Seniman Rusia yang Tempatkan Bali di Peta Dunia

Walter Spies.

Walter Spies.

Tropen Museum
Walter Spies, seorang pelukis aliran primitivisme, yang lahir dan dibesarkan di Moskow, merupakan figur terkemuka di Ubud, Bali, dan berjasa menarik perhatian para tokoh budaya Barat pada seni dan budaya Bali di tahun 1930-an.

Ubud, sebuah kota kecil berpenduduk 30 ribu jiwa yang terletak di tengah kaki bukit di Pulau Bali, merupakan magnet bagi para penulis dan seniman. Kota dengan budaya Hindu Bali yang unik serta arsitektur yang khas, desa-desa yang mengelilinginya, dan terkenal akan ketenangan serta sawah padinya, sangat mudah menginspirasi para seniman.

Baik Ubud maupun Bali dulunya tak terlalu terkenal di Barat, hingga pada 1920-an, saat seorang seniman misterius kelahiran Moskow pindah ke pulau tersebut. Walter Spies, yang lahir pada 1895, merupakan putra jenderal konsul Jerman di Moskow.

“Keluarga Spies, sama seperti keluarga Brynners, pindah ke Rusia pada abad ke-19 untuk mengadu nasib,” tutur Alexei Dudnik, seorang sejarawan sekaligus penulis yang sempat mengunjungi Bali untuk ambil bagian dalam Ubud Writer’s Festival. “Walter Spies merupakan warga generasi ketiga dari Kekaisaran Rusia, fasih berbahasa Rusia dan Jerman.”

Dudnik menuturkan, Walter Spies sekolah di Dresden, tapi ia menghabiskan musim panasnya saat remaja bersama keluarganya di Moskow dan Ural. “Spies memiliki jiwa Rusia, karena lama berada di Rusia,” terangnya.

Sumber: Walter SpiesSumber: Walter SpiesSpies pindah ke Jerman saat pecah Perang Dunia I dan pada 1930-an ia menyatakan dirinya sebagai pelukis aliran primitivisme. Ia kemudian berpetualang ke timur dan berakhir di Hindia Belanda, pindah ke Ubud pada 1925, setelah sebelumnya sempat tinggal di Yogyakarta.

“Spies merupakan bapak gerakan seni modern di Bali,” kata Nyoman Krisna, seorang seniman Bali. “Seniman tradisional hanya melukis tema-tema religius dan hanya menggunakan merah, putih, dan hitam,” tambahnya. “Spies mulai melukis gambar dari kehidupan sehari-hari dan lanskap pedesaan.”

Pada 1934, Spies, bersama pelukis Belanda Rudolf Bonnet dan Raja dari Putra Sukawati membentuk Komunitas Pita Maha, yang mentransformasikan kesenian Bali. Komunitas tersebut menggelar pameran seni di pulau-pulau di luar Bali. Dalam beberapa tahun, karya seni Bali dikenal hingga Eropa dan pulau tersebut menjadi titik idaman para seniman.

Sumber: Walter SpiesSumber: Walter SpiesKomunitas tersebut beranggotakan berbagai penulis dan seniman hebat, termasuk Charlie Chaplin dan H. G. Wells. Spies juga berteman dengan peraih Nobel dari India Rabindranath Tagore, yang mengunjungi Ubud pada 1927.

Teman dekat Spies lainnya yang juga merupakan penulis adalah novelis Austria Vicky Baum, yang menulis buku ‘Love and Death in Bali'. Buku ini merupakan novel yang terinspirasi dari intervensi Belanda di Bali pada 1906.

Dalam sebuah jurnal ilmiah di situs Meridian 103, jurnalis kenamaan Rusia Mikhail Tsyganov menuliskan bagaimana Spies mengenalkan wayang dan tari Kecak yang wajib dilihat oleh pengunjung Bali.

Pada akhir 1930-an, Spies menghabiskan masa pensiunnya di desa pegunungan kecil bernama Iseh. Saat pecah Perang Dunia II, Pemerintah Hindia Belanda menahan dan mendeportasi sang seniman, karena ia berasal dari Jerman.

AL Jepang menyerang kapal yang membawanya ke Ceylon. Kru Belanda menelantarkan kapal, namun tak membebaskan para tahanan, meninggalkan mereka mati perlahan-lahan.

Sumber: Walter SpiesSumber: Walter Spies

Tempat Ziarah

Rumah Spies di Iseh merupakan tempat ziarah yang bahkan pernah dikunjungi oleh David Bowie dan Mick Jagger.  

Rumah ini terletak delapan kilometer dari puncak Gunung Agung, gunung berapi tertinggi di Bali, yang dipercaya sebagai tempat keramat para dewa. Banyak penulis dan seniman yang mencari inspirasi di sana, karena kita bisa melihat danau yang tenang sekaligus gunung berapi yang menakjubkan.

Pada 2015, Spies telah terlupakan di Rusia. Namun mengingat sang pelukis lahir dan besar di Rusia, setidaknya Rusia berhak mengklaim sebagian warisannya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.