Ekaterina I: Perempuan Pertama di Takhta Kekaisaran Rusia, Seorang Asing yang Dituduh Penyihir

Ekaterina I, permaisuri Rusia pada 1725 – 1727.

Ekaterina I, permaisuri Rusia pada 1725 – 1727.

Pelukis tak diketahui/Museum Hermitage/Wikipedia
Ekaterina I adalah seorang ratu yang tak biasa. Ia adalah orang asing dan tak tahu cara menulis dalam bahasa Rusia. Ia berasal dari kalangan rakyat jelata, tapi nasib membawanya naik takhta sebagai rampasan perang. Pernikahannya dengan Pyotr yang Agung bertahan selama lebih dari dua dekade. Sang tsar bahkan mewariskan kepadanya sebuah kerajaan. Namun, sejumlah orang menuduhnya naik takhta berkat bantuan ilmu hitam.

Istri sang tsar reformis Rusia Pyotr yang Agung sama uniknya dengan pemerintahannya yang mendorong penuh gerakan modernisasi demi mengganti cara hidup tradisional Rusia dengan kebiasaan-kebiasaan Barat.

Hingga kini, tak ada informasi yang jelas mengenai tempat kelahiran Ekaterina I, ratu pertama Rusia. Beberapa ahli mengatakan ia berasal dari Swedia, tetapi sebagian besar peneliti percaya ia sebenarnya lahir di tempat yang kini menjadi salah satu wilayah negara Baltik — entah Estonia atau, kemungkinan besar, Latvia. Ia diyakini menjadi yatim piatu akibat wabah yang merenggut nyawa orang tuanya dan dibesarkan oleh seorang pendeta setempat. Ia dikenal sebagai Marta Skavronskaya dan bekerja sebagai tukang cuci.

Jalan Menuju Takhta

Ada banyak kisah mengenai kehidupan sang ratu. Ketika ia berusia 17 tahun, ia menikah dengan seorang kavaleri Swedia, yang mungkin merupakan seorang pemain trumpet militer. Sekitar periode tersebut (1702), daerah tempat tinggal Marta dikepung oleh pasukan Rusia selama Perang Utara Raya antara Rusia dan Swedia — kehidupannya sangat dipengaruhi oleh perang itu. Marta diambil sebagai tahanan dan berpindah tangan beberapa kali, mulai dari personel militer kelas bawah hingga berakhir di tangan marsekal lapangan Boris Sheremetyev.

Namun, itu bukan perhentian terakhir perjalanan hidupnya. Di tempat Sheremetyev, ia bertemu dengan tangan kanan tsar Aleksandr Menshikov. Menshikov menaruh minat pada sang perempuan muda itu dan mengambilnya sebagai salah satu pelayannya sehingga ia pindah dari markas marsekal ke tempat favorit sang kaisar. Di sanalah Pyotr yang Agung melihatnya dan langsung terpesona oleh perempuan tersebut. Mengetahui hal ini, Menshikov pun menyerahkan Marta kepada tsar.

Meski begitu, Marta tetap berteman dengan Menshikov seumur hidupnya. Mereka mengatakan bahwa persahabatan mereka berdasar pada asal-usul yang sama, dan mereka secara sosial dekat karena Menshikov juga berasal dari kalangan orang biasa.

Aleksandr Menshikov, teman dan tangan kanan Tsar Pyotr yang Agung.

Berkomplot untuk Menarik Perhatian Tsar?

Hubungan Marta dengan Pyotr Agung berlangsung hingga kematian sang tsar pada 1725. Mereka menikah dan, kemudian, Pyotr mengangkatnya sebagai ratu. Karena situasi semacam ini belum pernah terjadi dalam sejarah Rusia, ada kemungkinan Ekaterina mengambil alih kekaisaran saat Peter meninggal. Ia dibaptis menjadi seorang Ortodoks dan mengambil nama Ekaterina. Ayah baptisnya adalah Aleksei, putra Pyotr dari pernikahan pertamanya.

Ada pendapat yang bertentangan tentang penampilan Ekaterina. Menurut salah seorang sezamannya, “dia menonjol dengan kecantikannya dan tubuhnya yang besar.” Pada saat yang sama, sejarawan Evgeniy Anisimov berpendapat bahwa Ekaterina “tidak secantik putrinya, Elizaveta I, dan tak seagung Ekaterina II. Ia memiliki tulang yang lebar, dan gemuk, dan (kulitnya) terbakar matahari seperti orang biasa....”

Kontroversi atas penampilannya dan cara ia naik ke tampuk kekuasaan tertinggi dalam tatanan masyarakat Rusia membuat sebagian orang berpikir bahwa semua itu dilakukan dengan bantuan semacam sihir. Sejarah mengenang seorang kopral salah satu resimen tentara Rusia Vasiliy Kobylin yang mengklaim bahwa Ekaterina menggunakan semacam sihir untuk memikat Pyotr. Menurut sang kopral, ia mempraktikan ilmu pelet bersama Menshikov, yang juga menjelaskan kehadirannya di dekat takhta untuk waktu lama.

“Katerinushka” Adalah Cinta

Jika Anda membaca surat-surat yang dikirim antara Pyotr dan Ekaterina, jelas bahwa hubungan mereka kuat dan tulus. “Katerinushka (Ekaterina kecil), temanku,” demikian sang tsar menyapanya lewat tulisan.

Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang tak takut terhadap kemarahan sang tsar — Pyotr dikenal memiliki temperamen yang keras. Pyotr secara pribadi memenggal beberapa prajurit yang terlibat dalam pemberontakan. Pyotr bahkan ikut menyiksa putranya sendiri, Aleksei, setelah dia didakwa karena telah berkhianat dan kemudian dieksekusi. Orang-orang mengatakan bahwa Ekaterina memiliki karisma yang dapat menenangkan sang tsar yang berapi-api.

Meski memiliki temperamen yang meledak-ledak, Pyotr tetap memaafkan perselingkuhan istrinya itu ketika hal itu terungkap tak lama sebelum kematiannya. Meski begitu, kekasih Ekaterina terpaksa harus kehilangan kepalanya sebagai akibat dari kemurkaan sang tsar yang sekarat.

Setelah kematian Pyotr, Ekaterina menjadi permaisuri dengan bantuan resimen penjaga elite dan Menshikov. Dialah yang secara de facto bertindak sebagai penguasa kekaisaran selama dua tahun, yang berakhir dengan kematiannya pada 1727.

Hampir semua orang tahu bahwa Nikolay II dan seluruh keluarganya dieksekusi pada 1918, hampir setahun setelah Bolshevik merebut kekuasaan. Namun, jauh sebelum masa pemerintahannya, pembunuhan raja bukanlah hal yang aneh.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More