Menelusuri Jejak Kelahiran Rock and Roll di Rusia

Neuromonakh Feofan.

Alexander Ryumin
Kelahiran musik rock and roll di Rusia memiliki sejarah yang panjang. Dari bunker bom di Kota Yekaterinburg, musik keras ini lahir, tumbuh menjadi ideologi dan besar di bisnis pertunjukan Rusia.

Di pusat kota Yekaterinburg, tepatnya di Clara Zetkin Ulitsa, di belakang pintu besi yang tidak mencolok, disitulah terletak legenda kota — bunker Marsekal Georgy Zhukov. Biasanya, tempat perlindungan bom tua dijadikan museum, tapi yang satu ini disulap menjadi studio rekaman. Sang direktur adalah sosok legendaris di Ural: Aleksandr Pantykin “kakek musik rock Sverdlovsk,” seperti yang dikenal dengan hormat di ini.

Aleksandr Pantykin.

Pantykin mengaku dia bersama musisi lainnya memainkan alat musik mereka di sebuah lokasi dengan kedalaman 25 meter.  Harapannya, agar tidak ada yang terganggu dengan suara alat musik yang dimainkan. Sebelumnya mereka berkarya di sebuah studio di kota. Namun, ternyata sebagian orang merasa terganggu dengan aliran musik itu.

"Masyarakat mengadu kepada polisi tentang kami karena suara gelegar luar biasa itu" tuturnya. Hingga akhirnya mereka mencari tempat baru untuk berlatih memainkan musik Rock. Mereka kemudian menemukan bunker itu dan menjadikan tempat tersebut untuk memulai berkarya. "Di bunkernya,  kita bisa bertahan hidup dari apa pun, bahkan ledakan nuklir. Semua akan mati, tetapi musik rock, akan tetap hidup," tuturnya sambil bergurau.

Bunker Zhukov di pusat Yekaterinburg. Apakah Anda memperhatikan

Para musisi legendaris rock itu kemudian menggunakan bunker gratis tersebut. Di bunker, mereka telah menyiapkan ruang latihan, studio rekaman dan pengeditan video. Ada juga sebuah ruang di kantor yang memiliki penghargaan untuk berbagai prestasi budaya yang menghiasi dinding. 

Beberapa penghargaan itu adalah Nika (penghargaan film nasional utama Rusia) dan Topeng Emas (penghargaan teater nasional Rusia) (komposer menerimanya untuk produksi musik teater), serta penghargaan untuk kontribusinya terhadap musik rock.

Ruang latihan di bagian paling bawah bunker.

Mengenang kembali masa kejayaannya, pada era 1980-an Pantykin adalah pemimpin Urfin Dzhjus, sebuah band rock kultus, yang sebenarnya menandai awal dari sejarah gerakan rock di Ural.

Dari Ideologi Menjadi Bisnis Pertunjukan

Dahulu, pada era Soviet, kota industri Yekaterinburg (saat itu bernama Sverdlovsk) adalah salah satu ibu kota musik rock, bersama Moskow dan Sankt. Peterburg (saat ini bernama). Band-band seperti Nautilus Pompilius,Chaif, dan Smyslovye Gallyutsinatsii lahir di tempat itu.   Para personelnya adalah anggota klub rock lokal yang diizinkan untuk menggunakan gedung Dom kultury (Rumah Budaya) untuk latihan. Bahkan para personel band rock itu dibantu dengan pakaian dan desain panggung untuk pertunjukan termasuk untuk merekam album mereka. 

Pantykin mengenang, dulu Urfin Dzhjus menerima 5.000 rubel (sekitar Rp1,1 juta) untuk sebuah album. Tentu itu adalah jumlah uang yang sangat besar pada masanya. Nominalnya sebanding dengan biaya mobil Volga. Dia mengakui secara umum, klub rock didirikan untuk menghentikan aktivitas musik ilegal selama itu.

Nautilus Pompilius, saat permulaan.

Di Soviet selama era 1970-an dan 1980-an, di bawah pengaruh musik Barat, banyak band rock semi-underground muncul dan menggelar "konser rumah" di apartemen teman.  Kemudian sejumlah petinggi di situ memutuskan mengambil alih. “ Jika kita tidak bisa menekan gerakan, kita harus mengambil alih itu,” tutur mereka kala itu.

Sejak itu, klub-klub rock resmi didirikan. Seperti Leningrad Rock Club, yang termasuk band-band seperti Zoopark, Secret, dan Kino ; Laboratorium Batu Moskow. Kemudian kelompok-kelompok seperti Mashina Vremeni , Bravo, dan Brigada S; Klub Batu Sverdlovsk, dan lainnya.

Puncaknya, ketika musik rock menjadi resmi, Boris Grebenshchikov dari Aquarium menulis lagu terkenalnya bertajuk ”Rock-n-Roll is Dead“. Lagu itu  tentang genre yang memiliki kelelahan sendiri. Kebetulan, lagu ini juga dikenal dalam terjemahan bahasa Inggrisnya oleh Joanna Stingray, pengagum besar musik rock Soviet yang kemudian menikah dengan Yuri Kasparyan, gitaris Kino. Berkat dialah pada 1986 album "Red Wave" yang direkam oleh musisi Soviet keluar di AS.

Nama-nama seperti Viktor Tsoi dan Boris Grebenshchikov menjadi dikenal oleh penonton negara lain. Namun, setelah Uni Soviet runtuh,  musik rock berubah menjadi bisnis pertunjukan.  Meski demikian, banyak pemain saat itu masih populer sampai sekarang, bahkan di kalangan anak muda.

Tentang Alain Delon dan Sisi Mistik Musik Rock Ural

Penggemar musik Rock n Roll di tanah Rusia ini memiliki pendapat sendiri dengan sejarah genre tersebut. Terutama terhadap musik Ural.

"Pada umumnya, saya selalu menyukai dan lebih suka Sverdlovsk Rock Club: jika di Moskow itu adalah rock and roll yang penuh semangat dan di Sankt Peterburg keputusasaan dan kemurungan, musik Ural memiliki nilai mistik tersendiri yang tidak bisa tidak terlihat menarik ,” kata warga Moskow Daria Sokolova, yang pergi ke Oblast Sverdlovsk untuk melihat tempat kelahiran band rock favoritnya, Agatha Christie, dan mengunjungi museum musik rock. "Sebagai contoh, Nautilus dengan lagu mereka yang berbunyi" Alain Delon tidak minum eau-de-cologne. "Nah, di mana Alain Delon dan di mana Yekaterinburg?"

Aleksandr Pantykin.

"Memang benar, Ural memiliki atmosfer yang istimewa, "kata Pantykin. Menurutnya, wilayah ini adalah tempat kelahiran banyak orang yang memiliki pengaruh kuat pada jalannya sejarah Rusia: Marsekal Georgy Zhukov, Presiden Boris Yeltsin, dan Sutradara Film Alexei Balabanov

Tentu saja, banyak  pula musisi muda berbakat tinggal di sini, meskipun musik yang mereka tampilkan lebih amatir daripada profesional, menunjukkan kurangnya pelatihan yang tepat. 

"Kakek" dari musik rock Ural itu mengenang bahwa di masa lalu negara mendukung anak muda yang ingin bermain musik. Namun, saat ini, jauh lebih sulit bagi mereka untuk lolos ke tahap profesional. 

Meski begitu, dia mengakui, bukan tanpa alasan Yekaterinburg dianggap sebagai ibukota musik Rusia: di sinilah salah satu festival rock paling terkenal di negara itu berlangsung setiap tahun di mana semua musisi muda bercita-cita untuk ambil bagian.

Tarian Melingkar dengan Kapak

Musik rock masih mendapat tempat di Rusia di beberapa momen tertentu. Setiap tahun pada  13 Januari, Rusia merayakan Tahun Baru menurut kalender Julian dan di saat itulah musisi Yevgeny Gorenburg menggelar festival Old New Rock. 

Dari ratusan musisi, hanya beberapa lusin yang dipilih. Pemilihan dilakukan oleh dewan ahli yang terdiri dari titans musik rock Sverdlovsk termasuk Vladimir Shakhrin dan Vladimir Begunov (dari Chaif), Aleksey Khomenko (Nautilus Pompilius), dan Aleksandr Pantykin.

Yevgeny Gorenburg membuka festival Old New Rock, 13 Januari 2019.

Beberapa tahun terakhir diadakan juga festival di Yeltsin Center, sebuah museum yang didedikasikan untuk disintegrasi Uni Soviet dan tahun-tahun pertama Rusia baru. Di sana orang bisa melihat rak-rak toko kosong simbol perbelanjaan(atau ketidakhadirannya) pada 1990-an dan difoto dengan latar belakang lukisan Erik Bulatov yang sangat besar yang bertuliskan "Kebebasan." 

Boleh jadi semangat kebebasan inilah yang telah menjadi daya tarik utama bagi para musisi dari berbagai daerah di Rusia dan negara-negara lain yang datang ke Yekaterinburg. Apakah musisi rock baru berbeda dari pendahulunya? Tentu saja.

Rak-rak toko kosong sebagai bagian dari pameran di Yeltsin Center.

Sebagai contoh band Neuromonakh Feofan dari Sankt Peterburg: alih-alih menghancurkan gitar melawan panggung, mereka mengundang audiens mereka untuk "mengikuti" dengan iringan bass folk drum dan bas. Dan ValieDollz asal Perm yang meriah dan beranggotakan empat orang menghadirkan semacam suara brasscore yang hanya bisa diimpikan oleh band-band heavy metal.

Band Avant-garde Leontiev.

Ada lagi band bernama Avant-garde Leontiev dari Yekaterinburg, yang mengubah setiap pertunjukan menjadi produksi teater.

Neuromonakh Feofan dan band-nya.

Pecinta genre klasik akan mengatakan bahwa itu bukan lagi musik rock. Tetapi para penggemar musik rock masih tetap menyukainya. Mereka datang ke Yekaterinburg dan bergabung dalam tarian khorovod gaya rakyat dengan kapak (bukan yang asli) dengan musik Feofan, membanting tarian ke Leontiev, sementara musisi rock lainnya berlatih di bawah tanah di bunker di Clara Zetkin. Jalan di mana mereka berencana untuk selamat dari kiamat.

Dangdut merupakan salah satu genre musik populer tradisional Indonesia yang patut dilestarikan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada stereotipe tertentu terhadap para penikmat musik dangdut. Apalagi, dangdut koplo — subaliran dalam musik dangdut dengan ciri khas irama yang menghentak dari gendangnya. Di Rusia, ada pula genre serupa. Musik ini tak hanya populer di dalam negeri, tapi juga di luar negeri — entah dalam makna yang positif atau sebaliknya. Inilah hard bass!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki