Produksi Komponen Sukhoi, Rusia Ingin Gandeng PT Dirgantara Indonesia

Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) di Bandara Domodedovo, Moskow, 25 Februari 2015.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) di Bandara Domodedovo, Moskow, 25 Februari 2015.

Ramil Sitdikov / RIA Novosti
Rusia berniat menggandeng PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi komponen SSJ 100 dan MDS-21.

Rusia tertarik bekerja sama dalam pembuatan komponen Sukhoi dengan PT Dirgantara Indonesia. Demikian hal tersebut diungkapkan Menteri Perdagangan dan Industri Rusia Denis Manturov, sebagaimana yang dikutip dari siaran pers Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

“Kami siap berdiskusi dengan PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi komponen Sukhoi di sini,” kata Manturov kepada Ketua DPD RI Irman Gusman seusai menemui Presiden Joko Widodo di Senayan, Jakarta, pada Jumat (8/1) lalu.

Menurut Manturov, Rusia berniat menggandeng industri pesawat terbang Indonesia untuk memproduksi komponen pesawat Superjet 100 (SSJ100) dan MDS-21 yang bisa dimulai pada 2018.

Sukhoi telah dikenal selama puluhan tahun sebagai salah satu produsen pesawat militer terkemuka yang diekspor ke seluruh dunia. Namun, SSJ100 merupakan produk pertama Sukhoi di bidang pesawat sipil yang mampu bersaing dengan pesawat-pesawat terbaik di dunia. Pesawat ini mulai diproduksi pada tahun 2007. Proyek Superjet 100 didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Rusia dan dikatakan sebagai salah satu proyek nasional terpenting.

Superjet 100 di Indonesia

Pada 2013 lalu, pesawat Sukhoi Superjet 100 sempat dipesan maskapai Sky Aviation sebanyak 12 unit, yang rencananya akan dikirim secara bertahap sampai dengan tahun 2015. Namun, pada pertengahan Maret 2014 lalu, maskapai penerbangan Sky Aviation menghentikan operasinya. Maskapai tersebut berhenti beroperasi karena masih menunggu investor baru yang mau menyuntikkan dana untuk operasional maskapai.

Kecelakaan

Setahun sebelum Sky Aviation membeli SSJ-100, sebuah pesawat Sukhoi Superjet 100 melakukan demonstrasi penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada 9 Mei 2012. Namun tak lama kemudian, pesawat menghilang dari layar radar di ketinggian 1.900 meter. Tanggal 10 Mei 2012, serpihan Sukhoi Superjet 100, terlihat di tebing di Gunung Salak. Pesawat kemudian diketahui menabrak tebing batu di Gunung Salak.

Didukung Pemerintah Indonesia

Gusman meyakini bahwa kerja sama dengan Pemerintah Rusia dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kondisi perekonomian Indonesia melalui adanya investasi di daerah.

“Kami mendorong kerja sama antara Indonesia dengan Rusia. Kerja sama ini bisa antara BUMN Indonesia dengan BUMN Rusia atau antarperusahaan swasta agar ke depannya dapat dilakukan investasi di berbagai daerah,” kata Gusman kepada Manturov.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad dan Sekretaris Jenderal DPD RI Sudarsono Hardjosoekarto tersebut, Gusman menyatakan bahwa DPD RI akan berperan sebagai mediator ketika terjadi hambatan dalam proses investasi ke daerah-daerah. 

Bidang Lainnya

Selain di bidang aviasi, dalam siaran pers tersebut disebutkan pula bahwa Rusia berminat untuk bekerja sama dalam bidang maritim dengan Indonesia. “Kami juga tertarik untuk mengembangkan industri perkapalan,” kata sang Manturov. “Karena itu, kita perlu berbicara secara lebih rinci dengan pihak Indonesia,” imbuhnya.

Pada Jumat lalu, Manturov bertolak ke Jakarta untuk menindaklanjuti berbagai proyek kerja sama Rusia dan Indonesia yang tengah berlangsung. Selain itu, Manturov mengaku ia membawa misi khusus untuk bertemu Presiden Joko Widodo demi menyampaikan undangan dari presiden Rusia kepada presiden Indonesia. Pada 2014 lalu, Putin menunjuk Manturov sebagai utusan khusus Federasi Rusia untuk menghadiri pelantikan presiden dan wakil presiden RI. Setelah pelantikan, Presiden Joko Widodo langsung menyambut Manturov di Istana Negara. Kunjungan Manturov saat itu sekaligus mengawali kunjungan delegasi Rusia yang pertama sejak pergantian kepemimpinan di Indonesia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.