Modifikasi ‘Senyap’ untuk Senapan Runduk Pasukan Khusus Rusia

Lobaev Arms
Modifikasi ini mencakup penggunaan amunisi subsonik baru, peredam suara, dan berbagai tambahan ergonomis.

Produsen senapan runduk Rusia Lobaev Arms baru-baru ini meluncurkan variasi 'senyap' dari senjata mereka yang digunakan oleh unit operasi khusus Rusia yang berperang melawan teroris Negara Islam di Suriah pada pameran militer 'Army-2020' di Moskovskaya Oblast, akhir Agustus lalu. 

Modifikasi Baru untuk Senapan Beramunisi .338

“Kami membuat versi senyap dari senapan runduk DXL-3 dan DVL-10 kami. Yang pertama digunakan oleh unit GRU (unit elit Operasi Khusus Rusia) di Suriah dan yang kedua digunakan oleh unit kontra teroris FSB yang bekerja di wilayah perkotaan," ujar Kepala Insinyur Lobaev Arms, Yuri Sinichkin. 

Menurutnya, modifikasi ini menyamarkan kilatan tembakan serta meredam suaranya. Tembakan senapan yang menggunakan amunisi kaliber .338 dapat didengar dari jarak berkilo-kilometer jauhnya sehingga sang penembak hanya memiliki satu kesempatan menembak sebelum posisi mereka terbongkar, sebagaimana yang dikatakan penembak jitu militer.

Jadi, menambahkan peredam ke senjata kaliber .338 sangat penting untuk menyelamatkan nyawa sang penembak.  

“DXL-3 adalah senapan sniper ultrapanjang yang dibuat untuk melenyapkan target hingga sejauh 1,8 kilometer dari posisi penembak. Senapan ini memiliki komposisi paduan aluminium penerbangan dengan semua keunggulan desain presisi senapan klasik,” kata Sinichkin. 

Rekoil (hentakan balik) senapan ini sebanding dengan 6PPC atau kurang, yang berarti seorang penembak dapat menghabiskan berhari-hari di lapangan dengan nyaman. Untuk DXL-3, Lobaev Arms juga menambahkan sistem baut aksi baru ‘Duke’, yang didasarkan pada keluarga dari senapan runduk terkuat di dunia SVLK-14 'Twilight'.

“Senapan ini menerima popor lipat untuk membuatnya lebih nyaman dengan laras panjang stenlis 740 mm yang berat, yang memberikan DXL-3 akurasi 0,35 MOA (Minute of Angle — angka itu berarti penyimpangan penembakan pada jarak 100 meter adalah 10,5 milimeter),” tambah sang kepala insinyur.  

Menurutnya, senapan ini juga mampu menahan kondisi medan yang berat, serta suhu yang berkisar antara -45 hingga 65 derajat Celcius.

Peningkatan untuk Senapan Wilayah Perkotaan

Pembaruan serupa dilakukan pada senapan sniper DVL-10, yang dibuat untuk unit kontra teroris dengan daerah operasi di wilayah perkotaan. 

Lobaev Arms mengungkapkan, DVL-10 menerima peredam khusus yang akan menyamarkan tembakan penembak jitu di wilayah perkotaan yang dekat dan menekan kebisingan dari tembakan. 

Rekoil yang dihasilkan hampir nihil dibandingkan dengan senapan "perkotaan" lainnya. Seperti yang dijelaskan Sinichkin, mereka memiliki tim biomekanik yang bertugas meminimalkan rekoil sehingga senapan tetap pada titik bidik selama penembakan. 

“Setiap DVL-10 telah melalui banyak tes yang dilakukan oleh penembak profesional dan menerima banyak penyesuaian untuk menyempurnakan senjata itu. Tim biomekanik menghabiskan cukup banyak waktu untuk membuat pegangan yang tepat untuk senjata sehingga tidak mungkin untuk memegang senjata itu dengan salah (faktor kunci dalam hal akurasi),” jelas Sinichkin.

Kepadatan tembakan DVL-10 pada jarak 100 meter kira-kira 1,5 sentimeter antar tembakan.

Rencana Kedepan 

Lobaev Arms tengah mengerjakan senapan runduk era baru ‘DXL-5’ yang akan mampu mencapai target sejauh 7 kilometer. Selain itu, produsen senapan runduk itu juga berencana untuk terus menjual produk mereka ke luar negeri, tetapi belum berencana untuk memproduksinya di luar Rusia.

“Masalahnya bisa dibicarakan. Kita bisa mulai merakit berbagai bagian dan modifikasi senapan kita di negara-negara yang tertarik padanya. Namun, masih terlalu dini untuk membicarakan tentang membuka pabrik di luar negeri,” tegas Sinichkin.

DXL-5: senapan runduk pertama di dunia yang mampu melenyapkan target sejauh 7kilometer dan dijuluki sebagai ‘Malapetaka’.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki