Bertelanjang Kaki Naik Kereta: Tren Kekinian atau Gaya Hidup?

Discover Russia
KSENIA ZUBACHEVA
Foto-foto perempuan bertelanjang kaki di metro (kereta bawah tanah) viral di media sosial. Apakah ini sekadar “tren” baru atau semacam falsafah hidup?

Baru-baru ini, sejumlah foto perempuan berjalan tanpa alas kaki di kereta bawah tanah Moskow dan Novosibirsk meramaikan jejaring sosial Rusia. Orang-orang sontak menyebutnya flash mob “Bertelanjang Kaki Naik Kereta Bawah Tanah”.

Warganet Rusia bereaksi cepat terhadap foto-foto itu dan sebagian besar berkomentar negatif. “Kereta bawah tanah sangat kotor, orang-orang bahkan mau memakai sarung tangan, tapi Anda malah bertelanjang kaki?”, “Tumit dekil yang indah!”, “Pernahkah Anda mengecek harga sepatu? Sepertinya tak semua orang mampu membelinya,” begitulah beberapa komentar yang terlontar.

Kantor Humas Metro Novosibirsk bahkan turut menanggapi fenomena ini. Sebetulnya, siapa pun dilarang bertelanjang kaki di kereta bawah tanah sekalipun tak ada denda jika Anda melakukannya.

“Mengabaikan peraturan kesehatan dan keselamatan dapat menyebabkan cedera,” tulis surat kabar Komsomolskaya Pravda mengutip seorang petugas kereta bawah tanah. “Misalnya, naik eskalator tanpa sepatu dapat berisiko cedera akibat bersentuhan dengan anak tangga yang bergerak. Jika lantai basah, Anda berisiko tergelincir, dan jika seseorang yang bersepatu tak sengaja menginjak kaki yang tak terlindungi, itu bisa sangat menyakitkan.”

Namun, aksi tersebut ternyata sama sekali bukan flash mob, melainkan kegemaran beberapa ratus orang di seluruh Rusia yang suka berjalan-jalan keliling kota sambil bertelanjang kaki. Kami mencoba mencari tahu alasannya.

Menyehatkan?

Kaum “barefooter” sendiri mengatakan bahwa bertelanjang kaki ke mana-mana menyenangkan, dan karena itu tak seharusnya dilarang. Evgenia, seorang “barefooter” dari Novosibirsk, mengatakan bahwa berjalan tanpa alas kaki baginya seperti “mengeluarkan penyumbat telinga”. “Saya merasa mendapatkan jauh lebih banyak pengindraan sensorik dengan cara ini. Ini seperti reseptor ekstra pada tubuh saya.”

Para penikmat jalan tanpa alas kaki lainnya sependapat bahwa sepatu justru menahan banyak reaksi alamiah tubuh dan melemahkan lengkungan kaki. Mereka tidak takut bertelanjang kaki bahkan selama musim dingin, dan percaya bahwa praktik semacam itu justru menyehatkan seluruh tubuh.

Jumlah pengikut “gaya hidup” semacam itu memang sulit dihitung, tetapi di seluruh Rusia setidaknya mencapai ratusan. Grup “Novosibirsk Barefooting”, misalnya, memiliki lebih dari 900 pengikut di media sosial VK, dan menurut saluran TV Moskva 24, di ibu kota sendiri terdapat sekitar seratus orang “barefooter”.

Menurut laporan media lain, kaum “barefooter” juga tersebar di Chelyabinsk, Perm, Vladimir, Orenburg, dan Sankt Peterburg.

Menurut Polina Smerch, seorang warga Moskow yang juga mengaku sebagai seorang “barefooter”, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan berjalan keliling kota tanpa sepatu dan kaus kaki. “Yang penting, Anda harus memperhatikan di mana Anda menginjak. Saya menyukai sensasinya (menginjak tanpa alas kaki), masing-masing terasa berbeda. Anda merasa lebih menyatu dengan kota, lebih terbuka.”

Vladimir Nesin, seorang pelancong Rusia berusia 69 tahun, juga lebih suka bepergian tanpa alas kaki. Dia telah bertelanjang kaki di lebih dari 146 negara di seluruh dunia. “Sepatu terasa mengganggu, seperti rantai. Ketika saya berjalan tanpa alas kaki, saya merasa menyatu dengan bumi. Lagi pula, (bertelanjang kaki) itu sangat sehat. Saya baru-baru ini menghitung bahwa dalam 22 tahun terakhir saya telah menempuh jarak 142 ribu kilometer dengan berjalan kaki,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Rossiyskaya Gazeta.

Berbahayakah?

Dokter tentu merasa skeptis. Andrei Tyazhelnikov, seorang spesialis lepas di Departemen Perawatan Kesehatan Utama untuk Orang Dewasa Moskow, percaya bahwa berjalan tanpa alas kaki dapat menyebabkan cedera serius, luka bakar akibat aspal panas, dan infeksi.

“Saat orang-orang sibuk hilir mudik, pasti akan ada seseorang yang menginjak kaki yang tak terlindungi. Ini sangat berbahaya bagi penderita diabetes karena luka pada tungkai bawah membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Masalah lainnya adalah risiko infeksi karena jalan raya penuh kuman. Selain itu, curah hujan yang deras dapat menyebabkan air limbah meluap dari saluran air. Karena itu, berjalan tanpa alas kaki di kota sama sekali tidak dianjurkan,” katanya.

Meski begitu, berjalan tanpa alas kaki di atas pasir dan rumput bisa sangat bermanfaat. Ini melatih otot-otot kaki dan merangsang saraf dan pembuluh darah, serta bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Di negara mana pun, pasti ada topik-topik sensitif yang sebaiknya tak dibahas, kecuali Anda ingin memicu pertengkaran. Inilah delapan topik yang sebaiknya tak Anda bahas dengan orang Rusia.