Menikmati Alam dan ‘Blusukan’: Kenangan Khrushchev Bersama Bung Karno di Bogor

Yayasan N. S. Khrushchev
Kota Bogor yang hijau bagai zamrud betul-betul membuat Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev terkesan. Dalam memoarnya, ia bahkan menyebut kota itu mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya.

Khrushchev sangat menyukai musim semi. “Saya selalu ingat sukacita musim semi yang dirasakan semua orang setelah musim dingin berlalu. Hamparan padang rumput yang luas (di Bogor) membangkitkan perasaan yang sama dalam diri saya,” kenangnya.

Pemandangan sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bogor pun sangat mengagumkan. Saat menuju Istana Bogor, Khrushchev melewati pasar yang menjual aneka buah-buahan. “Rakyat kami bukan hanya belum pernah memakan buah-buahan itu, tapi juga belum pernah melihatnya,” tulis Khrushchev.

Kekaguman Khrushchev tak berhenti sampai situ. Begitu tiba di Istana Bogor, sang pemimpin Soviet betul-betul terpesona pada kemegahan bangunan itu. Ia menggambarkan Istana Bogor sebagai bangunan yang dibangun dengan bebatuan putih. Ruang-ruang di dalamnya tak jauh berbeda sebagaimana istana pada umumnya. Meski begitu, fasad dan aneka perabotan di dalamnya memberi kesan yang sangat kuat pada istana itu, kata Khrushchev.

Istana Bogor terletak di tepi hutan belantara. “Saya berjalan-jalan ke dalam meski tidak pergi terlalu jauh. Hutan itu memberi kesan suram pada saya. Matahari tidak bisa menembus kanopi (cabang-cabang dan dedaunan pohon-pohon hutan hujan yang saling tumpang tindih). Permukaan tanahnya lembab, batang-batang pohon ditutupi lumut, dan embun menetes dari daun. Saya melihat dua orang utan yang dipelihara di sana. Mereka terlihat sedih. Saya bertanya kepada Sukarno, ‘Mengapa Anda membiarkan mereka dirantai? Itu membuat kesan buruk.’ Dia tak menjawab,” tulis Khrushchev bercerita.

Sukarno Mengejar Kupu-Kupu

Iklim di Bogor ternyata membuat Khrushchev cukup menderita. Selama berada di Bogor, Khrushchev mengaku sulit bernapas. Selain itu, iklim yang lembab membuat “semuanya menempel di badan (berkeringat -red.).” Meski begitu, pengalaman itu tetap mengesankannya. Di Bogor, hujan turun sangat deras. Hujan bisa berlangsung selama satu jam, tapi setelah itu matahari akan muncul dari balik awan, kenangnya.

Tak jauh dari istana terdapat Museum Zoologi dan Kebun Raya Bogor. Anak laki-laki Khrushchev, Sergey, gemar mengoleksi kupu-kupu. “Seryozha (nama panggilan Sergey) selalu meminta saya untuk membawakan spesimen unik dari berbagai negara yang kebetulan saya kunjungi. Saya menyampaikan permintaannya kepada pengawal saya, dan mereka tentu saja meneruskannya kepada para pengawal negara tuan rumah.”

Selama di Indonesia, Sergey, yang menemani Khrushchev dalam kunjungan itu, dan pengawal-pengawal Indonesia mengejar kupu-kupu bersama-sama. Kupu-kupu sulit ditangkap, kata Khrushchev. “Dan bahkan lebih sulit untuk mengawetkannya dengan benar. Untuk melakukannya, memang perlu pengalaman dan pengetahuan, tetapi Sergey puas.”

Ketika Sukarno mengetahui bahwa Sergey mengoleksi kupu-kupu, ia ikut mengejar dan mencoba menangkap mereka. “Mereka berdua tertawa sepanjang waktu. Dia (Sukarno) adalah pria yang ceria yang tahu cara bercanda. Ketika orang-orang mendengar bahwa sang presiden sedang mengejar kupu-kupu untuk anak Khrushchev, mereka pun mulai tertawa.”

‘Blusukan’ Gabungan

Sukarno kemudian mengajak Khrushchev berjalan-jalan. “Ayo kita pergi naik mobil. Anda dapat melihat bagaimana rakyat kami tinggal di kota-kota kecil dan beberapa kebiasaan tradisional kami,” kata Sukarno.

Khrushchev setuju. Meski begitu, ia menunggu lumayan lama. Padahal, waktu yang ditetapkan Sukarno sudah lama berlalu. “Akhirnya dia datang dan kami memulai perjalanan kami. Selama perjalanan, saya baru mengerti alasan keterlambatannya. Ternyata, Sukarno menginginkan banyak orang berkerumun di luar. Karena itu, perjalanan diundur, sementara orang-orangnya Sukarno mengumpulkan massa,” kata Khrushchev.

Namun, Khrushchev merasa sangat tidak nyaman dengan ini. “Itu menjengkelkan saya, tetapi saya sendiri juga korban tradisi,” kata Khrushchev dalam memoarnya. Di Indonesia, mengumpulkan massa lebih sulit. Mereka tak memiliki keteraturan dan kedisiplinan sebagaimana yang negara kita kembangkan.

Sukarno ingin menunjukkan pada Khrushchev bahwa semua orang menyambut mereka. “Apakah dia bermaksud menunjukkan bagaimana rakyatnya menyambut perwakilan dari tanah Soviet, Khrushchev? Saya pikir, dia hanya ingin menunjukkan pada saya bagaimana orang-orang keluar untuk menyambut Presiden Indonesia, Sukarno.”

Saat keduanya melewati rute yang telah ditentukan, tampak kerumunan massa yang tak terlalu banyak. Di beberapa tempat, misalnya, para guru membawa siswa-siswanya keluar. Kumpulan massa hanya terlihat di desa-desa, bukan di jalan-jalan raya. Khrushchev tak ingin menghina Sukarno, tetapi ia merasa berterima kasih kepadanya sekalipun jumlah orang yang menyambut mereka tak sebanyak yang diharapkan.

Selama perjalanan itu, mereka tak keluar dari mobil. Khrushchev melihat pemandangan desa-desa di Indonesia hanya dari jendela mobil. Menurutnya, rumah-rumah warga tampak seperti lumbung atau gubuk yang terbuat dari bambu. Lantainya pun terbuat dari bambu. Sementara, orang-orang mengenakan kain tipis yang dijahit seadanya. Kain itu hanya dipakai di bawah pinggang, sedangkan tubuh bagian atas dibiarkan terbuka. “Mereka semua bertelanjang dada. Itu adalah pemandangan yang sangat tidak menyenangkan dan tidak menarik,” ujar Khrushchev. Pada saat yang sama, para perempuan tampak berdiri sambil menyusui anak-anak mereka.

Secara umum, kondisi pedesaan memberi kesan yang menyedihkan pada Khrushchev. Ia sadar bahwa rakyat Indonesia kala itu hidup di bawah garis kemiskinan. Pakaian mereka sangat buruk, begitu pula dengan tempat tinggal mereka. Satu-satunya yang menyelamatkan mereka, menurut Khrushchev, adalah cuaca yang hangat karena mereka sangat membutuhkan atap untuk melindungi mereka hujan dan teriknya sinar matahari.

Pesona Gadis-Gadis Cantik

Sukarno dan Khrushchev kemudian pergi ke sebuah kota kecil. Mereka berhenti di sebuah gedung dengan teras yang sangat luas. Deretan kursi telah disiapkan, sementara orang-orang sudah diberi tahu di mana mereka harus duduk. Presiden Indonesia dan pemimpin Soviet duduk di tempat yang telah disiapkan.

Ternyata, mereka hendak melihat semacam prosesi, kata Khrushchev. “Ini adalah upacara atau adat istiadat yang tampaknya hanya ada di Indonesia. Upacara ini menggambarkan perjalanan hidup seseorang dari lahir hingga mati,” kenang sang pemimpin Soviet.

Prosesi itu diiringi oleh para pemain musik. Ketika beberapa gadis muda yang cantik melintas, Sukarno tersenyum dan bertanya pada Khrushchev, “Mana dari mereka yang paling Anda sukai?”

Khrushchev menjawab, “Oh, saya suka mereka semua. Mereka semua adalah gadis-gadis muda yang cantik dan berpakaian menarik.”

Sukarno kurang puas dengan jawaban Khrushchev. “Tidak, bagaimana dengan yang itu? Mungkin Anda menyukai yang satu itu?” kata Sukarno menunjuk salah seorang dari mereka.

Berusaha mengakhiri pembicaraan itu, Khrushchev menjawab, “Kalau Anda suka yang satu itu, saya juga suka, tapi yang lainnya pun saya suka.”

Meski begitu, Sukarno terus membahas penampilan gadis-gadis muda itu yang tampaknya menyenangkan hatinya, tulis Khrushchev.

Khrushchev dan Sukarno menghabiskan dua hari di Bogor sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Di tengah Perang Dingin, Indonesia muncul sebagai “Macan Asia”. Karisma Presiden Sukarno mengalihkan perhatian dunia pada sebuah negara kepulauan yang belum lama merdeka. Bagaimana presiden pertama Indonesia berhasil merebut hati Uni Soviet? Ikuti kisah selanjutnya! >>>

Artikel ini diterjemahkan dan diolah dari buku “Memoirs of Nikita Khrushchev. Volume 3, Statesman (1953 – 1964)”, seri ketiga dan terakhir dari satu-satunya memoar berbahasa Inggris terlengkap Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki