Mengapa Orang-Orang Chukchi Masih Menggembalakan Rusa dan Berburu Hewan Laut?

Wisata
ANNA SOROKINA
Kehidupan di padang tundra sama sekali tidak mudah. Namun, bagi sebagian orang, itu adalah satu-satunya kehidupan yang berarti. Karena itu, mari kita tengok kehidupan masyarakat adat Chukotka.

Jauh, jauh sekali di ujung daratan Rusia, hari baru menyingsing di tundra yang luas. Inilah tempat tinggal orang-orang Chukchi. Mereka menyebut diri mereka “orang-orang nyata” atau, dalam bahasa mereka, luoravetlan. Kehidupan di Chukotka keras, tetapi inilah gambaran kehidupan yang sebenarnya. Orang-orang Chukchi “tundra” adalah gembala rusa nomaden, sedangkan Chukchi “pesisir” adalah pemburu laut. Secara keseluruhan, ada sekitar 16.000 orang Chukchi dan sebagian besar tinggal di Semenanjung Chukchi. Kebanyakan dari mereka, seperti 100, 200, bahkan 300 tahun yang lalu, masih menggeluti seni kerajinan tradisional masyarakatnya secara turun-temurun.

Profesi dan cara hidup mereka mungkin tampak kuno, tetapi kehidupan mereka sama sekali tidak terisolasi dari dunia luar. Mereka menggunakan ponsel pintar, laptop, dan punya kartu ATM.

Brigade No. 3

Helikopter kami berputar cukup lama di atas tundra untuk mencari perkemahan Chukchi. Ternyata, tak mudah menemukan mereka. Pengembara modern dibagi menjadi beberapa brigade. Tiap-tiap brigade berpindah-pindah tempat, memberi tahu pemimpin perusahaan penggembalaan rusa tentang rute yang akan ditempuh.

Namun ada masalah, kata pilot. “Gembala rusa memiliki nama/sebutan sendiri untuk sungai dan bukit yang sama sekali tidak sesuai dengan peta. Anda bisa terbang di atas tundra selama beberapa jam dan tidak melihat manusia maupun hewan.”

Akhirnya, kami melihat sebuah lembah dengan beberapa yaranga (rumah tradisional Chukchi) dan anak-anak berlarian dengan gembira menemui kami. Ini adalah perkemahan Brigade No. 3. Helikopter jarang mendarat di sini karena jaraknya hanya 70 kilometer dari permukiman Egvekinot. Cukup dekat. Bagaimanapun, tamu selalu diterima dengan tangan terbuka. Ada tiga keluarga dalam brigade ini. Para pria telah pergi ke tundra, membawa rusa-rusa merumput, sementara para perempuan, anak-anak dan pria tua tinggal di perkemahan.

Valeria adalah orang Rusia. Dia dulu tinggal di Egvekinot, tetapi bertemu calon suaminya dari keluarga gembala rusa dan memutuskan untuk pindah ke tundra. Pada usia 29 tahun, dia membesarkan dua orang anak, Valya (sekitar lima tahun) dan Kirill (sekitar satu tahun). Keluarga semacam itu bukan pemandangan umum di sekitar sini. “Masa ketika perempuan melahirkan di yaranga sudah lama berlalu,” kata Valeria. “Suami saya bilang kepada saya bahwa dahulu helikopter membawa segalanya. Sekarang, kami punya ATV sendiri dan pergi ke desa untuk membeli bahan makanan dan bahan bakar. Ketika anak-anak tumbuh dewasa, kami akan mengantar mereka ke sekolah sendiri.”

Mereka memiliki yaranga besar. Di tengahnya terdapat perapian dengan ketel uap. Waktu itu, ikan tengah diasapi di atas api. Kulit rusa yang lembut menutupi lantai; kamar tidur dipisahkan antara yang satu dan lainnya dengan tirai tebal. Kabel-kabel berserakan di lantai: Mereka masih harus mengisi daya ponsel dan peralatan lainnya. Tidak ada sinyal di lembah — Anda harus mendaki bukit untuk menelepon. Anak-anak punya mobil mainan dan boneka, tetapi mereka paling suka jalan-jalan.

“Ayo kita naik (ATV) Buran,” Valya menarik tanganku. “Ayo berjalan-jalan di tundra.” Tentu saja, terlalu dini baginya untuk mengendarai mobil salju. Jadi, dia membawa bonekanya dan berpura-pura berlomba melintasi Chukotka. Valya masih punya beberapa tahun lagi sebelum duduk di bangku sekolah, tetapi ia sudah mengatakan dia akan kembali (ke rumah) dan membantu ibunya.

Pensiun di tundra

Chukotka memiliki 14 perusahaan munisipalitas dengan sekitar 600 gembala dan 150.000 ekor rusa. Orang-orang Chukchi memiliki rusa pribadi dan munisipalitas, tetapi semuanya merumput bersama. Meskipun gaji gembala rusa terbilang kecil menurut standar lokal — kurang dari 50.000 rubel (sekitar 11,9 juta rupiah) — mereka menikmati manfaat tertentu. Misalnya, mereka dapat pensiun lebih awal: perempuan pada usia 45 tahun dan pria pada usia 50 tahun.

“Saya sudah pensiun, sekarang membantu anak dan cucu saya,” kata Vasily, pria berusia 50 tahun yang gagah dan serius dengan kemeja abu-abu. “Saya sudah di sini sejak kecil dan buku kerja saya menyatakan bahwa saya adalah seorang gembala rusa. Kami menyediakan daging, bulu, tanduk, dan tanduk beludru untuk perusahaan. Kami menerima gaji kami pada kartu bank kami. Jika saya perlu membeli sesuatu, saya bisa memberikannya (kartu bank tersebut) kepada seseorang yang akan pergi ke permukiman.”

Putra sulung Vasily bekerja dengannya di tundra; putranya yang lebih muda tidak mau, tetapi ayahnya sama sekali tidak marah padanya karena “itu urusannya”.

Namun, saudara perempuannya, Tamara, putus sekolah sejak kelas V dan melarikan diri kembali ke keluarganya di perkemahan. “Saya memutuskan sendiri,” katanya. “Saya ingin membantu orang tua dan bibi saya.” Dia sendiri sudah menjadi nenek dan cucunya juga tinggal di sini.

Tamara mengatakan saat ini ada banyak peralatan di tundra. “Ada generator, ada radio sehingga kami dapat menghubungi orang-orang kawanan kami dan brigade lainnya.” Perempuan juga secara resmi terdaftar sebagai gembala rusa meskipun mereka terutama terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.

Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Memasak makanan untuk semua orang, membersihkan rumah, memeriksa peralatan, menyiapkan persediaan untuk musim dingin, memperbaiki dan mencuci pakaian — ada lebih banyak tugas daripada di kota. Bagaimanapun, Anda tidak bisa melakukannya sendiri. Ketika seseorang lelah bersosialisasi, ia selalu dapat pergi ke tundra untuk merenungkan kehidupan.

Pelaut Lorino

Penduduk asli Chukotka adalah salah satu dari sedikit kelompok etnis di dunia yang diizinkan berburu paus (yang lain termasuk penduduk asli Alaska, Greenland, dan negara kepulauan Karibia Saint Vincent dan Grenadine). Meski begitu, jumlah paus yang dapat diburu oleh komunitas atau masyarakat adat ini dibatasi dalam kuota tertentu. Perburuan terbesar — lebih dari 40 ekor per tahun — terjadi di Lorino (dengan populasi sekitar 1.500 jiwa), sebuah desa yang berada sekitar 500 kilometer di sebelah timur Anadyr dan 150 kilometer di sebelah barat Alaska.

Selain paus, mereka juga memburu walrus dan beberapa spesies anjing laut. Orang Chukchi modern berburu dengan perahu motor. Perahu mereka kelihatan kecil, tetapi dapat mengangkut berton-ton hasil buruan. Tombak tangan juga digunakan untuk berburu.

Pemburu laut dibagi ke dalam sejumlah brigade dan menerima gaji dan manfaat yang sama dengan gembala rusa. Pekerjaan mereka sangat berbahaya: tidak hanya Laut Bering yang tak menentu, hewan-hewan laut pun kadang-kadang membalik perahu mereka sehingga perburuan berubah menjadi misi penyelamatan. Meskipun orang-orang Chukchi menghabiskan seluruh hidup mereka di laut, tak sedikit pula yang tidak bisa berenang. Lagi pula, bagaimana seseorang bisa berenang ketika airnya sangat dingin sepanjang tahun?

Kondisi lingkungan yang takramah tentu memengaruhi kesehatan para pemburu. Namun, pada usia tua sekali pun, mereka masih mencintai laut. Dmitry berburu hewan laut sejak usia 15 tahun hingga pensiun. Dia sekarang berusia 68 tahun. Dari kerja kerasnya, wajahnya tampak telah terpapar kerasnya cuaca, dia tidak bisa menekuk jarinya lagi, sementara tangannya hampir tidak terkendali. Dia hampir buta, tetapi dia tetap datang ke laut dan duduk di pantai yang dingin sambil sesekali memandangi perahu yang lewat.

“Saya lahir di sini, saya dari Lorino,” katanya pelan. “Kami pergi ke laut dalam segala cuaca. Saat itu sangat sulit dan sekarang kaki saya selalu sakit.”

Pariwisata di ujung dunia

Penduduk setempat melakukan segala upaya demi mempertahankan tradisi mereka. Mereka memberi tahu anak-anak tentang budaya orang Chukchi, membuat suvenir sendiri, dan menyambut turis dengan tangan terbuka — yang hanya datang pada musim panas ketika cuaca tidak terlalu dingin. Di Lorino, mereka menjual jimat — simbol matahari, kemeja tradisional panjang — komlayka, dan pernak-pernik ukiran tulang walrus yang dibuat oleh perajin lokal.

“Kami mencintai orang-orang kami dan ingin negara-negara lain di dunia melihat apa yang dapat kami tawarkan,” kata Olga yang menghabiskan seluruh hidupnya membuat segala jenis kerajinan lokal, mulai dari menjahit hingga mengukir tulang. “Untuk saat ini, semuanya hidup dari antusiasme, tanpa keuntungan apa pun.”

Pada saat yang sama, orang-orang Chukchi terbuka dengan tradisi budaya baru dari “daratan”. Mariam lahir di Lorino, tetapi menghabiskan waktu lama tinggal di Khabarovsk, kota terbesar di Timur Jauh Rusia (dengan lebih dari 600.000 orang), dan baru-baru ini kembali untuk membantu ibunya yang sudah pensiun. “Ketika saya datang ke sini, saya kesulitan membiasakan diri dengan harga (jauh lebih tinggi daripada di kota) dan lingkungan. Namun, orang bisa tinggal di mana saja,” katanya. Mariam harus mengingat bagaimana rasanya hidup di sebelah beruang ketika hanya ada tundra dan Laut Bering yang dingin sejauh beberapa kilometer di sekitarnya. Namun, dia membawa banyak liburan yang belum pernah dirayakan di sini sebelumnya. “Biasanya, kami merayakan Tahun Baru Chukotka pada 22 Desember dan yang biasa pada 1 Januari. Sekarang, kami juga mulai merayakan Paskah — keluarga saya suka memanggang kulich (roti Paskah) dan melukis telur!”

Pada tahun 1630-an, Ketsaran Rusia, yang telah menguasai sebagian besar Siberia, mulai mengeksplorasi dan menaklukkan Timur Jauh bagian utara. Namun, bagaimana tepatnya Rusia mencaplok Timur Jauh?

Pembaca yang budiman,

Situs web dan akun media sosial kami terancam dibatasi atau diblokir lantaran perkembangan situasi saat ini. Karena itu, untuk mengikuti konten terbaru kami, lakukanlah langkah-langkah berikut: