Negara Mana Saja yang Memproduksi Senjata-Senjata Rusia?

Sukhoi Su-30 MKI.

Sukhoi Su-30 MKI.

g4sp (CC BY-SA 2.0)
Rusia memproduksi semua jenis senjata, mulai dari pisau hingga kapal selam nuklir. Namun, tak banyak yang tahu bahwa ribuan senjata Rusia diproduksi di luar negeri.

Selama beberapa dekade, Rusia tidak hanya menjual senjata, tetapi juga menciptakan fasilitas militer di seluruh dunia untuk memproduksi persenjataan berteknologi tinggi untuk kliennya. Terkadang, Rusia menjual lisensi dengan seluruh dokumentasi teknis peralatan militer untuk membuat mitra asingnya mampu memproduksi senjata Rusia sendiri.

India

Su-30MKI milik Angkatan Udara India.

Medio 1960-an, India menjadi pelanggan utama senjata Rusia. Menurut Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), sejak saat itu, sepertiga ekspor militer Moskow dikirim ke New Delhi, dan mengubah anggaran militer Rusia menjadi $65,1 miliar pada 2019.

“Selain pengiriman persenjataan siap pakai, Moskow juga menjual lisensi dengan dokumentasi teknis lengkap untuk membuka produksi berskala penuh senjatanya di negara tersebut. Itu tidak terjadi setiap saat, tetapi kesepakatan semacam itu sering menjadi bagian dari kesepakatan senjata multimiliar dolar AS antar negara. Hal yang sama terjadi dengan India,” kata Direktur Pengembangan Yayasan untuk Promosi Teknologi Abad 21 Ivan Konovalov

Menurutnya, salah satu lisensi tersebut dijual kepada perusahaan India 'Hindustan Aeronautics Limited' (HAL). Perusahaan itu telah memproduksi lebih dari 200 pesawat tempur berat Su-30MKI sejak tahun 2000. Lebih spesifiknya, mereka tidak hanya merakit jet tempur dari suku cadang yang dikirim dari Rusia seperti sebelumnya, tetapi menjalankan produksi secara menyeluruh. Dalam kesepakatan dengan HAL, Rusia menjadi pemasok aluminium dan titanium penerbangan untuk memproduksi pesawat. 

Konovalov mencatat, India masih menjadi pelanggan terbesar senjata Rusia.

“Negara itu mencoba memasukkan dalam beberapa kontrak tentang pembuatan fasilitas yang akan memproduksi senjata atau setidaknya suku cadang untuk peralatan militer yang mereka beli dari kita. Misalnya, kita memiliki sejumlah pabrik di sepanjang pantai India yang memproduksi suku cadang untuk kapal dan kapal selam yang telah kita jual ke India selama bertahun-tahun,” jelasnya. 

Dalam waktu dekat, Kalashnikov Concern juga akan membuka pabrik di India, yang akan dipakai untuk memproduksi senapan AK-203 untuk tentara lokal. Itu merupakan kontrak multijuta dolar lainnya antara kedua negara, karena India akan memproduksi sebanyak 671.427 pucuk senapan, dengan harga satuan $960.       

Tiongkok

Rusia dan Tiongkok memiliki hubungan militer jangka panjang yang tak selalu berjalan mulus. Moskow telah menjual lisensi untuk produksi senjata di Tiongkok bertahun-tahun lamanya. 

“Selama era Uni Soviet, kita membuka produksi AK-47 berlisensi di Tiongkok. Mitra kita membuat sejumlah modifikasi senapan itu dan menamainya 'Tipe-56'. Namun, produksi AK yang terkenal di dunia itu berubah menjadi salinan berkualitas buruk dengan banyak kerusakan. Hal itu membuat Moskow tak senang dan tidak memperpanjang lisensi dengan Tiongkok. Namun, hingga hari ini,  Anda dapat menemukan salinan AK-47 Tiongkok di pasar senjata, yang diproduksi secara ilegal di Tiongkok,” kata Konovalov.   

Pada 1990-an, kita juga membuat fasilitas militer di Tiongkok untuk memproduksi jet tempur Su-27. 

“Namun, selama bertahun-tahun, kesepakatan dengan Tiongkok gagal dan pabrik yang seharusnya membuat 200 jet untuk militer lokal, hanya memproduksi 100,” kenang Konovalov.

Tiongkok juga membeli lisensi untuk membuat tank BMP-3 buatan Rusia dan membuat mesin mereka sendiri berdasarkan platform ZBD-04A.

“Ya, platform Tiongkok memiliki sejumlah teknologi yang diadopsi dari BMP-3 Rusia. Kita ingin menjualnya dan membuka produksi menyeluruh di Tiongkok. Kesepakatan itu gagal begitu Tiongkok menerima produksi seri pertama mesin tempur itu untuk menjalani pengujian,” katanya. 

Namun, ada juga contoh baik dari kemitraan yang bermanfaat dan produksi militer bersama. Misalnya, pada  2005, Tiongkok memesan dan membeli delapan meriam artileri AK-176 kaliber 76-mm berbasis kapal, yang merupakan bagian dari produksi berlisensi. Akan tetapi, pengirimannya masih berjalan. Seperti yang ditunjukkan oleh SIPRI, di Tiongkok, senjata ini telah menerima nama 'H/PJ-26' dan sedang dipasang satu per satu di kapal pendarat dermaga 'Tipe-071' (Yuzhao).

Sesuai dengan kontrak pada 2011, Rusia juga membuat produksi mesin turbojet untuk pesawat tempur berbasis kapal induk J-15.

“Semua pabrik yang dibuat di luar negeri adalah milik negara setempat. Namun, bagaimanapun, Rusia memiliki hak istimewa dalam kesepakatan senjata potensial dengan pihak ketiga atas pengiriman senjata yang diproduksi di pabrik-pabrik tersebut. Kita dapat memecah secara hukum kesepakatan senjata dengan pihak ketiga jika merasa bahwa senjata-senjata itu akan berakhir di tangan teroris. Jika tidak demikian, negara itu akan bertindak sesuka hati dan menjual senjata kepada siapa pun yang diinginkannya,” tambah Konovalov. 

Uni Emirat Arab  

Pada awal 2010, produsen senjata Rusia Lobaev Arms diundang untuk membuat produksi senapan runduk secara menyeluruh di Uni Emirat Arab (UEA). 

Kontrak multijuta dolar AS antara perusahaan senjata swasta dan UEA melibatkan pembuatan 200 senapan sniper untuk unit Pasukan Khusus lokal dan menjual lisensi senjata untuk produksi lebih lanjut dari senapan runduk yang dimodifikasi untuk wilayah Semenanjung Arab.  

“Saat ini, perusahaan itu bernama 'Tavazun'. Pada awalnya, perusahaan itu mengkhususkan diri pada senapan runduk Rusia yang mampu mengenai target pada jarak 600 dan 1.800 meter. Seiring berjalannya waktu, sang pemilik perusahaan mengundang insinyur Eropa dari SIG Sauer untuk memperbesar bisnis dan mulai memproduksi senapan serbu juga,” kata Kepala Insinyur Lobaev Arms Yuri Sinichkin. 

Menurutnya, Tavazun memproduksi versi modifikasi dari senapan runduk DVL-10 Rusia yang dibuat untuk operasi perkotaan. Senjata yang diberi nama 'CSR-308' itu memiliki sedikit perbedaan dari DVL-10 Rusia, yaitu peningkatan ketahanan terhadap pasir. Sederhananya, CSR-308 lebih tahan terhadap kotoran daripada DVL-10.   

Anda dapat melihat tes tembak pendahulu CSR-308 pada video Big Guns kami di bawah ini! 

Inilah berbagai jenis senjata yang akan diterima Rusia pada tahun ini.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki