Delapan Kamp Gulag Terkejam Semasa Uni Soviet

Kerajaan kamp kerja paksa Stalin mencakup seluruh Uni Soviet pada 1930-an hingga 1940-an.

Kerajaan kamp kerja paksa Stalin mencakup seluruh Uni Soviet pada 1930-an hingga 1940-an.

Pixabay
Dari Lingkar Arktik hingga Kazakhstan, dari perbatasan barat hingga Timur Jauh — kamp-kamp Gulag semasa pemerintahan Stalin tersebar di seluruh Uni Soviet.

Kata “Gulag” sering kali dipakai untuk menggambarkan penjara atau kamp Soviet, terutama pada media-media Barat. Sebetulnya, penggambaran tersebut kurang tepat. Pada kenyataannya, Gulag (singkatan Glavnoye upravleniye ispravitelno-trudovykh lagerey i kolonii atau Direktorat Jenderal Kamp Kerja Paksa) muncul pada 1930, berlangsung selama 30 tahun, dan secara resmi dihentikan pada 1960.

Sistem Gulag itu sendiri diciptakan layaknya “sebuah negara di dalam negara” yang menggabungkan lebih dari 30 ribu tempat penahanan. Diciptakan semasa pemerintahan Stalin, jutaan tahanan dipaksa untuk membangun kota, bendungan, dan pabrik, menambang emas dan uranium, serta mengembangkan wilayah tak berpenghuni di luar Lingkar Arktik dan di Kolyma. Tak heran, Gulag kerap diasosiasikan dengan nama sang diktator.

Menurut data Museum Sejarah Gulag, sebanyak 20 juta tahanan pernah dijebloskan ke kamp-kamp dan penjara-penjara Gulag. Setidaknya 1,7 juta orang mati karena kelaparan, kelelahan, sakit, atau peluru yang bersarang di kepala. Para tahanan Gulag termasuk penjahat sungguhan dan korban tak bersalah yang dituduh melakukan pelanggaran “politik”.

Kami tak mungkin menjelaskan semua kamp Gulag dalam satu artikel. Namun, kami memilih beberapa kamp paling mengerikan, paling padat, dan paling penting bagi perekonomian Soviet. Seperti apa kamp-kamp tersebut?

1. Kamp Tujuan Khusus Solovetsky (Solovki)

Tempat yang indah ini, sebuah pulau di Laut Putih yang terkenal dengan biaranya, menjadi lokasi pertama kamp kerja paksa Soviet.

Lokasi: Kepulauan Solovetsky (1.400 km di utara Moskow)

Masa beroperasi: 1923 – 1933

Jumlah maksimum tahanan: 71.800

Solovki, “eyang” semua kamp Soviet, sebetulnya sudah berdiri jauh sebelum sistem Gulag diperkenalkan. Kamp itu pada dasarnya merupakan tempat uji coba penggunaan tenaga kerja tahanan secara massal. “Penggunaan tenaga kerja tahanan muncul dari sana,” kata Leonid Borodkin, Kepala Pusat Sejarah Ekonomi di Universitas Negeri Moskow, kepada stasiun radio Ekho Moskvy.

Di kepulauan yang membeku di Laut Putih ini, puluhan ribu tahanan menebang pohon, membangun jalan, dan mengeringkan rawa-rawa. Pada awalnya, kamp itu relatif “lunak”. Namun pada akhir 1920-an, Solovki berubah menjadi neraka sungguhan. Para tahanan yang memberontak dipukuli dengan tongkat, ditenggelamkan, dan disiksa. Dalam Arkhipelag GULAG (Kepulauan Gulag), buku nonfiksi tiga volume ciptaan penulis dan sejarawan Aleksandr Solzhenitsyn, Solovki digambarkan sebagai “kutubnya (Kamp) Auschwitz”.

Pada awal 1930-an, Solovki dibubarkan dan seluruh tahanannya dipindahkan ke kamp-kamp lain. Uji coba terbukti berhasil, kini saatnya memperluas sistem tersebut di seluruh negari.

2. Kamp Kerja Paksa Baltik-Laut Putih (Belbaltlag)

Para tahanan membangun Bendungan Laut Putih–Baltik.

Lokasi: Karelia (1.100 km di utara Moskow)

Masa beroperasi: 1931 – 1941

Jumlah maksimum tahanan: 108.000

Sejarah “proyek-proyek konstruksi komunis yang megah” — upaya besar-besaran menggunakan kerja paksa — dimulai dengan Belbaltlag. Kamp baru itu ditugaskan untuk menghubungkan Laut Putih ke Danau Onega melalui bendungan sepanjang 227 kilometer.

Para tahanan Belbaltlag bekerja mati-matian untuk menyelesaikan pekerjaan yang hampir mustahil itu. Meski begitu, dua tahun setelah Belbaltlag didirikan, bendungan tersebut berhasil diselesaikan. Kondisi di kamp sangat mengerikan. Untuk membangun bendungan, para tahanan hanya diberikan sekop, belencong, dan peralatan genggam lainnya tanpa satu pun alat berat. Mereka yang gagal memenuhi target dikurangi ransumnya dan diperpanjang masa hukumannya. Menurut angka resmi, 12 ribu orang tewas dalam pembangunan Bendungan Laut Putih–Baltik.

”Bendungan Laut Putih–Baltik membantu ‘menormalisasi’ Gulag di mata publik,” tulis surat kabar Novaya Gazeta. Setelah Bendungan Laut Putih–Baltik selesai, para narapidana dipaksa mengerjakan proyek-proyek lain. Ribuan tahanan bekerja banting tulang hingga mati di Belbaltlag sebelum akhirnya dibubarkan pada 1941. Demi melawan Nazi Jerman selama Perang Patriotik Raya, para tahanan dibebaskan dan dikirim ke medan perang.

3. Kamp Kerja Paksa Baikal-Amur (Bamlag)

Rumah-rumah para penjaga tahanan Bamlag.

Lokasi: Amurskaya oblast (7.700 km di timur Moskow)

Masa beroperasi: 1932 – 1938

Jumlah maksimum tahanan: 200.000

Dibandingkan proyek-proyek konstruksi Gulag lainnya, pembangun Jalur Kereta Api Baikal-Amur (BAM) betul-betul besar dan ambisius. Proyek ini hendak menghubungkan Taishet di Siberia dan Sovetskaya Gavan di tepi Timur Jauh Rusia dengan jalur kereta api sepanjang 4.000 km. Demi merealisasikan megaproyek tersebut, para tahanan dari seluruh Uni Soviet dikirim ke Bamlag.

“Seperti di tempat lain, hukum di sini ditegakkan dengan tangan besi. Tidak bekerja, tidak makan.” Setiap kali pembangunan tidak sesuai jadwal, administrasi kamp segera memperpanjang durasi kerja. Para tahanan bekerja selama 16 atau bahkan 18 jam sehari,” tulis sejarawan Sergei Papkov dalam bukunya Teror Stalin di Siberia. Namun karena kerja paksa tidak efisien dan lingkungan yang tak mendukung, BAM gagal dibangun sebelum Perang Dunia II. Proyek ini ditangguhkan hingga akhirnya selesai pada 1980-an, tetapi tidak menggunakan tenaga narapidana.

4. Kamp Kerja Paksa Dmitrovsky (Dmitrovlag)

Para tahanan membangun Bendungan Moskow.

Lokasi: Moskovskaya oblast

Masa beroperasi: 1932 – 1938

Jumlah maksimum tahanan: 192.000

Proyek konstruksi besar lainnya yang melibatkan tahanan Gulag adalah pembangunan Bendungan Moskow. Sebetulnya, kondisi di kamp ini pun tak kalah memprihatinkan. Namun dibandingkan dengan kamp-kamp lain, kondisi di sini dianggap “lebih ringan”.

“Dmitrovlag adalah semacam Gulag percontohan. Angka kematian di sana relatif rendah, hari kerja ‘lebih manusiawi’, tahanan digaji, dan ada pembebasan lebih cepat,” kata Ilya Udovenko, peneliti senior di Museum Sejarah Gulag. Kenapa perlakuan di Dmitrovlag berbeda dibandingkan dengan kamp-kamp lain? Karena kamp tersebut berada tak jauh dari ibu kota. Tak ada yang tahu bila ribuan narapidana mati di hutan-hutan terpencil di Siberia. Namun, jika penduduk ibu kota melihat keadaan serupa, hal itu tentu akan menggemparkan seluruh negeri.

5. Kamp Kerja Paksa Utara-Timur (Sevvostlag)

Para tahanan membangun jalan di Kolyma.

Lokasi: Kolyma (10.300 km di timur Moskow)

Masa beroperasi: 1932 – 1952

Jumlah maksimum tahanan: 190.000

Kebalikan “metropolitan” Dmitrovlag adalah Kolyma. Uni Soviet memberikan sedikit perhatian kepada para narapidana yang dikirim ke pesisir Laut Okhotsk. Mereka harus menambang emas dan timah, serta membangun infrastruktur yang mampu menahan iklim brutal dari nol.

Kamp Sevvostlag adalah pusat pengembangan Kolyma. Kamp tersebut dijalankan oleh Dalstroy, sebuah badan yang ditunjuk pemerintah untuk mengembangkan wilayah Timur Jauh. Secara hukum, Dalstroy bukan bagian dari Gulag. Meski begitu, kondisi kamp pada akhir 1930-an tak berarti lebih baik.

“Untuk menghancurkan fisik seorang pemuda sehat, ia harus bekerja 16 jam sehari selama 20 – 30 hari, tujuh hari seminggu, tanpa makanan, memakai pakaian compang-camping, dan bermalam di tenda terpal yang berlubang, sementara suhu di luar mencapai -60 °C …. Ini sudah terbukti,” kata Varlam Shalamov yang menulis tentang kamp-kamp Kolyma. Ia sendiri menghabiskan lebih dari sepuluh tahun di sana. Menurut laporan Rusia, setidaknya 150.000 orang tewas di kamp-kamp Kolyma.

6. Kamp Kerja Paksa Norilsk (Norillag)

Para tahanan Norillag bekerja di atas permafrost (tanah beku).

Lokasi: Norilsk (2.800 km di timur laut Moskow)

Masa beroperasi: 1935 – 1956

Jumlah maksimum tahanan: 72.000

Kini dihuni oleh 179.000 orang, Norilsk adalah kota kutub terbesar di dunia. Namun pada 1930-an, kota itu dibangun oleh tahanan Gulag, seperti Magadan. Kala itu, industri Soviet membutuhkan logam. Karena itu, pabrik-pabrik nikel dan tembaga, yang juga dioperasikan oleh buruh-buruh tahanan, bermunculan di Norilsk.

“Kamp-kamp Norilsk bukan yang terburuk dalam sistem Gulag,” kata wartawan setempat Stanislav Stryuchkov. “Para tahanan di Norilsk selalu dipandang sebagai tenaga kerja yang vital, sarana untuk memenuhi rencana (industri).” Sebagai aturan, Kamp Norillag menerima tahanan yang relatif muda dan sehat, yang bisa bekerja dan tahan terhadap iklim Utara Jauh yang ekstrem. Karena alasan ini, angka kematian di Norilag lebih rendah daripada di Kolyma atau pada proyek konstruksi BAM.

7. Kamp Kerja Parksa Vorkuta (Vorkutlag)

Lokasi: Vorkuta (1.800 km di timur laut Moskow)

Masa beroperasi: 1938 – 1960

Jumlah maksimum tahanan: 72.900

Vorkuta adalah kota kutub lainnya yang dibangun oleh tahanan Gulag. Sejarah kamp Vorkutlag sangat mirip dengan kamp di Norilsk. Bedanya, para buruh tahanan di Vorkutlag mengolah batu bara. Selama Perang Dunia II, Vorkutlag tak hanya memasok emas hitam ke seluruh negeri, tetapi juga menangkap para penjahat “sangat berbahaya” yang dihukum kerja paksa.

Seiring waktu, kuota produksi terus naik, sedangkan lingkungan kerja kian memburuk. Kemarahan tahanan mencapai titik didih pada 1942. Alhasil, pemberontakan Ust-Usa terjadi di salah satu lokasi kamp. “Itulah satu-satunya aksi bersenjata oleh tahanan sepanjang Perang Dunia II,” ujar sejarawan Nikolai Upadyshev. Setelah melucuti para penjaga, ratusan tahanan menyita senjata mereka dan mencoba menghasut pemberontakan di antara penduduk di desa-desa sekitar. Pemberontakan itu akhirnya digagalkan oleh pasukan NKVD.

8. Kamp Kerja Paksa Karaganda (Karlag)

Kamp Karlag

Lokasi: dekat Karaganda, Kazakhstan (3.000 km di timur Moskow)

Masa beroperasi: 1931 – 1959

Jumlah maksimum tahanan: 65.000

Tak seperti kamp-kamp yang dibuat untuk mengerjakan proyek-proyek pembangunan, Pemerintah Soviet menetapkan Karlag sebagai fasilitas permanen. Para tahanan Karlag bertugas menyediakan makanan, pakaian, dan produk lainnya untuk seluruh Kazakhstan utara. “Pekerjaan narapidana kamp tak ada habisnya. Pada musim panas, mereka bertani. Pada musim dingin, mereka bekerja di pabrik dan pengilangan,” tulis surat kabar Kazakhstan, Vlast.

Karlag menampung buangan “politik” secara massal, termasuk masyarakat pribumi yang dideportasi dan mereka yang dicurigai bekerja sama dengan Jerman selama Perang Dunia II. Kamp ini juga mencakup ALZhIR (singkatan Akmolinskiy lager zhon izmennikov Rodiny atau Kamp Akmola untuk Istri Pengkhianat Negara) yang terkenal. Inilah tempat bagi para istri dan anak orang-orang yang dihukum atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara mendekam. Menurut hukum Soviet, bertalian dengan pengkhianat juga merupakan kejahatan. Beberapa orang bahkan “cukup beruntung” dilahirkan di kamp tersebut. Pada 1931 – 1959, ada 1.507 bayi yang lahir di Karlag.

Artikel ini disusun dengan bantuan Museum Sejarah Gulag.

Hampir satu juta tahanan Gulag diberi kesempatan untuk membela tanah airnya selama Perang Dunia II. Banyak di antara mereka bertempur dengan penuh keberanian sehingga dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki