'Untuk Menghindari Perang Baru': Gagasan Stalin Menggabungkan Uni Soviet ke NATO

Pada 1949, Menlu Soviet Andrey Vyshinsky ke London untuk membahas kemungkinan Moskow bergabung NATO
Evgeniy Khaldey/Sputnik

Pada 1949, Menlu Soviet Andrey Vyshinsky ke London untuk membahas kemungkinan Moskow bergabung NATO Evgeniy Khaldey/Sputnik

Evgeniy Khaldey/Sputnik
Apakah Perang Dingin tak dapat dihindari? Beberapa ilmuwan percaya sebaliknya. Pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, pemerintah Soviet mempertimbangkan untuk bergabung dengan NATO, dan penerus Stalin bahkan mendukung gagasan tersebut pada pertengahan tahun 1950an. Apakah ini hanya sebuah gerakan para pemimpin Soviet untuk menjaga hubungan, atau ada lebih dari itu - keinginan tulus untuk menghentikan persaingan berbahaya antara kekuatan besar dan mengakhiri Perang Dingin?

Gagasan bahwa Moskow bergabung dengan NATO telah tersebar di ibu kota Soviet pada saat aliansi tersebut pertama diciptakan pada tahun 1949. Ini didorong oleh diskusi di parlemen Inggris mengenai keperluan mengundang Moskow untuk bergabung organisasi keamanan tersebut. Meski Perang Dingin sudah dimulai, kenangan akan perjuangan bersama melawan Nazi Jerman masih ada.

Mengenai hal ini, Menteri Luar Negeri Soviet Andrey Vyshinsky mengirim sebuah catatan ke London, mengusulkan untuk membicarakan kemungkinan Moskow bergabung dengan NATO. Namun, gagasan Soviet tak ditanggapi.

Ada Apa di Balik Tawa Stalin?

Isu tersebut mulai muncul kembali pada 1952 dalam sebuah pertemuan antara Stalin dengan Duta Besar Prancis untuk Moskow Louis Joxe. Sang diplomat menjelaskan bahwa menurut pemimpin Prancis Jenderal Charles de Gaulle, NATO adalah sebuah organisasi damai yang keberadaannya tidak bertentangan dengan Piagam PBB. Stalin tertawa mendengarnya, dan bertanya apakah Uni Soviet harus bergabung dengan NATO.

Seremoni penandatanganan pembentukan NATO pada 4 April 1949 di Washington.

Menurut sejarawan Natalia Egorova, kemungkinan besar ini hanya sarkasme Stalin. Namun, banyak ilmuwan yang menganalisis lebih dalam. Sejarawan Nikolai Kochkin percaya perkataan Stalin serius, dengan bukti bahwa pada 1951 di Uni Soviet Stalin berulang kali menyatakan bahwa Moskow "akan bergabung dengan aliansi tersebut", jika ini berkaitan dengan kemungkinan agresi dari Jerman di masa depan - terbelahnya Jerman merupakan isu terpenting di Eropa saat itu.

Kekhawatiran Soviet

Pada saat yang sama, Stalin berpikir bahwa NATO "mengacaukan PBB" karena aliansi tersebut memiliki "karakter agresif" sebagai "aliansi militer tertutup negara-negara" di tengah kurangnya pengaturan keamanan di Eropa.

Tiga serangkai: Nikita Khrushchev, Nikolai Bulganin and Georgy Malenkov.

Itulah sebabnya ketika pada tahun 1954 penerus Stalin - tiga serangkai yang terdiri dari Nikita Khrushchev, Georgy Malenkov dan Nikolai Bulganin - kembali membahas ide bergabung, Moskow mempertimbangkan beberapa hal. Ini terkait prinsip kedaulatan, dengan alasan bahwa tidak tepat bagi NATO untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Moskow juga tidak menyukai kehadiran militer Amerika di Eropa, dan ingin menghapus markas A. dari benua tersebut.

Kompromi Moskow

Ketika mengajukan proposal resminya ke Barat pada tanggal 31 Maret 1954, kepemimpinan Soviet tidak ingin terlalu menekankan syarat tersebut. Kochkin mengutip sebuah memo Kemenlu yang menyatakan: "Masalah yang kami perhatikan harus dibentuk sedemikian rupa supaya pemerintah tiga negara (Inggris, Prancis, dan AS) tak berkesempatan melakukan langkah propaganda. "

Proposal tersebut ditambah lagi dengan gagasan Soviet lainnya - menandatangani sebuah perjanjian pan-Eropa mengenai keamanan kolektif.

Untuk menyingkirkan kemungkinan kritik dari Barat, Moskow melunakkan posisinya, mengundang AS untuk bergabung dalam sebuah perjanjian Eropa yang telah diusulkan. Sebelum bergabung, dinyatakan bahwa Washington tidak punya urusan apa-apa dengan Eropa.

Ancaman Terhadap Peradaban

Apa yang mendorong kepemimpinan Soviet untuk mendorong sebuah perjanjian keamanan Eropa dan mempertimbangkan bergabung NATO? Alasan Moskow dapat dilihat dari sebuah pidato oleh Perdana Menteri Soviet Georgy Malenkov pada tanggal 12 Maret 1954. Ia mengingatkan tentang ancaman berakhirnya peradaban manusia sebagai akibat dari perang dunia ketiga yang berbuah menjadi konflik nuklir.

Pada bulan Mei 1954, pihak Barat menolak usulan Moskow, dengan menyatakan bahwa masuknya Uni Soviet tidak sesuai dengan tujuan demokratis dan pertahanan NATO. Gagasan dari perjanjian itu pun tidak disambut baik.

Menurut pendapat sejarawan Inggris Geoffrey Roberts, Soviet kemudian "terbuka untuk diskusi serius tentang pembentukan struktur keamanan pan-Eropa - negosiasi yang mungkin menyebabkan berakhirnya Perang Dingin."

Ia menyesalkan bahwa Barat merespons ajuan Uni Soviet dengan "lebih fleksibel".

Ada banyak batu sandungan dalam sejarah hubungan Rusia-NATO. Cari tahu apakah kedua pihak akan melanjutkan pertikaian, atau sebaliknya menghindari peperangan di Eropa.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki