Jalan Penuh Lembah dan Memutar Maria Sharapova

Reuters
Petenis Rusia Maria Sharapova baru saja pensiun dari olahraga yang selama 28 tahun telah menjadi bagian dari hidupnya. Berikut tapak tilas yang memperlihatkan perubahan sang bintang, masalah-masalah yang menjegal kariernya, dan perjuangan yang telah ia lalui sebelum akhirnya menarik diri dari kancah pertenisan dunia.

"Bagaimana Anda meninggalkan satu-satunya kehidupan yang pernah Anda kenal? Bagaimana Anda meninggalkan lapangan yang telah melatih Anda sejak Anda masih kecil, permainan yang Anda cintai — yang memberikan anda tangis dan kegembiraan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, olahraga yang memberikan Anda keluarga, serta penggemar yang berkumpul di belakang Anda selama lebih dari 28 tahun? Saya baru dalam hal ini. Jadi, tolong maafkan saya! Tenis, saya ucapkan selamat tinggal," ujar Maria Sharapova mengawali pengumuman pengunduran dirinya pada situs Vogue dan Vanity Fair, Rabu (26/2).

Disamping faktor usia, cedera bahu yang ia alami sejak 2007 menjadi penyebab mengapa salah satu petenis top dunia itu memutuskan angkat kaki dari lapangan yang telah ia injak sejak masih berusia 4 tahun.

Masha (nama panggilan Maria) dilahirkan di kota kecil di Siberia bernama Nyagan. Keluarganya pindah ke sana dari Kota Gomel, Belarus, beberapa bulan sebelum kelahirannya. Masha kecil melihat lapangan tenis pertama kali ketika menonton sang ayah, Yuri Sharapov, bermain tenis di Sochi.

"Saat itu saya berusia 4 tahun di Sochi, Rusia. Saking kecilnya, kaki mungil saya menggantung di bangku yang saya duduki. Begitu kecilnya, raket yang saya angkat di samping saya berukuran dua kali lipat tubuh saya," kenang Sharapova.

Pada tahun yang sama, ia mulai mempelajari tenis dan dua tahun kemudian berkesempatan menghadapi petenis nomor satu dunia Martina Navratilova dalam sebuah reli (serangkaian tembakan antara dua pemain) pada peragaan pelajaran tenis di Moskow. Menyadari bakat yang dimiliki sang anak, Navratilova menyarankan agar keluarga Sharapova mengirim sang anak untuk belajar tenis di Amerika Serikat (AS).

Sharapova di Indian Wells, California, AS.

Tak ingin menyia-nyiakan bakat putrinya, sang ayah mengikuti saran Navratilova dan nekat memboyong Sharapova ke AS pada 1995 dengan hanya mengantongi US$700, dan tanpa kemampuan berbahasa Inggris sama sekali. Namun, hanya ia dan ayahnya yang pergi, sementara keluarganya yang lain tetap tinggal di Siberia. Masha pun akhirnya dimasukkan ke Akademi Tenis Nick Bolletieri di Florida. Yuri dan Maria awalnya tinggal di hostel dan harus mencekik leher mereka sendiri untuk berhemat. Karena tak bisa berbahasa Inggris, Yuri kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan untuk beberapa waktu.

Maria Sharpova berpose untuk iklan jam tangan TAG Heuer di Pantai Malibu.

Maria menandatangani kontrak iklan pertamanya dengan Nike pada usianya yang kesebelas, dan memainkan turnamen remaja pertamanya pada usia 13 tahun. Pada 2010, Nike mengontraknya selama delapan tahun dengan nilai US$70 juta.

Maria Sharapova berpelukan dengan ayahnya Yuri Sharapov setelah mengalahkan Serena Williams di final turnamen Tunggal Putri pada Kejuaraan Tenis Rumput di Wimbledon.

Pada 2004, Sharapova yang berusia 17 tahun menjadi terkenal setelah berhasil menundukkan Serena Williams dalam perebutan juara Wimbledon, turnamen Grand Slam paling bergengsi. Setelah itu, ia menjadi pemain wanita papan atas Rusia yang tak tersentuh selama bertahun-tahun.

Maria menjadi petenis nomor satu dunia pada 2005 dan mengantarkannya pada semua sponsor utama. Setahun kemudian, ia resmi diangkat sebagai duta merek Porsche.

Maria Sharapova berpose seusai menyumbangkan uang senilai Porsche yang dimenangkannya pada Kejuaraan Tur WTA 2004 untuk amal selama berlangsungnya turnamen Australia Terbuka di Melbourne Park.

Kekecewaan pertamanya terjadi pada 2007, saat mengalami cedera bahu untuk pertama kalinya. "Awalnya itu bukan apa-apa — bahu saya sakit ketika melakukan servis. Namun, itu semakin memburuk," tulisnya dalam otobiografinya. Dokternya mendiagnosis bahwa tendonnya (jaringan tebal yang berfungsi menempelkan otot ke tulang) pecah dan membutuhkan operasi darurat.

 Sharapova saat mengikuti konferensi pers setelah kekalahannya dalam pertandingan terakhir melawan Serena Williams pada 2007.

Pulih dari operasi, Maria melanjutkan karir tenisnya. Namun, ia masih harus menanggung rasa sakit yang masih bersarang di bahunya. Di samping tenis, ia juga terlibat pekerjaan amal. Dengan dukungan PBB, ia menyumbangkan uang pribadinya untuk mendukung para korban bencana Cernobyl dan keluarga mereka.

Associate Adminsistrator UNDP, Ad Melkert, menerima cek dari Maria Sharapova pada konferensi pers di mana ia ditunjuk sebagai Duta Persahabatan UNDP di PBB pada 14 Februari, 2007.

Nama Sharapova telah menjelma menjadi sebuah merek tersendiri. Ia meluncurkan sejumlah permen dan aksesoris premium 'Surgapova' dengan sentuhan personal. "Ketika saya harus istirahat (karena cedera), saya tersadar: "Masha, kamu telah bermain tenis selama bertahun-tanun, tetapi kamu haru memikirkan hal lain," ujar Sharapova dalam sebuah wawancara dengan koran Rusia, Vedomosti.

Saat itulah ia bertemu dengan pemain basket Slovenia Sasha Vujacic. Mereka sempat bertunangan, sebelum akhirnya berpisah pada 2012. Setelah itu, Sharapova menjalin hubungan dengan petenis Bulgaria Grigor Dimitrov, mantan kekasih Serena Williams. Namun, hugungan itu juga kandas pada 2015.

Pukulan besar kedua menghantam karirnya ketika terjerat skandal doping pada 2016. Menurutnya, dia tidak memperhatikan bahwa meldonium yang terkandung dalam obat mildronat yang telah ia konsumsi bertahun-tahun melalui konsep dokter, telah dikategorikan sebagai zat terlarang oleh World Anti-Doping Agency (WADA) sejak 1 Januari 2016. Federasi Tenis Internasional (ITF) menjatuhinya skors selama 15 bulan (dari awalnya dua tahun). Namun ia tak menyia-nyiakan waktunya dan memanfaatkan untuk berkuliah di Harvard Business Shool.

Maria Sharapova berbicara pada konferensi pers di pusat kota Los Angeles, California, 7 Maret, 2016.

Sekembalinya ke lapangan,ia berhasil memenangkan turnamen Tianjin Terbuka 2017 dan berganti pelatih. Namun, tak ada kemenangan besar yang diraihnya. Pada laga terakhirnya pada 21 Januari lalu, ia tersingkir pada babak pertama Australia Terbuka, yang merupakan turnamen Grand Slam pertama tahun ini. Kegagalan itu otomatis akan mengeluarkannya dari daftar 350 pemain tenis terbaik di dunia.

Maria Sharapova saat akan menjalani pertandingan putaran pertamanya di turnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka 2020 melawan Donna Vekic dari Kroasia.

"Melihat ke belakang sekarang, saya menyadari bahwa tenis telah menjadi gunung saya. Jalan yang saya lalui dipenuhi dengan lembah dan jalan memutar, tetapi pemandangan dari puncaknya sangat luar biasa. Namun, setelah 28 tahun dan lima gelar Grand Slam, saya siap untuk mendaki gunung lain untuk bersaing di berbagai jenis medan," ujar Maria pada pengumuman pengunduran dirinya.

Maria Sharapova terlihat di luar pertunjukan Vera Wang pada acara New York Fashion Week pada 11 Februari 2020 di New York.

Pada masa pensiunnya, Forbes melaporkan bahwa atlet wanita berbayaran tertinggi selama sebelas tahun terakhir itu telah mengantongi penghasilan US$325 juta, baik dari hadiah uang, endorsement, dan penghasilan lainnya. 

Maria Sharapova dan Alexander Gilkes tiba di Pesta Oscar ' Vanity Fair' 2020.

Sharapova dan empat atlet berikut ini telah menghasilkan jutaan dolar dengan menjadi yang terbaik dalam bidang olahraga yang mereka tekuni. Inilah lima atlet terkaya dan paling terkenal dari Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki