Sharapova: Semakin Sering Menang, Semakin Tebal Kantong Saya

Maria Sharapova merayakan kemenangannya atas Coco Vandeweghe dari AS di Wimbledon Tennis Championships di London (07/07/2015).

Maria Sharapova merayakan kemenangannya atas Coco Vandeweghe dari AS di Wimbledon Tennis Championships di London (07/07/2015).

Reuters
Maria Sharapova bicara tentang bisnis, uang, kehidupan sehari-harinya, hingga tentang petenis anak-anak.

Tahun 2015 tak membawa terlalu banyak keberuntungan bagi petenis Rusia Maria Sharapova. Kemenangannya pada dua turnamen WTA dan final Australia Open terbilang hasil yang minim untuk petenis bintang sekelas Maria Sharapova. Pada bagian kedua di musim ini, Maria mengalami cedera. Namun, di balik selubung tenis musim ini, ia berhasil menghibur diri sendiri dan para fansnya. Pada Turnamen final WTA di Singapura, Sharapova berhasil mencapai tahap semifinal dan meraih peringkat keempat dunia. Di final Kejuaraan Federasi, ia adalah satu-satunya petenis yang masuk tim nasional Rusia dan bertanding melawan pesaing tangguh dari tim Ceko Petra Kvitova dan Karolina Plishkova. Namun sayangnya upaya Sharapova masih belum cukup: Rusia kalah dengan skor 2-3 atas Ceko.

Tapi selama Maria masih bersinar di lapangan, tentu Maria tak akan menghadapi kendala keuangan. Pada September lalu, majalah Forbes memasukkan nama Sharapova dalam daftar 20 atlet dengan bayaran tertinggi di dunia, kekayaannya mencapai 250 juta dolar AS. Sebagian besar uang tersebut ia dapatkan dari kontrak iklan dan proyek bisnis pribadi. Sharapova membangun kesuksesan material dari hasil pertandingannya di lapangan.

"Ketika mereka menulis tentang saya, mereka selalu menyebutkan berapa banyak uang yang saya peroleh, bagi mereka itu adalah hal yang penting. Namun bagi saya uang bukan hal utama. Tapi saya sadar, semakin sering saya memenangkan pertandingan, semakin penuh pundi-pundi uang saya. Olahraga ini terbilang memberikan bayaran yang tinggi," kata Maria dalam wawancara dengan majalah Vedomosti.

Hanya Memikirkan Tenis

Maria mengaku tak pernah terpikir untuk membangun jaringan bisnis hingga ia berumur 20 tahun. Kala itu, ia mengalami cedera bahu dan harus menjalani operasi. Akibatnya, selama 8-9 bulan ia tidak bisa memegang raket. “Tenis adalah hidup saya. Sejak saya berusia empat tahun, saya bekerja keras hanya untuk tenis dan saya hanya memikirkan tenis. Ketika saya harus berhenti bermain pada periode itu, saya berpikir, ‘Maria, sudah bertahun-tahun kamu selalu memikirkan tenis, kini sudah saatnya kamu mulai memikirkan hal lain’,” kenang Sharapova.

Proyek paling populer dari petenis ini adalah permen bermerek Sugarpova. "Jujur saja, ketika kami memulai proyek ini pada 2012, saya melihat ini sebagai sebuah proyek masa depan. Saat harus hengkang dari dunia tenis, saya harus mampu membangun usaha sendiri. Ternyata minat pasar terus berkembang dan permen ini sekarang dijual di 30 negara."

Anti Baju ‘Kembaran’

Maria Sharapova telah mempromosikan puluhan merek, tetapi kontrak terpanjang yang ia miliki adalah dengan produk Nike, yakni sejak tahun 1998. Selain menjadi model pakaian olahraga, ia juga menciptakan koleksi sendiri. "Pada Wimbledon 2004, di babak keempat, saya berhadapan dengan Daniela Hantuchova, dan kala itu kami menggunakan kostum yang sama. Pada saat itu saya berpikir saya tidak ingin mengenakan kostum yang sama dengan petenis lain. Dan setelah saya memenangkan Wimbledon, saya memiliki lini pakaian sendiri."

Menutup Hari dengan Pijat

Sharapova mengakui bahwa tenis menyita hampir seluruh hidupnya, tapi ia sama sekali tidak menyesali hal itu. "Saya sudah punya jadwal untuk tahun depan. Saat Anda tahu Anda akan menghadapi banyak pertandingan, di setiap turnamen Anda harus menjaga tubuh agar tetap prima. Saya telah lama bergelut dalam olahraga ini, dan saya tahu pasti apa yang harus saya lakukan. Sekarang, berlatih 1,5 jam di lapangan dalam sehari sudah cukup bagi saya, sementara dulu saya butuh berlatih hingga empat jam sehari karena saya masih sulit berkonsentrasi. Pada Desember mendatang, dalam persiapan untuk musim depan, saya akan menjalankan dua sesi latihan dalam sehari dan harus fitness. Saya selalu menutup hari saya di meja pijat pukul delapan malam, dilanjutkan dengan makan malam di rumah. Pagi harinya ketika bangun tidur, saya punya waktu setengah jam untuk minum kopi, mengecek surel dan berangkat ke lapangan."

Gagal Bukan Masalah

Maria tak percaya pada prinsip ‘Ya atau Tidak Sama Sekali’. "Ketika saya masih kecil, saya dan keluarga pergi ke Amerika Serikat agar saya bisa berlatih. Orangtua saya tahu, jika saat itu saya gagal, maka kami akan kembali untuk melanjutkan hidup seperti biasa. Saya tidak khawatir akan hal itu. Saya selau berpikir bahwa banyak orangtua yang memberikan tekanan kepada anak-anak mereka seolah-olah mereka hanya memiliki satu kesempatan, yaitu memenangkan pertandingan tenis. Itu jelas salah. Bahkan jika Anda sangat berbakat sekalipun, ini adalah proses yang sangat panjang, dan untuk menuju tahap itu kita harus mempersiapkan diri. Terkadang kita berhadapan dengan jalan buntu, cepat atau lambat."

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.