Berkali-kali Tertembak, Veteran Perang Dunia II: Saya Percaya Takdir

Selama Perang Dunia II dulu, Yuri Trankvillitsky (90) bertugas di badan intelijen Soviet.

Selama Perang Dunia II dulu, Yuri Trankvillitsky (90) bertugas di badan intelijen Soviet.

Olesya Kurpiaeva
Selama Perang Dunia II dulu, Yuri Trankvillitsky (90) bertugas di badan intelijen Soviet. Kali ini, Trankvillitsky berbagi kenangan saat ia mengabdi di garis depan, kisah kehidupannya dan cedera yang ia derita, serta bagaimana seni bela diri sambo membantunya bertahan hidup selama masa perang.

Pada awal dimulainya Perang Patriotik Raya di tahun 1941, Komandan Peleton Intelijen Taktis Letnan Yuri Trankvillitsky baru berusia 15 tahun. Saat itu, ia masih bekerja di sebuah pabrik amunisi, dan baru dipanggil ke dalam kesatuan dua tahun kemudian. Pada beberapa bulan pertama, Yuri bertugas di baris belakang dan menunjukkan sisi intelektualnya sebagai seorang prajurit. Karena itu, ia kemudian dikirim untuk mengikuti pelatihan letnan muda. Yuri lulus dengan hasil memuaskan dan berhasil diangkat menjadi komandan peleton intelijen taktis baris depan.

Sang komandan intelijen kemudian bertugas di garis depan selama dua bulan, yang dia anggap sebagai periode yang sangat panjang. “Penghormatan selama ledakan di baris depan hanya terhenti dalam beberapa hari,” kata sang veteran. “Ketika Anda melihat bahwa sejumlah tentara yang berada di dekat lokasi ledakan tetap selamat, di saat yang sama, pasukan tentara lain yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi justru terbunuh, di situ Anda dapat mengerti apa itu takdir. Berbeda dengan pasukan intelijen lainnya yang “lebih menyenangkan”, pasukan intelijen taktis pergi ke baris belakang pasukan Jerman. Mereka merusak sistem komunikasi dan mengekstrak informasi mengenai lokasi musuh.

Namun begitu, alih-alih mengingat serangan di garis belakang musuh, Yuri Transkvillitsky lebih memilih mengenang kehidupan seorang prajurit di garis depan. “Makanan utama saat itu adalah bubur jawawuttanpa susu dan mentega, serta sup jawawut. Jenis sup ini sebenarnya hampir sama dengan bubur jawawut, tapi telah diencerkan dengan air. Terkadang, di dalam sup terdapat kentang beku dan bahkan salo Amerika (semacam lemak beku hewan),” kata sang veteran. Kami memiliki kesepakatan tak tertulis dengan Jerman, yaitu jangan menembak di malam hari. “Kami mendengarkan tawa yang berasal dari parit pasukan Jerman dan suara harmonika. Ini adalah perasaan yang aneh,” kata Trankvillitsky menambahkan.

Sambo untuk Melawan Nazi

Pada 22 Juni 1944, operasi “Bagration” untuk pembebasan Belarus dimulai. Di malam sebelumnya, Komandan Peleton Muda Letnan Transkvillitsky dikirim untuk tugas pengintaian. Tujuan adalah untuk mengorbankan subdivisi kecil dan mengidentifikasi titik tembak musuh. Ketika sampai di barisan Jerman, Trankvillitsky melompat ke parit tempat ia kemudian bertabrakan dengan tentara Jerman. Ia ingat, bahwa ketika itu hidupnya terselamatkan berkat bela diri sambo yang ia tekuni sejak berusia 12 tahun dengan Anatoly Kharlampiev, pencipta bela diri sambo yang sangat terkenal. “Sambo sudah seperti agama bagi saya,” kata sang veteran. “Tanpanya, saya mungkin sudah lama terkubur di bawah tanah Belarusia.”

Kemudian, yang paling mengerikan terjadi. Peleton mendapat serangan dari artileri mereka sendiri. Trankvillitsky mengaku bahwa saat itu dia beruntung karena ia tertutup tanah. Kemudian, tanpa mengalami cedera sedikit pun, ia bahkan ikut dalam penyerangan.

Namun, selama pengintaian kedua, Yuri Trankvillitsky terjebak di bawah api kendaraan lapis baja milik Jerman. Trankvillitsky hingga saat ini masih menyimpan dompet kecil bewarna cokelat dengan pengait perak. Sang veteran yakin bahwa dompet kecil inilah yang telah menyelamatkan hidupnya. Sebuah peluru yang merobek bagian dompet menembus dada kirinya dan bersarang di tulang rusuk. Sementara peluru lain merobek otot bisep bagian kanannya. Peluru ketiga menyerang lengannya, yang keempat di bagian lutut, dan yang kelima di bibir atas. Para intelijen kemudian menarik sang komandan yang terluka.

Kemudian, saat sadar, ia sudah berada di rumah sakit militer. Di sinilah akhir dinas militernya, pada Januari 1945, di usianya yang menginjak 19 tahun, Yuri Trankvillitsky mengalami cacat kategori kedua. Meski begitu, hal tersebut tak lantas menghalanginya untuk menjalani kehidupan dengan normal. Pada tahun 1946, keadaannya sedikit membaik. Meskipun saraf bisep kanannya bermasalah, yang dapat menyebabkan rasa sakit tak tertahankan jika sedikit saja disentuh, Trankvillitsky berhasil menempati posisi kedua pada kejuaraan bela diri sambo di Moskow. Dua tahun kemudian, ia melepas kegiatan sambonya akibat serpihan peluru di lututnya. Yuri Trankvillitsy mulai menyibukkan diri dengan kegiatan berkano hingga ia berusia 77 tahun.

Setelah perang, ia lulus dari Institut Serikat Sinematografi Negara (VGIK) dan berprofesi sebagai fotografer. Ia kemudian kembali ke VGIK, tapi kali ini sebagai dosen pengajar mata kuliah komposisi dalam fotografi. Tahun inii, Yuri Trankvillitsky akan berusia 91 tahun, dan baru beberapa tahun yang lalu ia berhenti mengajar.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.