Membuat Stiker: Cara Kreatif dan Kekinian untuk Raup Keuntungan Lewat Telegram

Ekonomi
AIZHAN KAZAK
Siapa pun dapat membuat stiker di aplikasi Telegram. Kalau stiker-stiker itu menjadi populer, Anda bisa memperoleh $80 per stiker dengan mudah. Kami berbicara kepada dua desainer grafis Rusia yang karya-karyanya mendapat pengakuan di antara banyak seniman lain.

Konstantin Brilevsky tengah menempuh studi arsitektur ketika ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tampaknya, dia memang tak mau menjadi arsitek. Selama beberapa tahun, ia bekerja sebagai pekerja lepas desainer grafis dan situs web hingga akhirnya meluncurkan serangkaian proyek ilustrasi. Untuk mengasah kreativitasnya, Brilevsky membuat sebuah grup di situs jejaring sosial Rusia, VK. Di sana, ia membagikan karya-karya seninya dengan tokoh utama seekor kungkang malas dan menamainya “Svabodny ot Zabot” (Bebas dari Kekhawatiran).

Ketika anggota grup itu semakin banyak, mereka memintanya supaya membuat stiker untuk Telegram, sebuah aplikasi layanan pengirim pesan instan multiplatform, kata Brilevsky pada Russia Beyond. Dia lantas mengikuti permintaan penggemarnya dan tiba-tiba “mendapatkan respons yang luar biasa.”

“Saya punya sekitar 16 ribu pengikut di VK ketika lebih dari 200 ribu orang mengunduh paket stiker yang saya buat untuk Telegram. Karena orang-orang menggunakan stiker untuk berkomunikasi, mereka dengan cepat menjadi viral,” katanya menjelaskan.

Di sisi lain, Katya Zubkova telah mengerjakan proyek desain grafis selama 16 tahun. Karakter kucing buatannya telah lama ia ciptakan “jauh sebelum Telegram atau bahkan iPhone mucul,” katanya kepada Russia Beyond.

Meski karakter kucingnya sudah lebih dulu populer sebelum menjadi stiker Telegram dan dia sudah memiliki dua pameran di Balai Pameran Proyek Loteng Sankt Peterburg, “stiker menjadi semacam kampanye iklan untuk proyek ‘Kucing Imajinerku’ yang membuat saya bahagia,” katanya.

Karakter-karakter buatan Zubkova juga dapat juga ditemukan pada kartu-kartu pos dan aneka magnet di berbagai toko buku dan suvenir di Sankt Peterburg. Stiker Telegram “pasti memengaruhi tingkat penjualan,” katanya menambahkan.

Kreasi Sederhana

Tak seperti aplikasi layanan pengirim pesan instan lainnya yang memiliki fitur stiker, Telegram memiliki komunitas terbuka untuk para kretor. Artinya, setiap pengguna dapat membuat stikernya sendiri.

Membuat stiker di Telegram terbilang mudah. Aplikasi ini memiliki bot khusus yang membantu menambahkan stiker-stiker baru ke dalam basis data dan menyederhanakan prosesnya. Dengan begitu, setiap paket stiker dapat diubah kapan pun.

Dalam setahun, Brilevsky menjadi kreator beberapa paket stiker untuk Telegram. Inspirasinya berasal dari meme, buku, film, dan aneka karya seni. Salah satu kreasi terbarunya, Lazy Panda, juga bertemakan “kemalasan” seperti “Svabodny ot Zabot”, tetapi menggunakan bahasa Inggris dan telah diunduh oleh 1,5 juta pengguna, tulis Brilevsky pada laman VK-nya.

“Kadang-kadang, saya mendapatkan pesanan paket stiker baru, kemudian saya memperkenalkan karakter baru yang biasanya terhubung dengan tema tertentu,” kata Brilevsky. Saat kami mewawancarainya, Brilevsky mengaku hendak membuat paket stiker dengan tokoh baru, yaitu seekor lumba-lumba pintar.

Sementara itu, Zubkova menggunakan metode yang sedikit berbeda. Tujuan utama stiker kucingnya adalah untuk “menggambarkan suasana hati, pikiran, ide, dan atmosfer kota Sankt Peterburg dan orang-orangnya.”

“Meski menggambar (stiker) cukup mudah, tak mudah untuk menemukan kata-kata yang tidak akan menggambarkan kota ini dalam stereotip tertentu. Saya bisa memikirkan stiker yang mewakili suasana Sankt Peterburg selama berminggu-minggu,” katanya.

Saat itu, Zubkova sedang mengerjakan paket stiker baru bernama “The Art of Whine”. “Ini akan menjadi seperti ‘The Art of Life’, tetapi dengan gaya Sankt Peterburg,” katanya kepada Russia Beyond.

Baik Zubkova maupun Brilevsky sama-sama percaya bahwa Telegram bisa menjadi batu loncatan bagi para ilustrator dan desainer yang bercita-cita tinggi. Namun, “ada jutaan stiker di Telegram,” kata Brilevsky, seraya menambahkan bahwa hanya “(stiker) yang paling keren dan menonjol yang akan menarik perhatian.” Ini terutama terjadi “kalau seorang (kreator) memiliki karakter yang orisinal dan unik,” kata Zubkova.

Pameran Gratis

Walau Zubkova sudah dikenal berkat proyek “Kucing Imajinerku”, dia mengatakan bahwa stikernya di Telegram berkontribusi dalam meningkatkan “popularitas tokoh kucingnya di luar aplikasi pengirim pesan itu.”

Zubkova memiliki proyek kerja sama dengan grup Mail.ru, sebuah perusahaan internet raksasa di Rusia, yang ditujukan untuk Hari Anak-Anak. Selain pada suvenir, tokoh kucingnya ternyata juga muncul di beberapa reklame di kafe Ukrop Sankt Peterburg.

Sementara, Brilevsky sempat beberapa kali menjadi pembicara di berbagai festival digital di Sankt Peterburg dan Moskow. Selama acara-acara itu, ia menjual aneka suvenir “Svabodny ot Zabot” dan bakan berkolaborasi dengan pabrik pembuatan bir setempat. Dia mengaku akan terus membuat stiker karena “merasa proyeknya itu masih belum berkembang sepenuhnya.”

Zubkova menyimpulkan bahwa stiker Telegram dapat “memamerkan karya seni si kreator ke khalayak yang lebih luas tanpa investasi finansial apa pun.” Apalagi, “(membuat stiker) sangat menyenangkan,” katanya.

Berapa Pendapatan Kreator Stiker?

Menurut Direktur Kreatif Telegram Andrey Yakovenko, lebih dari 50 seniman Telegram telah mendapatkan total 450 ribu dolar AS selama musim semi dan musim panas 2016.

Setiap stiker dihargai mulai dari $80, sementara si kreator juga bisa mendapatkan pemasukan lebih, tergantung dari popularitas stiker mereka, kata Yakovenko dalam sebuah wawancara dengan proyek media startup Rusia.

Telegram diluncurkan pada 2013 oleh dua bersaudara Nikolai dan Pavel Durov, yang sebelumnya dikenal sebagai pendiri jejaring sosial terbesar di Rusia, VK.

Aplikasi ini mendapat banyak pujian karena keamanannya, kemungkinan untuk membangun klien Telegram oleh pengembang mana pun, tak ada persyaratan ruang atau memori, dan saluran-salurannya yang digunakan sebagai platform blog.

Meski begitu, pemerintah Indonesia melalui Kemkominfo sempat memblokir Sistem Penamaan Domain (DNS) Telegram pada 14 Juli 2017. Langkah itu diambil karena Telegram dinilai memuat banyak propaganda, radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Meski begitu, Telegram kini sudah dapat diakses kembali oleh masyarakat Indonesia.

Pada Maret 2018, Telegram memiliki 200 juta pengguna aktif bulanan.

VKontakte berhasil menaklukkan pasar media sosial berbahasa Rusia dalam waktu singkat sejak pertama kali diluncurkan pada 2006 lalu. Apa rahasia di balik kesuksesan ‘Facebook Rusia’ ini?