Rupa-Rupa Keunggulan Sukhoi yang Memukau Dunia

Vitaly V. Kuzmin/www.vitalykuzmin.net
Sukhoi dianggap sebagai pesawat tempur terbaik di dunia saat ini. Tidak hanya bersaing dengan pesawat Amerika, Sukhoi kerap mengungguli mitra-mitra asing mereka.

1. Su-25

Pesawat serbu darat Su-25 dirancang untuk mendukung pasukan serbu. Pesawat ini tidak tergantung pada lapangan terbang utama dan dapat lepas landas serta mendarat secara efektif di landasan pacu berkerikil atau jalan di dekat garis depan.

Su-25 adalah salah satu pesawat yang dipersenjatai dengan baik di Angkatan Udara Rusia. Sebanyak 32 jenis senjata dapat dipasang pada Su-25 tergantung pada misi yang dijalankan, termasuk rudal udara ke udara dan udara ke permukaan.  

Selama lebih dari 40 tahun berkecimpung dalam pertempuran, Su-25 telah turut ambil bagian dalam 18 perang dan konflik di tiga benua: dari perang Soviet hingga operasi Rusia saat ini di Suriah.

2. Su-27

Kecepatan dan kelincahannya dalam bermanuver menjadikan Su-27 sebagai salah satu pesawat tempur terbaik Rusia. Kemampuannya dalam melakukan gerakan aerobatik yang kompleks menjadikan pesawat yang dikenal NATO sebagai Flanker ini sama-sama luar biasa dalam pertempuran maupun pertunjukan udara.

Flanker dirancang untuk menyaingi F-15 Amerika. Pesawat-pesawat ini tidak pernah bertemu dalam pertempuran nyata. Namun dalam latihan tempur Su-27 mengungguli lawannya pada jarak dekat, sementara F-15 lebih baik pada jarak yang lebih jauh.   

Lusinan negara kini mengoperasikan Su-27. Yang mengejutkan, AS juga masuk dalam daftar ini. Amerika telah membeli beberapa pesawat Su-27 dari Ukraina dan Belarus untuk melatih pertempuran udara.  

Su-27 digunakan sebagai model dasar untuk banyak modifikasi pesawat tempur, di antaranya Su-30, Su-35 dan Su-33 berbasis dek. 

3. Su-57

Pesawat tempur generasi kelima terbaru Rusia ini dirancang untuk menggantikan Su-27 dan Su-35. Pesaing utamanya adalah pesawat AS F-22 Raptor dan F-35 Lightning.

Su-57 adalah pesawat operasional pertama Rusia yang menggunakan teknologi siluman. Pesawat ini dirancang untuk menghampiri pesawat siluman musuh sedekat mungkin dan memaksa musuh  melakukan pertempuran udara jarak dekat. Dengan begitu, Su-57 dapat memetik keuntungan dari kemampuan manuvernya yang luar biasa.

Kursi pelontar Su-57 dapat menyelamatkan nyawa pilot di ketinggian berapa pun, bahkan dari darat sekalipun. Di masa depan, kursi ini direncanakan dapat "membuat keputusan" pelontaran tanpa campur tangan pilot.

Saat ini, hanya Rusia yang mengoperasikan Su-57 dan tidak ada rencana ekspor agar tidak melemahkan pasar pesawat tempur terlaris Su-35. Namun, tak menutup kemungkin jika di masa depan pesawat ini dijual ke India, Algeria, Cina, Vietnam dan bahkan anggota NATO, Turki.

4. Sukhoi Superjet 100

Sukhoi Superjet 100 adalah pesawat penumpang pertama yang dirancang oleh Rusia, sejak runtuhnya Uni Soviet. Meskipun para perancangnya telah berusaha keras untuk membuatnya menjadi "Rusia tulen", sekitar 70 persen strukturnya masih bergantung pada komponen asing.

Pesawat ini dipuji karena kecanggihan peralatan elektroniknya, rendahnya kebisingan mesin, efisiensi bahan bakar dan harga yang menarik. Harga Superjet tiga kali lebih murah dari pesaing utamanya di Eropa, Airbus A319.  

Reputasi SSJ-100 mengalami pukulan serius pada 5 Mei 2019. Salah satu pesawat terkena petir, yang mematikan komunikasi dengan kontrol darat. Setelah melakukan pendaratan darurat di bandara Moskow, mesin pesawat terbakar di landasan pacu dan mengakibatkan 41 penumpang tewas.

Beberapa bulan kemudian, pada Agustus, operator pesawat terbesar di luar Rusia, Interjet Meksiko (yang memiliki 22 armada pesawat) mengatakan pihaknya menangguhkan penjualan Superjet karena "alasan keuangan." 

Rusia siap meluncurkan pesawat jarak menengah MS-21-300 dan helikopter Ansat dengan kabin Aurus yang akan bersaing dengan kompetitor-kompetitor besar asal AS dan Eropa di seluruh dunia. Klik di sini untuk mengenal lebih jauh kedua transportasi udara itu!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki