Gantung Raket, Maria Sharapova Ucapkan Selamat Tinggal pada Tenis

Maria Sharapova dalam konferensi pers di California, Amerika Serikat, 2016.

Maria Sharapova dalam konferensi pers di California, Amerika Serikat, 2016.

AP
Setelah 28 tahun menggeluti olahraga tenis dan lima kali memenangkan turnamen Grand Slam, Maria Sharapova resmi mengundurkan diri.

"Tenis, saya ucapkan selamat tinggal!" ujar Maria Sharapova dalam pengumuman pengunduran diri berbentuk esai yang ia tulis secara ekslusif untuk Vogue dan Vanity Fair. Kedua media merilis tulisan sang atlet berusia 32 tahun itu pada Rabu (26/2).

Petenis Rusia kelahiran Nyagan, kota kecil di Siberia itu mengawali tulisannya dengan rentetan pertanyaan: "Bagaimana Anda meninggalkan satu-satunya kehidupan yang pernah Anda kenal? Bagaimana Anda meninggalkan lapangan yang telah melatih Anda sejak Anda masih kecil, permainan yang Anda cintai yang memberikan anda tangis dan kegembiraan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, olahraga yang memberikan Anda keluarga, serta penggemar yang berkumpul di belakang Anda selama lebih dari 28 tahun?"

Semua itu adalah hal baru baginya. Ia pun meminta maaf, sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada tenis, olahraga yang telah menemani hampir sepanjang hidupnya. 

Petenis Rusia itu memulai debutnya pada turnamen dewasa yang diselenggarakan oleh Federasi Tenis Internasional (ITF), saat masih berusia 14 tahun pada 2001. Selama 2004 – 2014, salah satu petenis top dunia itu berhasil memenangkan lima turnamen Grand Slam (Australia Terbuka, Prancis Terbuka, AS Terbuka, dan Wimbledon) dan menyabet medali perak pada Olimpiade London 2012.

Salah satu atlet perempuan terkaya dalam sejarah itu pernah terjerat skandal doping pada 2016. Namun, menurut pernyataanya pada konferensi pers di Amerika saat itu, dia tidak memperhatikan bahwa meldonium yang terkandung dalam obat mildronat yang telah ia konsumsi bertahun-tahun melalui konsep dokter, telah dikategorikan sebagai zat terlarang oleh World Anti-Doping Agency (WADA) sejak 1 Januari 2016.

Pengadilan Arbitrasi Olahraga (CAS) juga mengakui bahwa Maria belum menerima peringatan apa pun mengenai perubahan status meldonium dari ITF, WADA, maupun Asosiasi Tenis Wanita (WTA). Hasilnya, ITF mengurangi sanksi larangan bermain dari awalnya dua tahun menjadi 15 bulan. Sekembalinya ke lapangan, ia berhasil memenangkan turnamen Tianjin Terbuka 2017.

Sejak 2007, ia mengalami masalah bahu yang memaksanya untuk menyerah pada banyak turnamen. Direktur Turnamen WTA Sankt Peterburg Aleksandr Medvedev mengatakan cedera itu kronis.

Tahun ini, Sharapova tersingkir pada babak pertama turnamen Australia Terbuka yang berarti akan mengeluarkannya dari daftar 350 pemain tenis terbaik di dunia.

Pengorbanan dan Kunci Sukses

Maria Sharapova berpose dengan trofinya di depan menara Eiffel, Paris, sehari setelah memenangkan pertandingan final tunggal putri dalam turnamen tenis Prancis Terbuka, Paris, 8 Juni 2014.

Maria mengenal tenis dari sang ayah, Yuri Sharapov. Ia pertama kali melihat lapangan tenis ketika menyaksikan ayahnya bermain di Sochi, Rusia. Saat itu, Maria kecil yang berusia empat tahun, duduk di bangku dengan kaki menggantung menyaksikan sang ayah mengayun raket. Tubuhnya begitu mungil, seukuran setengah dari raket tenis.

Seiring berjalannya waktu, Maria kecil menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Sang ayah pun tak ingin menyia-nyiakan bakat putrinya dan nekat memboyong Sharapova yang masih berusia enam tahun ke Florida, Amerika Serikat (AS). Saat itu, ia hanya mengantongi US$700, dan tanpa kemampuan berbahasa Inggris sama sekali. Yuri berharap, Sharapova dapat bersaing mendapatkan tempat di IMG Academy (lembaga pelatihan dan pendidikan multi olahraga terbesar dan tercanggih di dunia). Sedangkan keluarganya yang lain tetap tinggal di Siberia.

"Ketika saya berusia enam tahun, saya melakukan perjalanan melintasi dunia ke Florida bersama ayah saya. Seluruh dunia tampak seperti raksasa saat itu. Pesawat terbang, bandara, hamparan luas Amerika, semuanya sangat besar, sama seperti pengorbanan orang tua saya," tulis Sharapova.

Kenekatan sang ayah pun membuahkan hasil yang manis. Di usianya yang ke-18, Maria menjadi orang Rusia pertama yang berada di peringkat teratas tunggal WTA. Sejak saat itu, kariernya melejit dan mulai memenangkan gelar demi gelar. Pada akhir Februari 2020, Forbesmelaporkan bahwa atlet wanita berbayaran tertinggi selama sebelas tahun terakhir itu telah mengantongi hadiah uang tunai US$325 juta sepanjang kariernya. 

Menurut Sharapova, salah satu kunci keberhasilannya adalah tidak pernah melihat ke belakang dan ke depan.

"Salah satu kunci kesuksesan saya adalah tidak pernah melihat ke belakang dan ke depan. Saya percaya bahwa jika saya terus mengasah dan mengasah (kemampuan — red), saya bisa mendorong diri saya ke tempat yang luar biasa," tuturnya.

Maria Sharapova begitu dicintai di tanah airnya. Ini dia lima alasannya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki