Rusia dan Barat di Ambang Perang Dingin

Jika Ukraina bergabung dengan NATO, maka krisis Rudal Kuba yang terjadi pada masa perang dingin akan terulang. Foto: AP

Jika Ukraina bergabung dengan NATO, maka krisis Rudal Kuba yang terjadi pada masa perang dingin akan terulang. Foto: AP

Di tengah kisruh Ukraina, NATO meningkatkan kekuatan militernya di Eropa Timur. Moskow tak gentar menjawab ‘tantangan’ tersebut. Para pengamat politik melihat ancaman perang dingin sudah di depan mata.

April lalu, Asisten Menteri Keamanan dan Pertahanan Amerika Serikat untuk Urusan Keamanan Internasional Derek Chollet menyatakan Departemen Militer AS telah mengirim enam pesawat tempur taktis F-15 tambahan ke Libya dan 12 pesawat tempur supersonik multifungsi F-16 serta 200 instruktur ke Polandia.

Sebelumnya, pada bulan Maret, kapal perusak Amerika yang dilengkapi dengan sistem tempur Aegis muncul di perairan Laut Hitam. Kepala Bidang Militer NATO juga telah membuat rute pengintaian udara untuk pesawat terbang, serta pemantau ruang udara yang dilengkapi Air Warning and Control Systems di Rumania dan Bulgaria.

Itu baru permulaan. Komandan Utama Pasukan Gabungan Eropa, Jendral Angkatan Udara Amerika Serikat Philip Breedlove menyatakan, mereka siap bertindak lebih jauh jika dibutuhkan. Langkah-langkah spesifik yang disebut Breedlove adalah penguatan angkatan udara dan laut yang menjaga keamanan perbatasan negara-negara aliansi Barat dari Laut Baltik hingga Laut Hitam.

Barat mengambil tindakan tersebut sehubungan dengan kebijakan yang diambil Rusia terkait Ukraina dan bergabungnya Semenanjung Krimea dengan Rusia. Sementara itu, Moskow mempunyai dasar pemikiran yang berbeda. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa keputusan Rusia terkait Krimea disebabkan ancaman bergabungnya Ukraina ke NATO. ”Saat infrastruktur militer asing mendekat ke perbatasan kami, kami harus mengambil langkah balasan,” ujar Putin pada Kamis (17/4) lalu.

Menurut Putin, jika pasukan NATO masuk ke Krimea, mereka tentu membawa senjata tempur. “Hal itu akan membuat Rusia terdesak di Laut Hitam,” terang pemimpin Rusia tersebut. Putin mengingatkan bahwa negara-negara NATO sebelumnya pernah menyatakan tidak akan memperluas bloknya, namun kenyatannya mereka mengingkari janji tersebut.

Kolonel Konstantin Sivkov yang telah menjadi staf umum angkatan militer Rusia selama bertahun-tahun menerangkan, serangan non-nuklir kini dilakukan menggunakan pesawat tempur berbasis carrier dan peluru kendali jelajah bersayap dari laut, seperti di Libya. Rusia sebagai negara adidaya terhindar dari ancaman tersebut. Namun, jika Ukraina bergabung dengan NATO, maka pusat administrasi dan militer Rusia, pusat komunikasi strategis, dan bahkan persenjataan nuklir strategis Rusia akan masuk dalam jangkauan serangan pertahanan udara taktis NATO yang memiliki radius 500 kilometer. Bila NATO melancarkan serangan mendadak, Rusia terancam tak sempat melakukan antisipasi. Sementara persenjataan rudal Rusia yang tersisa dapat dihancurkan oleh pertahanan misil Eropa yang saat ini aktif dikerahkan di Eropa Timur dan di sekitar garis pantai Rusia di Laut Utara.

Bergabungnya Ukraina ke NATO tentu akan memperburuk hubungan Rusia-Ukraina. Tapi hal itu sangat mungkin terjadi, apalagi setelah penurunan paksa Presiden Ukraina Viktor Yanukovich dan Ukraina dikuasai pemerintah sementara pro-AS yang dipimpin Yatshinyuk-Turchinov.

Jika Ukraina bergabung dengan NATO, maka krisis Rudal Kuba yang terjadi pada masa perang dingin akan terulang. Ketika itu AS menaruh rudal nuklir jarak menengah di Turki, dan sebagai balasannya, Khrushev, Perdana Menteri Soviet saat itu, menaruh rudal di Kuba.

Dalam latihan perang berskala besar pada peringatan Hari Kemenangan Rusia, Jumat (9/5) lalu, Kremlin telah mendemonstrasikan bagaimana situasi akan berkembang bila hal ini terus berlanjut. Pada latihan itu, rudal balistik antar benua Topol diluncurkan dari kosmodrom di Plesetsk. Kapal selam armada Laut Utara dan Samudera Pasifik juga meluncurkan dua rudal balistik. Sementara, pasukan Rusia meluncurkan roket dari sistem peluncur rudal balistik taktis bergerak Iskander-M. Dalam skenario latihan, Rusia juga memperhitungkan perlawanan setelah melancarkan serangan rudal nuklir besar-besaran.

Moskow mengumumkan telah melakukan penguatan armada Laut Hitam secara signifikan untuk menjaga pertahanan Rusia dari arah selatan, dan armada Laut Mediterania juga akan ditingkatkan. Selain itu, sistem peluncur rudal balistik bergerak Iskander-M sudah ditempatkan di Kaliningrad. Sistem rudal tersebut memiliki jarak luncur ke seluruh Eropa Tengah.

Juru Bicara Presiden Rusia Dmitry Peskov menegaskan Rusia harus mengambil tindakan demi menjamin keamanannya sendiri. “Satu langkah lagi NATO mendekati perbatasan Rusia, maka bersiaplah untuk menyusun ulang seluruh arsitektur pertahanan Eropa,” ujar Peskov.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.