut berisi rencana Rusia menaklukkan seluruh Eropa. Sejarawan segera menetapkan bahwa “wasiat” tersebut palsu.

Namun demikian, wasiat tersebut digunakan untuk mendiskreditkan Rusia di beberapa negara Eropa pada abad ke-19. Meski begitu, ’kehendak’ Pyotr yang sesungguhnya adalah ia ingin Rusia menjadi negara modern yang berpengaruh dalam politik Eropa hingga hari ini.

Peran Kekaisaran Romanov di Eropa Timur hampir sama seperti peran Kekaisaran Romawi di Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Menurut sejarawan Paul Kuznetsov, Kekaisaran Romanovlah yang membawa budaya Eropa ke Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki