Utang Nyawa: Bagaimana Intelijen Soviet Menyelamatkan Hidup Stalin, Roosevelt, dan Churchill?

Legion Media; Pixabay; Getty Images
Jika mereka terbunuh di Teheran pada 1943, sejarah dan nasib seluruh dunia mungkin akan jauh berbeda.

Pada pertengahan 1943, kemenangan mulai memihak kubu koalisi anti-Hitler dengan tegas. Jerman menderita kekalahan telak di Stalingrad dan Kursk, sementara Jepang dikalahkan dalam pertempuran di Midway dan Guadalcanal. Blok Poros tahu mereka berada di posisi bertahan.

Karena tak mampu membalikkan situasi yang mengerikan itu, Nazi memilih strategi yang berbeda dengan berencana menjatuhkan lawan utama mereka sekaligus. Keputusan itu dibuat untuk menjatuhkan kepemimpinan Soviet, Inggris, dan AS.

Intelijen Jerman di Iran

Gagasan itu lahir setelah intelijen Jerman menguraikan kode angkatan laut AS pada September 1943, dan mengetahui niat Stalin, Roosevelt, dan Churchill yang akan mengadakan konferensi di Teheran pada bulan berikutnya (menurut sumber lain, kebocoran itu terjadi di kedutaan Inggris di Turki). Jerman tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan emas seperti itu.

Perwira militer Soviet mengangkat pistol suar, sambil berdiri di gurun Iran.

Jarak Iran yang cukup jauh sama sekali tidak menjadi hambatan, karena negara itu wilayah yang tak asing bagi mereka. Jika ditengok ke belakang, pada 1930-an, Jerman telah mendirikan jaringan agen yang luas di sana. Pihak berwenang Iran bersahabat dengan Nazi, yang pada gilirannya merasa betah di sana sampai serangan Jerman terhadap Soviet. Namun, pada Agustus 1941, pasukan Soviet dan Inggris telah memasuki Iran, melakukan perubahan rezim tanpa pertumpahan darah, dan memastikan bahwa negara itu akan bergabung dengan koalisi anti-Hitler.

Dalam waktu semalam, Teheran telah berubah dari sekutu Berlin menjadi musuh, setidaknya secara resmi. Meskipun mendapat pukulan serius, jaringan mata-mata Jerman tetap tak keluar dari Iran. Setelah bergerak di bawah tanah, mereka muncul kembali pada malam Konferensi Teheran, ketika Hitler memberikan lampu hijau untuk Operasi Long Jump.

Persiapan

Operasi untuk melenyapkan tiga pemimpin dunia ditempatkan di tangan SS-Obersturmbannführer (Letnan Kolonel) Otto Skorzeny, penyabot tertinggi Reich Ketiga dan orang yang membebaskan Mussolini.

Dari kiri: Perwira Inggris yang tidak dikenal, Kepala Staf AS Jenderal George C. Marshall, Duta Besar Inggris untuk Uni Soviet Sir Archibald Clark Keer, Juru Bahasa Stalin Harry Hopkins, Josef Stalin dan Menteri Luar Negeri Molotov Jenderal Voroshilov.

Menurut rencana, unit sabotase Jerman yang telah mendarat di Iran akan menyusup ke Teheran, membaur dengan kerumunan, dan melakukan penyergapan. Saat itu, wajah-wajah Eropa adalah pemandangan yang biasa di ibukota Iran, karena kota itu penuh dengan pengungsi perang dari Eropa.

“Mereka (Orang Eropa) yang berpakaian bagus bahkan mengendarai limosin yang apik atau melenggang di sepanjang trotoar. Mereka adalah pengungsi kaya dari Eropa yang dilanda perang yang berhasil memindahkan kekayaan mereka ke Teheran di waktu yang tepat dan hidup dengan nyaman di sana. Tentu saja, ada agen fasis di antara kerumunan ini,” kenang Boris Tikhomolov, pilot yang menerbangkan Stalin ke Iran.

Jerman tahu bahwa sementara kedutaan Inggris dan Soviet terletak bersebelahan, kedutaan Amerika berada di pinggiran kota. Presiden AS Franklin Delano Roosevel yang harus menghadapi perjalanan melalui jalan-jalan sempit di Teheran untuk sampai ke pertemuan menjadi target pembunuhan utama, atau, jika beruntung, ia bahkan mungkin bisa ditangkap hidup-hidup.

Otto Skorzeny.

Kelompok penyabot pertama yang terdiri dari enam agen, termasuk dua operator radio, diterjunkan di dekat Qum, 70 kilometer dari ibukota Iran. Setelah menyusup ke Teheran, tugasnya adalah membangun komunikasi radio dengan Berlin dan mempersiapkan jalan bagi kelompok-kelompok berikutnya. Dalam dua minggu, para penyabot telah berhasil mencapai rumah perlindungan yang didirikan oleh agen-agen lokal.

Tersandung

Namun, intelijen Soviet juga tidak duduk diam. Stalin segera menerima informasi dari berbagai saluran tentang kemungkinan akan upaya yang mengancam nyawa para pemimpin Sekutu.

Sumber utama adalah agen Nikolai Kuznetsov. Dia berbicara bahasa Jerman dengan cukup baik untuk memasang badan sebagai Letnan Wehrmacht Paul Siebert. Sekembalinya di kota Rivne di Ukraina Barat, ia berteman dengan SS-Sturmbannführer (Mayor) Hans Ulrich von Ortel, yang selama pertandingan minum telah memuntahkan informasi operasi mendatang.

Nikolai Kuznetsov.

Stalin terbang ke Teheran dengan mengantongi informasi tentang rencana Jerman. Sebagai permulaan, keamanan ditingkatkan secara serius, dan agen-agen Jerman yang dikenal telah dikeluarkan dari kota. Roosevelt bahkan diundang untuk tinggal di kedutaan Soviet, di sebelah ruang pertemuan, untuk alasan keamanan. Roosevelt dengan senang hati menyetujui, sebagian alasannya adalah karena kakinya yang lumpuh membuat perjalanan menjadi sulit.

Itu tidak lama sebelum SMERSH (kontra intelijen Soviet) mengungkap kelompok sabotase pertama, yang dinetralkan bahkan sebelum konferensi dimulai. Segera setelah Berlin tahu, Operasi Long Jump pun dibatalkan. 

Jauh sebelum James Bond, aksi intelijen Inggris telah lama aktif di Rusia, dan tak ada satupun negara yang mampu menandingi keberhasilan Britania Raya dalam menjalankan aktifitas intelijen itu. Dengan membunuh tokoh-tokoh politik utama dan bahkan kaisar, Inggris menghujam kepemimpinan Rusia tepat di jantungnya. Inilah tiga misi rahasia Inggris yang sukses menghujam kekaisaran Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki