Katyusha: Lagu Pembakar Semangat Juang

Sejarah
PANCA SYURKANI
Belakangan ini di Indonesia tengah ramai pembahasan tentang kemiripan lagu kampanye salah satu pasangan capres dan cawapres dengan lagu legendaris Rusia "Katyusha". Untuk membuktikannya, Russia Beyond meminta seseorang menyanyikan Katyusha diiringi musik kampanye itu. Hasilnya, meski terdapat sejumlah modifikasi, kedua lagu bisa dikatakan menyatu satu sama lain. Demi menjaga netralitas, kami tidak memasukkan video lagu kampanye yang dimaksud dalam artikel ini.

Lantas, apa sebetulnya makna lagu yang identik dengan era Perang Dunia II ini?

Katyusha yang menceritakan kisah seorang gadis yang mencintai pejuang dan tengah menunggu kabar darinya, memiliki sejarah yang cukup panjang. Menurut redaksi kami Katyusha bukan sekedar lagu biasa, melainkan lagu yang telah menjadi bagian dari identitas setiap orang Rusia. Untuk itu, kami akan mengupas proses kelahiran lagu ini. Ayo kita cermati bersama!

Lagu populer Soviet ini tidak hanya dikenal di Rusia, tetapi juga di berbagai penjuru dunia. Menurut hasil studi majalah Russkiy Reporter pada 2015, Katyusha menempati posisi empat besar lagu favorit lintas generasi. Sementara pada masa Perang Patriotik Raya, lagu ini memiliki peran yang penting sebagai pembakar semangat para pejuang.

Katyusha tidak hanya menjadi sebuah fenomena di dunia permusikan Soviet, melainkan juga menjadi fenomena sosial di kehidupan nyata. Jutaan orang menganggap Katyusha sebagai karakter nyata seorang gadis yang mencintai pejuang dan tengah menunggu jawaban. Banyak versi cerita yang timbul dari lagu ini.

Lagu Legendaris yang Lahir tanpa Sengaja

Katyusha lahir dari sebuah puisi yang ditulis oleh Mikhail Vasilievich Isakovsky (1900-1973) pada awal 1938. Awalnya kata demi kata mengalir lancar memenuhi delapan baris pertama yang merupakan paruh pertama Katyusha. Tetapi aliran kata-kata itu kemudian tersumbat shingga puisi itu pun terhenti.

Beberapa bulan kemudian, saat mengunjungi kantor editorial surat kabar Pravda untuk suatu urusan, Isakovsky berjumpa pertama kalinya dengan Matvey Isaakovich Blanter, komposer yang telah mencetak sejumlah lagu populer.

Pada pertemuan tersebut Blanter menanyakan apakah Isakovsky memiliki puisi untuk dijadikan musik. Isakovsky pun menceritakan puisi-nya yang belum selesai, dan bersedia menuliskannya.

“Saya menyerahkan apa yang saya tulis kepada Blanter dan jujur saja, saya segera melupakannya,” tulis Isakovsky pada jurnalnya. Suatu hari di musim panas, Isakovsky bertemu kembali dengan Blanter pada suatu kesempatan. Blanter mengatakan telah menuliskan musik dari puisi Isakovsky dan memujinya. Namun ia meminta Isakovsky menambahkan liriknya.

Meski berjanji akan melengkapinya, Isakovsky tidak dapat segera melakukan hal itu. Pada bulan agustus Ia pun harus pergi ke Yalta selama sebulan penuh. Dia tak menyangka Blanter yang mengetahui keberadaannya kemudian menyusul ke Yalta dan mendesaknya menyelesaikan lirik tersebut. Hal itu dilakukannya karena lagu itu telah dimasukkan dalam program konser pertama State Jazz Orchestra yang diselenggarakan dalam waktu dekat di Moskow. Blanter pun memberikan tenggat waktu dua hari sebelum ia kembali untuk menjemput lirik yang telah lengkap dan final.

Mau tak mau, Isakovsky harus menyelesaikan karyanya yang tertunda. Ia berusaha keras karena baginya berada di luar rumah atau lingkungan yang tak dikenal merupakan hambatan dalam berkreasi. Ia bahkan tak bisa melakukan apa-apa awalnya. Tak sebaris pun lirik yang tercipta hari itu. Tetapi, dua hari kemudian ia akhirnya menyerahkan lima atau tujuh versi lirik. Alih-alih menentukan lirik pilihannya, sang komposer malah meminta Isakovsky menetapkan versi yang akan dikukuhkan.

Isakovsky pun memilih versi yang menurutnya paling sukses yang juga disetujui oleh Blanter. “Jadi, kata-kata ‘Katyusha’ disetujui oleh kami berdua,” akunya. Di lirik tersebut Isakovsky menuangkan firasatnya mengenai perang, meski tidak tahu persis kapan dan dari mana datangnya perang itu.

Pembakar Semangat Juang yang Populer di Banyak Negara

Firasat perang yang menginspirasi Isakovsky bukan tak beralasan, karena pada 1938 kondisi di kawasan perbatasan barat Soviet tengah memanas. Perang sedang berkecamuk di Spanyol, dan Tentara Merah tengah terlibat pertempuran dengan samurai Jepang di Danau Hasan. Oleh karena itulah tema tanah air dan tema melindunginya dari gangguan musuh tak bisa ia lewatkan dalam penggalan lirik Katyusha.

Pada musim gugur, tepatnya pada 28 November 1938, seperti yang dijanjikan Blanter, konser pertama State Jazz Orchestra dibuka oleh “Katyusha” yang  dinyanyikan oleh Vera Krasovitskaya, George Vinogradov dan Vsevolod Tyutyunnik. Lagu ini pun langsung disukai semua orang. Dari sanalah perjalanan “Katyusha” melintasi seantero negeri.

Tak berhenti di situ, perjalanan Katyusha terus berlanjut. Sekitar kurang dari setahun kemudian Katyusha telah menyebar ke luar perbatasan Soviet. Sekitar September 1939, penduduk Ukraina Barat dan Belarus Barat yang berada dibawah kekuasaan bangsawan Polandia bertemu dengan tentara pembebasan Soviet yang menyanyikan Katyusha. Selama Perang Patriotik Raya, para prajurit Tentara Perlawanan di Prancis dan Italia juga menyanyikan Katyusha.

Sangat mengherankan pada hari-hari kemenangan tentara Soviet yang bertempur di detasemen partisan Italia memasuki Vatikan dengan menyanyikan lagu Katyusha ketika Paus ingin melihat mereka. Pada musim gugur 1957 Isakovsky tiba di Italia, ia mendengar bahwa setidaknya delapan puluh persen populasi Italia telah mengenal Katyusha.

Katyusha pun sampai di Amerika Serikat. Tak lama setelah perang, penyair Ukraina Andrei Malshko menuliskan dalam puisinya: Orang kulit hitam menyanyikan “Katyusha” Rusia, yang ditulis oleh Isakovsky.

Dalam beberapa tahun kemudian, Katyusha telah menjadi sangat popoler di Jepang, saking populernya sebuah kafe di Tokyo dinamai Katyusha di mana lagu ini dimainkan setidaknya sekali pada malam hari.

Popularitas Katyusha benar-benar fenomenal, hal ini dibuktikan bahwa oleh fakta-fakta pada masa Perang Patriotik Raya dan pasca-perang yang mana banyak bermunculan perubahan-perubahan yang terkait dengan Katyusha, seperti jawaban, kelanjutan, tiruan dan sejenisnya.

Perubahan dan jawaban pertama diketahui di Finlandia. “Saya di Finlandia, Katyusha”, tulis seorang penulis tak dikenal. Tetapi perubahan banyak terjadi pada masa perang. Perubahan yang disesuaikan dengan kondisi setempat, dinyanyikan hampir di mana-mana.

Dalam perubahan itu, Katyusha yang sejatinya adalah nama panggilan untuk wanita yang bernama Katya tidak hanya digambarkan sebagai seorang gadis yang mencintai seorang pejuang dan menunggunya kembali, tetapi juga sebagai orang yang bertempur dengan musuh ketika berada di detasemen partisan; dia juga berada di garis depan peperangan” Gadis itu sederhana dengan pistolnya,” dia dan perawat itu: “Katya (nama asli Katyusha) akan dengan kuat mengikat luka-lukanya, dan kembali bertempur”. Profesor I. N. Rozanov telah mengumpulkan sekitar 100 perubahan, sekuel dari "Katyusha" dan "jawaban" dari lagu itu.

Menurut kisah yang didengar Isakovsky dari penyair  Ilya Selvinsky yang berpartisipasi dalam pertempuran di Semenanjung Kerch, suatu malam pejuang Soviet mendengar lantunan lagu Katyusha dari parit perlindungan Jerman. Tak cukup sekali, tapi berulang kali, sehingga membuat geram para pejuang karena tidak terima lagu kebanggaan mereka diputar oleh musuh. Tentara merah pun melakukan serangan mendadak ke parit itu dan merebut sang “gadis”.

Pada kelanjutannya, Katyusha pun digunakan untuk menamai Rudal BM-13 yang merupakan senjata  perang dunia kedua Soviet yang paling mengerikan (baca selengkapnya). Suatu malam di tahun 1944, utusan Jenderal A.I. Nesterenko, yang memimpin satuan pengawal militer bersenjatakan "Katyusha", mendatangi Isakovsky di Moskow. Ia mengatakan, karena senjata baru Tentara Merah dinamai sesuai lagunya, maka akan lebih baik jika dia menuliskan lagu baru tentang "Katyusha" yang lain. Ia pun memenuhi permintaan jenderal dan menyelesaikan lagu baru Katyusha di awal Januari 1945.

Music baru "Katyusha" ditulis oleh VG Zakharov dan segera dinyanyikan oleh paduan suara Pyatnitsky yang diperdengarkan pertama kali di Moskow dan kemudian di seluruh negeri, serta di garis depan peperangan yang sedang berlangsung.

Isakovsky mengakui kesuksesan lagu "Katyusha" bukanlah miliknya sendiri, melainkan kesuksesannya bersama Blanter sang penggubah musik.