Berapa Banyak Makanan yang Dibuang Orang Rusia?

Tekno&Sains
MARIA STAMBLER
Rupanya, dalam hal makanan, orang Rusia cenderung memiliki banyak akal.

Bosch baru-baru ini menyusun daftar peringkat negara-negara yang menghasilkan limbah makanan paling banyak setiap tahun. Yunani (141,69 kilogram per kapita), Bahrain (131,71 kilogram) dan Irak (120,44 kilogram) adalah negara yang memiliki kinerja terburuk untuk limbah makanan. Sementara Rusia terbukti menjadi negara yang paling banyak akal (dari 99 negara yang disurvei) dalam hal limbah makanan rumah tangga, yakni hanya 33,38 kilogeram per kapita. Mengapa bisa demikian?

Namun pertama-tama, mengapa membuang makanan begitu buruk bagi lingkungan?

Kita semua tahu bahwa membuang makanan secara moral adalah tindakan yang salah. Terlebih lagi, ketika masih ada begitu banyak orang yang kelaparan di dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran utama lainnya tentang limbah makanan telah muncul: dampak lingkungannya.

Limbah makanan yang berakhir di tempat pembuangan sampah menghasilkan sejumlah besar metana saat membusuk, yaitu gas rumah kaca yang 80 kali lebih kuat daripada CO2. Ditambah dengan pertanian menyumbang 70 persen dari air yang digunakan di seluruh dunia, limbah makanan juga merupakan pemborosan besar sumber daya air tawar dan air tanah. Jutaan galon minyak juga terbuang setiap tahun untuk memproduksi dan mengangkut makanan yang tidak dimakan.

Bagaimana peringkat skor Rusia bisa begitu baik?

Kami berbicara dengan para ahli yang — pada awalnya — cukup terkejut dengan hasil peringkat Bosch.

"Wow benarkah? Kami terkejut!” kata Anna Balakhontseva dari perusahaan katering ramah lingkungan Eda Spaset Mir (Makanan akan Menyelamatkan Dunia) ketika kami mendekatinya untuk memberikan komentar.

Balakhontseva percaya bahwa, secara teori, ini mungkin hasil dari warisan tahun-tahun perang dan 1990-an, periode yang ditandai dengan kemiskinan dan kelaparan di Rusia. Orang dewasa saat ini di Rusia dibesarkan oleh orang-orang yang harus menghemat makanan.

“Kami mewarisi banyak resep dari babushka kami untuk penggunaan ‘tidak jelas’ dari beberapa produk yang sering dianggap tidak dapat dimakan atau tidak baik untuk dikonsumsi,” tambah Balakhontseva.

Anna Uspenskaya, pendiri 'Foodsharing Moscow', setuju bahwa ingatan akan kelaparan masa perang masih segar di benak banyak orang dan menambahkan bahwa di Rusia – dan seluruh wilayah CIS (Persemakmuran Negara-Negara Merdeka) secara keseluruhan – standar hidup belum cukup tinggi bagi orang-orang yang mampu membayar kemewahan membuang makanan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Moskow juga menunjukkan faktor-faktor seperti orang yang menyamakan membuang makanan sama dengan membuang uang, budaya melihat makanan sebagai hasil kerja seseorang — dan, oleh karena itu, sisa makanan dianggap tidak sopan terhadap upaya orang lain — tren yang berkembang dalam konsumsi etis dan berkelanjutan di kalangan penduduk kota yang lebih muda, atau nilai-nilai Kristen Ortodoks yang melihat makanan sebagai sesuatu yang suci.

Apakah situasinya benar-benar sebagus kelihatannya?

Alasan lain yang dilihat Balakhontseva di balik kinerja bagus Rusia di peringkat ini adalah statistik yang buruk.

“Untuk melakukan penelitian yang tepat tentang Rusia, penting untuk mengunjungi setiap kota dan mewawancarai setidaknya 100 orang di masing-masing kota. Dan apa yang saya ingin semua orang pahami adalah bahwa bahkan jika kita membuang lebih sedikit makanan di Rusia, itu masih SANGAT banyak,” jelas Balakhontseva.

Mungkin, dibandingkan dengan negara lain, Rusia mendapat nilai bagus, tetapi itu tidak berarti bahwa negara ini memiliki masyarakat teladan dalam hal menghindari limbah makanan. Sekitar 884 juta ton makanan yang diproduksi dibuang setiap tahun di dunia, 17 juta di antaranya berasal dari Rusia.

Menurut laporan TIAR Center tentang limbah makanan di Rusia, hampir semua makanan yang dibuang (94 persen) berakhir di tempat pembuangan sampah, di mana ia menjadi sumber polusi tanah, air, dan udara. Sekitar 2,4 juta ton metana dilepaskan karena limbah makanan di Rusia, serta gas lain seperti amonia dan hidrogen sulfida. Selain biaya lingkungan dari limbah makanan, produk yang dibuang merugikan Rusia sekitar 1,6 triliun rubel setiap tahun, atau 30 juta jatah tahunan untuk orang dewasa.

Langkah selanjutnya untuk memerangi limbah makanan di Rusia

Untungnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh konsumen dan pebisnis.

“Pertama-tama, perusahaan manufaktur dan toko perlu memasok lebih banyak produk tanpa kemasan atau dengan kemasan minimal atau menggunakan kemasan yang dapat didaur ulang. Toko harus mempelajari berapa banyak produk tertentu yang paling mungkin dibeli oleh konsumen dan, berdasarkan itu, menghasilkan ukuran paket untuk kebutuhan yang berbeda. Banyak produk dapat dikirim ke toko dalam format zero waste, dan toko pada umumnya harus berusaha untuk menjadi zero waste sebisa mungkin,” papar Balakhontseva.

Restoran ialah penyebab utama lainnya dalam hal limbah makanan. Jika dapat mengurangi menu mereka agar tidak membeli terlalu banyak produk dan tidak membuat terlalu banyak persiapan, serta menggunakan lebih sedikit bungkus plastik (cling film) dan kantong vakum. Makanan apa pun yang tersisa dapat didistribusikan ke layanan berbagi makanan atau kepada karyawan perusahaan.

Untuk rata-rata konsumen, Balakhontseva mengatakan bahwa mereka perlu memikirkan daftar belanjaan dengan baik dan benar-benar menaatinya saat membeli bahan makanan, untuk menghindari membeli terlalu banyak. Kita juga harus membawa wadah kita sendiri yang dapat digunakan kembali dan, jika mungkin, menggunakan bagian-bagian dari produk yang mulai dibuang oleh masyarakat.

“Ini penting karena trauma nasional akan kelaparan masa perang perlahan mereda dan standar hidup membaik. Itu menjadi penyebab awal jumlah makanan yang terbuang lebih sedikit, dan menjadi hal yang lebih positif dengan adanya alasan lain untuk tidak membuang makanan, seperti tren sadar konsumsi dan nilai-nilai lingkungan. Kita dapat melihat pengertian seperti itu muncul sekarang, tetapi memang dominan di kalangan anak muda yang tinggal di kota-kota besar,” Uspenskaya menyimpulkan.

Mungkin peringkat Rusia tidak tinggi untuk limbah makanan, tapi tetap menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar keempat di dunia. Lantas, apa saja agenda Rusia ke meja pertemuan COP26 agar bisa memastikan dunia menghindari bencana iklim?