Pertempuran 1612: Perjuangan Berdarah Tentara Rakyat demi Mempertahankan Moskow

Pertempuran dengan penjajah Polandia di Gerbang Vladimir Kitai-Gorod (pecinan) di Moskow, 1612, lukisan cat air oleh G. Lissner.

Pertempuran dengan penjajah Polandia di Gerbang Vladimir Kitai-Gorod (pecinan) di Moskow, 1612, lukisan cat air oleh G. Lissner.

Getty Images
Pada awal abad ke-17, Persemakmuran Polandia-Lituania adalah salah satu negara terkuat di Eropa Timur. Di tengah kekacauan yang terjadi di Rusia, Persemakmuran berusaha untuk menobatkan kandidatnya sendiri di kursi kekuasaan Moskow dan hampir memenangkan persaingan sengit selama berabad-abad dengan tetangga timurnya itu.

“Pada akhir 1611, pemerintah Moskow tampaknya hampir hancur total. Tak hanya merebut Smolensk, pasukan Polandia bahkan telah membakar Moskow dan merebut Kremlin sehingga menegaskan keberadaan mereka di sana. Tak ketinggalan, Swedia pun telah mengambil Novgorod dan mengajukan kandidat mereka sendiri untuk takhta Moskow. Sementara, negara itu sendiri tetap tanpa pemerintahan ....”

Gambaran yang mengejutkan dari sejarawan Vasily Klyuchevsky ini sangat kontras dengan status yang dinikmati Rusia — yang kala itu masih berusia sangat muda — beberapa dekade sebelumnya ketika negara tersebut menaklukkan wilayah luas di timur dan memperkenalkan sejumlah reformasi politik. Namun, pada awal abad ke-17, keberhasilan yang dibawa dari era pemerintahan Ivan yang Mengerikan itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Dengan kematian pengganti Ivan, dinasti Rurik, yang telah memerintah wilayah Rusia selama tujuh abad, berakhir.

Persaingan Menduduki Takhta

Penguasa Rusia setelah jatuhnya dinasti Rurik tidak populer dan mereka berkontribusi terhadap keberhasilan Dmitry Palsu I, seorang petualang yang mengaku sebagai putra Ivan yang Mengerikan. Dengan restu kaum bangsawan Moskow dan dukungan Polandia, yang merupakan pemain kuat di bagian Eropa pada saat itu, ia memproklamasikan diri sebagai tsar Rusia pada 1605.

Dmitriy Palsu I bersumpah pada Sigismund III, penguasa monarki Persemakmuran Polandia-Lituania, untuk memperkenalkan Katolik di Rusia.

Bangsawan Moskow dengan segera tak menyukai penguasa ini, dan ia dibunuh kurang dari setahun setelah penobatannya. Kaum bangsawan kemudian memilih tsar lain dari kalangan mereka sendiri, Vasily Shuysky, yang otoritasnya segera ditantang oleh Dmitry Palsu II dan Polandia. Setelah sejumlah perjuangan, Shuysky dipaksa untuk mengambil sumpah monastik dan akhirnya diserahkan kepada raja Polandia. Para bangsawan, yang lebih takut pada Dmitry Palsu II daripada orang-orang Polandia, meminta putra raja Polandia untuk mengambil takhta Moskow dan mengundang pasukan Polandia ke ibu kota Rusia. Perjuangan internal ini, yang telah menyulitkan Rusia selama beberapa tahun, kemudian berubah menjadi perjuangan demi kelangsungan hidup bangsa.

Sebagaimana yang dikemukakan sejarawan Dmitry Volodikhin, kekuatan pendorong utama semua kekacauan (yang di Rusia dikenal sebagai Masa Kekacauan) adalah bangsawan daerah. Di Rusia pada waktu itu, “kaum bangsawan daerah, yang terdiri dari puluhan ribu pria, tak punya peluang untuk menaikkan status mereka karena diblokir oleh bangsawan kelas atas di Moskow. Hal tersebut menjadi dorongan sempurna bagi kemunculan berbagai jenis tentara penipu dan resimen petualang.”

Tumbuhnya Gerakan Akar Rumput

Tampaknya negara ini sempat terperosok ke dalam konflik di kalangan bangsawan. Ada orang-orang Polandia di Kremlin dan orang-orang Swedia telah mencaplok sepotong besar bagian utara Rusia yang tidak akan pernah direbut kembali. Namun, negara ini berhasil bertahan, dan akar solusi masalah ini berasal dari tempat yang tak terduga.

Seperti yang disampaikan pemikir sosial Rusia abad ke-19 Konstantin Aksakov, di bawah negara yang hancur tersebut masih ada struktur sosial yang solid. Kelas menengah dan bawah berkumpul bersama dan berjuang untuk mempertahankan negara dengan tangan mereka sendiri.

Kuzma Minin, seorang penjual daging, terpilih sebagai pejabat kota di Nizhniy Novgorod (400 kilometer dari Moskow) dan menjadi seorang pria yang memimpin perjuangan untuk membela bangsa. Pada 1611, ia diangkat menjadi pemimpin Tentara Sukarelawan Rakyat, suatu upaya (yang kedua) untuk membentuk pasukan demi membebaskan Moskow dari orang-orang Polandia setelah gagalnya percobaan pertama.

Kuzma Minin dan Dmitriy Pozharskiy.

Pembentukan pasukan dimulai pada September ketika Minin menyampaikan orasinya di depan publik. Ia menyerukan kepada rekan-rekan warganya “untuk tidak menyisakan nyawa mereka” dan menyumbangkan semua yang mereka miliki demi membebaskan negara.

Minin kemudian mengambil peran administratif dalam organisasi tentara, dan Pangeran Dmitry Pozharsky menjadi pemimpin militer. Pozharsky telah memenangkan sejumlah pertempuran saat melayani tsar sebelumnya dan merupakan pemimpin yang sangat dicintai saat itu.

Dua Tentara Berkumpul di Moskow

Pengurus Tentara Sukarelawan Rakyat mendapatkan banyak dana, mengumpulkan beberapa ribu tentara yang mulai berbaris perlahan menuju Moskow, sambil merekrut anggota baru di sepanjang jalan. Setelah mencapai hampir 10 ribu orang, tentara akhirnya mencapai Moskow pada Agustus 1612.

Sementara itu, tentara Polandia yang besar, dengan 12 ribu tentara, mendekati Moskow dari barat. Polandia ingin membebaskan garnisun Polandia yang kala itu dikepung di Kremlin oleh sisa-sisa Tentara Sukarelawan pertama. Garnisun berada dalam kondisi yang mengerikan. Mereka kehabisan makanan dan terpaksa melakukan kanibalisme.

Resimen Tentara Sukarelawan tiba di pusat kota Moskow terlebih dahulu dan mengambil posisi. Pasukan Polandia, di bawah komando Hetman Jan Karol Chodkiewicz, menyerang Rusia pada 22 Agustus. Pertempuran berlangsung selama enam jam, tapi Chodkiewicz dan tentara Polandia tak berhasil mencapai Kremlin.

Kekalahan Total

Pasukan Polandia menyerahkan Kremlin Moskow kepada Pangeran Pozharsky pada 1612.

Pertempuran terakhir terjadi selama dua hari. Setelah lima jam pertempuran sengit di pusat kota, pasukan Polandia mematahkan barisan Rusia dan memaksa resimen Tentara Sukarelawan mundur. Namun, mereka tak dapat mempertahankan kesuksesan ini dan kehilangan banyak orang akibat hal itu. Sementara Polandia mulai pulih, Rusia berhasil mengumpulkan kembali dan meluncurkan serangan balasan yang kejam. Hal yang terutama efektif adalah serangan tak terduga oleh Kuzma Minin yang didampingi oleh beberapa ratus penunggang kuda.

Orang-orang Cossack juga berhasil melancarkan pukulan telaj. Sebagaimana yang dicatat sejarah, orang-orang Cossack mulai mundur, tetapi bangkit kembali berkat pengaruh orasi biarawan Avraamiy Palitsyn yang mengobarkan semangat. Ia mengumpulkan pasukan yang ditinggalkan dengan membunyikan lonceng gereja dan memanggil mereka dengan kata-kata yang menyentuh dan menginspirasi.

Mikhail Feodorovich dinobatkan sebagai tsar pada 14 Maret 1613.

Akhirnya, Polandia tak bisa lagi mempertahankan posisi mereka dan melarikan diri dari Moskow. Pertempuran telah dimenangkan oleh Tentara Sukrelawan. Kemenangan tersebut menggagalkan impian orang-orang Polandia untuk menduduki Kremlin dan mereka menyerah dalam beberapa bulan.

Sebagaimana yang dicatat oleh seorang penulis sejarah Polandia, dengan kekalahan ini, ambisi Polandia untuk menguasai pemerintahan Moskow sirna selamanya. Periode penuh gejolak ini berakhir pada tahun berikutnya dengan dinobatkannya Tsar Mikhail, bapak pendiri dinasti Romanov, sebagai penguasa yang baru.

Meski begitu, Mikhail Romanov bukanlah seorang tsar seperti yang Anda bayangkan. Ia memiliki sifat unik yang membantunya mencapai keberhasilan selam masa pemerintahannya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More