FOTO: Bagaimana Soviet Memerangi Alkoholisme?

Seorang lelaki mabuk tengah dipapah pulang.

Seorang lelaki mabuk tengah dipapah pulang.

Yury Rybchinsky/MAMM/MDF/russiainphoto.ru
Otoritas  Soviet telah mencoba membatasi produksi dan penjualan alkohol pada beberapa kesempatan, juga memperkenalkan pengobatan wajib untuk pencandu alkohol. Namun semuanya sia-sia.

Sebuah hotel untuk pekerja dari

Tampaknya Pangeran Vladimir, yang hidup pada pergantian abad ke-9/10, adalah orang pertama yang menyebutkan bahwa mabuk merupakan bagian dari karakter nasional Rusia.  Frasa legendaris "Kegembiraan Rusia terletak pada minum" dikaitkan dengannya. Larangan minum alkohol mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ia tak memilih Islam,  melainkan Kristen Ortodoks, saat memutuskan agama yang akan dipeluk Rusia.

Tsar-tsar berikutnya juga terlihat lebih suka minum secara berlebihan, dan mereka sendiri sangat menikmati minuman. Ekaterina II bahkan dikreditkan dengan frasa "Lebih mudah memerintah orang yang mabuk". 

Tentara Prancis, Rusia, AS, Italia, dan Serbia minum bir pada Paskah, 1917.

Pada awal abad ke-19, upaya dilakukan di Kekaisaran Rusia untuk mempromosikan pantangan minum alkohol, tetapi Nikolay II yang memperkenalkan larangan pertama pada awal Perang Dunia Pertama. 

Otoritas Soviet melanjutkan kebijakan perang karena Bolshevik membutuhkan kaum proletar yang segar dan berbadan sehat. Namun pada 1920-an, selama periode Kebijakan Ekonomi Baru, larangan penjualan alkohol dicabut ketika menjadi jelas bahwa konsumsinya menghasilkan pendapatan yang besar.

Uni Soviet kembali meluncurkan beberapa kampanye anti alkohol lagi. Pada tahun 1929, bir dan kios bir dilarang, dan majalah mulai menerbitkan artikel tentang bahaya yang disebabkan oleh alkohol. 

Namun, pihak berwenang segera memahami kerusakan yang disebabkan oleh kebijakan tersebut terhadap perekonomian. Pada 1934, produksi bir dilanjutkan, dan merek-merek baru pun bermunculan.

Pada 1958, orang-orang di negara ini minum alkohol dengan gegabah: alkohol adalah cara untuk menghilangkan stres dan menikmati waktu luang bersama. Orang-orang biasa minum banyak selama hari libur nasional. Pihak berwenang mengeluarkan dekrit tentang pembatasan penjualan vodka dan minuman beralkohol.

Seorang lelaki mabuk tengah dipapah pulang.

Namun, kebanyakan kebanyakan penduduk desa hampir tidak pernah membeli alkohol di toko-toko, melainkan membuat minuman keras mereka sendiri, samagon. Mereka melakukannya secara diam-diam (orang-orang di foto di bawah ini bersembunyi di hutan). Mereka tak dapat membayangkan, misalnya, pesta atau liburan tanpa minuman. Pada 1960-an, pihak berwenang melancarkan kampanye menentang minuman pengganti itu dan memperkenalkan pertanggungjawaban pidana untuk produksi minuman keras.

Namun, alkohol dapat dibeli setiap saat di restoran dan hanya orang kaya yang mampu membelinya. 

Orang-orang membuat minuman keras sendiri, pertengahan 1950-an.

Kampanye anti alkohol yang paling terkenal terjadi pada 1970 – 1980-an. Saat itulah pengobatan wajib untuk alkoholisme diperkenalkan dan lembaga-lembaga mengerikan yang disebut "pusat rehabilitasi alkohol" didirikan.

Pada kenyataannya, orang tidak dirawat karena kecanduan alkohol di tempat-tempat ini, melainkan dikurung di dalam empat dinding tanpa akses ke alkohol. "Pasien" diperlakukan lebih mirip dengan narapidana. 

Seorang pasien di pusat rehabilitasi alkohol, 1970-an.

Pusat detoksifikasi adalah lembaga yang paling sadis yang telah beroperasi sejak 1928 hingga 2000-an. Polisi akan membawa orang mabuk yang ditahan di jalan ke tempat-tempat ini. Di sana, mereka diperiksa oleh seorang dokter, dan jika kondisinya parah, mereka dipindahkan ke rumah sakit. Namun, jika mereka tidak dalam bahaya, mereka akan tetap di sana sampai mereka benar-benar sadar. 

Pemindahan ke pusat detoksifikasi, 1970-an.

Setiap orang yang menghabiskan waktu di pusat detoksifikasi memiliki pemberitahuan yang dikirim ke tempat kerja mereka, di mana mereka mendapat teguran keras. Juga, metode penghinaan yang memalukan diterapkan pada orang-orang, di mana mereka ditelanjangi dan ditaruh di bawah pancuran air dingin. Jika menolak, mereka dapat diikat ke tempat tidur mereka. 

Pusat detoksifikasi di Cherepovets, 1980.

Saat ini, Rusia juga mengambil tindakan aktif terhadap konsumsi alkohol. Iklan minuman beralkohol di media telah dilarang sejak 2009, dan penjualan dibatasi antara pukul 08.00 – 22.00 atau 09.00 – 23.00 (tergantung wilayah).

Pusat detoksifikasi di Cherepovets, 1980.

Menurut Departemen Kesehatan, konsumsi alkohol berkurang setengahnya antara 2011 dan 2018,  yakni dari 18 liter menjadi 9,7 liter etil alkohol per kapita per tahun. Sedangkan menurut WHO, konsumsi alkohol Rusia telah menurun hingga 40 persen sejak tahun 2003.

Minuman keras merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian orang Rusia. Namun, bagaimana sejarahnya hingga Rusia mendapat reputasi sebagai negara yang suka minum alkohol?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki