Tembak Dulu, Baru Lapor: Metode-Metode Tak Biasa dalam Memerangi Drone ala Tentara Rusia

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Kementerian Pertahanan Rusia
Angkatan Darat (AD) Rusia memiliki unit khusus yang merupakan gabungan dari divisi antipesawat serta divisi rudal antipesawat dan artileri yang bertugas melumpuhkan drone. Prinsip yang digunakan dalam unit gabungan itu adalah "tembak dulu, baru melapor ke komandan."

Dalam sebuah wawancara dengan situs Krasnaya Zvezda, Kepala Departemen Pelatihan Tempur Gabungan AD ke-41 Distrik Militer Pusat Kolonel Vyacheslav Dotsu buka-bukaan mengenai cara melatih personel dalam menghadapi dan melumpuhkan drone 'pesawat tanpa awak'. Menurutnya, hal itu menjadi topik yang hangat setelah pertempuran di Suriah dimulai. 

Dotsu mengatakan, Pasukan Gabungan AD ke-41 Rusia memiliki banyak drone asing dan drone buatan militan Suriah yang berhasil ditembak jatuh oleh senjata antipesawat dan senjata kecil, atau didaratkan secara paksa oleh para ahli dari unit-unit peperangan elektronik. 

Menurutnya, tidak semua cara standar dalam memerangi target udara dapat digunakan untuk menghancurkan drone

"Dalam struktur reguler pasukan penembakan bermotor kami terdapat divisi antipesawat dan divisi rudal antipesawat dan artileri yang bertugas untuk memerangi target udara. Akan tetapi, tidak semua cara dapat digunakan untuk menghancurkan drone karena tidak ada gunanya menargetkan drone kecil dengan rudal yang mahal. Itulah mengapa kami membuat unit gabungan untuk memerangi drone bersama-sama," jelas Dotsu. 

Salah satu unit bertugas memantau keadaan di udara dan melepaskan tembakan jika menemukan drone yang tidak dikenal. Prinsip yang berlaku adalah: "Begitu Anda melihat drone, tembak, lalu lapor ke komandan." Menurut Dotsu, setiap detik sangat berharga dalam situasi seperti itu. 

Dotsu mengungkapkan, sebuah metode baru yang sederhana, tetapi sangat efektif telah diuji baru-baru ini. 

"Sebuah benang pancing sepanjang 30 – 40 meter dan diikat dengan balon dipasangkan pada quadcopter. Dengan cara itu, drone dapat menyimulasikan delapan target udara," ungkapnya. 

Ia menjelaskan, metode itu hanya memakan biaya yang sangat kecil, , tetapi sangat efektif ketika diterapkan saat pelatihan. Sang komandan menambahkan, balon akan memudahkan penembak menembak drone musuh di udara menggunakan senapan otomatis, bahkan pada jarak 50 meter. 

Tidak semua metode memerangi drone tertulis di buku pandauan. Terkadang, para prajurit menemukan cara-cara yang lebih efektif ketika bertarung di lapangan. Baru-baru ini, Dotsu juga melihat semuah metode baru di pusat pelatihan Kara Haak, Republik Tuva. 

"Saya menyaksikan metode yang tidak biasa dalam menembakkan senapan mesin ke sasaran udara, yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Penembak senapan mesin berbaring telentang, meletakkan kakinya di atas bipod (penyangga), dan menembak drone tiruan," katanya. 

Menurutnya, sang penembak mengambil posisi seperti itu untuk mendapatkan stabilitas maksimum. Posisi itu sangat nyaman bagi panembak saat membidik dan menembak sehingga peluang menghancurkan target menjadi lebih besar. Metode tak biasa itu juga diujikan kepada prajurit lain. Alhasil, metode penembakkan itu dinilai cukup efektif. 

Media Amerika menyebut 'Poseidon', drone bawah laut Rusia dengan sistem penggerak dan hulu ledak nuklir milik, sebagai senjata kiamat pamungkas. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki