Ada Berapa Kelompok Etnis di Rusia?

Discover Russia
YEKATERINA SINELSCHIKOVA
Seperti Indonesia, Rusia adalah negara multietnis. Namun, ada berapa kelompok etnis yang tinggal di Rusia dan siapa mereka sebenarnya adalah pertanyaan yang bahkan tak dapat dijawab secara pasti oleh penduduk negara itu.

Jutaan orang di Rusia menyebut diri mereka warga Rusia (dalam bahasa Rusia: rossiyanin), dan memang begitulah faktanya. Namun, seorang warga Rusia belum tentu mengidentifikasi dirinya sebagai seorang (beretnis) Rusia (dalam bahasa Rusia: russky). Rossiyanin adalah masalah identitas kewarganegaraan. Namun soal identifikasi etnis, itu jauh lebih rumit.

Menurut sensus penduduk tahun 2010, ada 193 kelompok etnis yang tinggal di Rusia. Kedengarannya sangat banyak, bukan? Namun, Rusia bahkan tidak termasuk dalam daftar 50 negara teratas dengan tingkat keragaman etnis yang tinggi. Negara ini malah dianggap cukup homogen dalam hal rasio etnis minoritas per kapita (20 negara paling majemuk di dunia semuanya terletak di Afrika). Dari 137 juta jiwa yang mengidentifikasi kesukuannya pada saat sensus 2010 lalu (total populasi Rusia saat itu mencapai 143 juta), 80,1 persen di antaranya adalah etnis Rusia dan sisanya etnis lain (19,1 persen).

Namun demikian, hampir 200 kelompok etnis minoritas dan masyarakat yang termasuk dalam persentase itu menganggap Rusia sebagai rumah mereka, dan itu terbilang banyak. Berikut adalah tujuh kelompok etnis terbesar di Rusia:

Bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain?

Banyak dari kelompok etnis ini merasakan otonomi tertentu karena, pada awal pendirian Uni Soviet, sejumlah upaya dilakukan demi mendirikan republik-republik dan wilayah-wilayah berbasis etnis. Karena itulah, bagi kelompok etnis tertentu, pelestarian budaya, tradisi, dan bahasa mereka sama sekali bukan masalah. Saat ini, daerah tempat mereka tinggal sangat berbeda dari daerah-daerah lain di Rusia karena ciri khas budaya lokal mereka.

Misalnya, kelima kota Rusia ini tidak seperti kota-kota lain di Rusia: Ada kota yang sama sekali melarang alkohol, ada kota yang penuh dengan wihara kuno, dan ada pula kota dan wilayah yang bahasa daerahnya diakui sebagai bahasa resmi sebagaimana bahasa Rusia.

Daerah-daerah semacam ini awalnya diperkenalkan oleh kebijakan kaum Bolshevik, yang banyak berperan dalam mensponsori dan mendukung kelompok-kelompok etnis, menurut akademisi dan etnolog Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia Valery Tishkov.

“Gagasan identitas etnis awalnya merupakan bagian dari sensus Soviet pada 1926. Dua deklarasi paling awal yang dicetuskan otoritas Soviet adalah deklarasi tentang hak-hak pekerja dan deklarasi tentang hak-hak masyarakat etnis yang diikuti slogan ‘kesetaraan bangsa, suku, dan kelompok etnografis’,” kata Tishkov. Konsep seperti “bangsa tertindas” dan “bangsa penguasa” diperkenalkan pada waktu itu, dan etnis Rusia masuk dalam kategori yang terakhir. Deklarasi kesetaraan inilah, dalam pandangan Tishkov, yang dalam beberapa hal mengamankan dukungan bagi kaum Bolshevik, khususnya di antara kelompok-kelompok etnis minoritas.

Namun, beberapa dasawarsa kemudian, otoritas Soviet justru menganggap daerah-daerah otonom berbasis etnis sebagai ancaman terhadap kekuasaan mereka. Mengapa Stalin kemudian memaksa relokasi kelompok-kelompok etnis secara paksa dapat Anda baca lebih lanjut di sini.

Siapa yang kurang beruntung?

Saat ini, 47 kelompok etnis secara resmi diakui sebagai kelompok etnis kecil asli Rusia. Kelompok-kelompok tersebut termasuk orang-orang Ket, Aleut, Itelmen, Nenets, dan lain-lain. Keberadaan mereka dilindungi oleh hukum karena memenuhi kriteria sebagai berikut: populasi mereka kurang dari 50.000 orang, mereka tinggal di tanah nenek moyang mereka, mereka mempertahankan gaya hidup tradisional mereka, dan menganggap diri mereka sebagai etnis yang terpisah.

Sementara itu, kelompok-kelompok etnis tertentu masih menunggu untuk dimasukkan ke dalam daftar tersebut (baca selengkapnya di sini), dan ada juga yang dikeluarkan dari daftar etnis minoritas karena populasinya yang besar seperti orang-orang Yakut, Buryat, Komi, dan Khaka. Mereka semua memiliki otonomi daerah, tetapi mereka tidak dapat menuntut subsidi atau perlindungan khusus dari negara.

Orang-orang Udmurt dengan bangga menyebut diri mereka pencinta damai, tetapi merekalah yang merakit Kalashnikov.