Lapangan Lubyanka, Saksi Kekejaman Pembunuh Berantai dan Eksekusi KGB

Bangunan yang berdiri kokoh di Lubyanka ini dulu merupakan kantor KGB. Foto: Vladimir Fedorenko/RIA Novosti

Bangunan yang berdiri kokoh di Lubyanka ini dulu merupakan kantor KGB. Foto: Vladimir Fedorenko/RIA Novosti

Kata ‘Lubyanka’ terdengar sama menakutkannya dengan kata ‘Gulag’. Lapangan yang berada di pusat Moskow ini pernah menjadi markas berbagai badan keamanan Soviet dan Rusia, yang menjadi saksi berbagai eksekusi, kekerasan, serta penyiksaan. Penghuninya terus berganti, namun esensinya tetap sama: tak ada hal baik yang bisa diharapkan dari tempat itu.

Tak Layak Disebut Perempuan

Pada abad ke-18, seorang bangsawan perempuan bernama Darya Saltykova, salah satu pembunuh berantai yang paling terkenal dalam sejarah dunia, tinggal di Lubyanka. Departemen rahasia dari kepolisian rahasia Kekaisaran Rusia, Privy Chancellery, terletak di wilayah yang sama. Rutinitas yang dilakukan di gedung ‘rahasia’ tersebut ialah penyiksaan yang dilaksanakan atas keputusan pemerintah. Sementara di rumah Saltykova, para budak disiksa dan dibunuh untuk kesenangan semata.

Saltykova, yang berasal dari sebuah keluarga aristokrat, adalah penganut Kristen yang taat. Akan tetapi, ia terlibat dalam praktik kekerasan yang kejam. Saltykova tampak seperti orang cukup waras hingga suaminya meninggal. Setelah itu, ia mulai memukuli pelayannya dengan sebuah batang kayu, dan kemudian mulai mencambuki orang-orang di sekitarnya, kadang hingga tewas. Lama-kelamaan, Saltykova menikmatinya dan mulai menjadi semakin sadis. Ia bisa menggunduli kepala seseorang atau membakarnya. Ia pun tega merebus seorang manusia di dalam air mendidih.

Darya Saltykova, ilustrasi oleh Kurdumov.Darya Saltykova, ilustrasi oleh Kurdumov.

Saltykova diduga telah membunuh 75 orang dengan keji, sebagian korbannya adalah perempuan dan gadis muda, namun jumlah sebenarnya mungkin lebih dari itu.

Budak-budaknya mulai mengadu pada polisi dan gubernur Moskow, tetapi Saltykova memiliki hubungan baik dengan pengadilan. Tak perlu waktu lama menunggu teman dan kerabatnya yang berpengaruh mengeluarkannya dari masalah. Sogokan pun banyak membantu. Setelah bertahun-tahun, akhirnya laporan mengenai tindak-tanduk Saltykova sampai ke tangan Kaisar Ekaterina II.

Foto salah satu halaman bagian dalam Lubyanka. Foto: Getty Images/FotobankFoto salah satu halaman bagian dalam Lubyanka. Foto: Getty Images/Fotobank

Ekaterina jelas tidak senang mendengarnya dan segera memerintahkan diadakan persidangan untuk mengadili Saltykova. Hanya 38 kematian yang diverifikasi, namun itu sudah cukup untuk membuat Saltykova dijatuhi vonis bersalah. Saltykova diturunkan dari status kebangsawanannya dan dipenjara seumur hidup di dalam sebuah biara. Ia juga dinyatakan sebagai seorang laki-laki, karena Ekaterina menilai dirinya tidak layak disebut perempuan. Setelah 11 tahun mendekam di ruang bawah tanah, Saltykova dipindahkan ke sebuah bangunan luar. Orang-orang sering berkerumun di luar jendelanya dan Saltykova akan mengumpati dan meludahi mereka. Ia hidup selama 33 tahun di penjara sebelum akhirnya meninggal.

Museum Ketakutan

Setelah Revolusi 1917, polisi rahasia Kekaisaran versi Soviet—Komisi Darurat atau Cheka—pindah ke sebuah bangunan di Lubyanka. Lapangan Lubyanka menjadi tempat yang ramai sejak saat itu, sebuah titik pusat dari beberapa ruas jalan yang sibuk. Di tengah lapangan terdapat sebuah mata air tempat para kusir meninggalkan kuda mereka untuk minum sementara mereka beristirahat di kedai-kedai lokal. Ketika penduduk Moskow ingin berkendara ke suatu tempat atau ke daerah sekitar, mereka akan mencari kereta kuda di Lubyanka.

Pada 1920, sebuah penjara dibuat di area tersebut, yang kemudian menjadi ‘rumah’ bagi teroris terkenal Boris Savenkov, pujangga besar Osip Mandelshtam, pemenang Nobel Alexander Solzhenitsyn, dan banyak lagi. Eksekusi juga dilaksanakan di sana. Sistem intimidasi di tempat tersebut disempurnakan: narapidana ditaruh dalam sebuah lift muatan dan diangkat secara perlahan diiringi suara motor yang menderu-deru atau dibawa berjalan kaki melalui koridor-koridor suram tanpa ujung. Setelah tiga hari masa interogasi yang terus-menerus, siapapun akan kehilangan orientasi spasial mereka di dalam ruangan tanpa jendela itu.

Kini, beberapa sel yang dulunya penjara diubah menjadi bagian sebuah museum. Sebelumnya, semua orang dapat mengunjungi museum tersebut. Namun sekarang, tempat itu hanya terbuka untuk orang-orang yang telah memiliki izin.

Felix Si Manusia Besi

Dulu, kantor KGB terletak tak jauh dari gedung Lubyanka. Kantor tersebut merupakan tempat para kerabat tahanan datang membawa makanan dan surat untuk orang-orang yang mereka cintai yang ditahan di penjara. Di tempat itu pula para informan akan mengantre untuk membuka surat anonim mereka.

Foto: TASSFoto: TASS

Pada 1958, air mancur yang berada di tengah lapangan diganti dengan patung Felix Dzerzhinky, pendiri Cheka yang juga dikenal sebagai ‘Felix si Manusia Besi’. Selama berpuluh-puluh tahun monumen tersebut tetap menjadi simbol utama sistem yang represif hingga runtuhnya pemerintahan Soviet pada 1991. Gavriil Popov, Walikota Moskow pasca-Soviet yang pertama, memerintahkan untuk membongkar patung seberat 11 ton itu. Di suatu sore pada tanggal 2 Agustus, kerumunan orang bersorak ketika patung Felix si Manusia Besi diderek dari tempatnya.

Monumen tersebut kini berada di Taman Seni Museon di Moskow. Perdebatan mengenai pengembalian patung itu ke Lubyanka masih sering muncul di media Rusia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.