Akankah NATO dan Rusia Menghindari Peperangan di Eropa?

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg tiba untuk konferensi pers setelah pertemuan Dewan NATO-Rusia di markas besar NATO di Brussel, Kamis (30/3).

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg tiba untuk konferensi pers setelah pertemuan Dewan NATO-Rusia di markas besar NATO di Brussel, Kamis (30/3).

AP
Pertemuan Dewan Rusia-NATO pada 30 Maret lalu tak menghasilkan terobosan apa pun. Meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak membuat benua Eropa semakin menyerupai teater perang yang potensial. Lantas, dapatkah kedua pihak menemukan jalan keluar demi mencegah kehancuran yang mengerikan?

Pertemuan Rusia-NATO berlangsung di tengah suasana permusuhan dan saling curiga yang terus tumbuh di antara keduanya. Beberapa menyebutnya sebagai ‘Perang Sejuk’, sementara yang lain khawatir bahwa meningkatnya ketegangan dapat menyebabkan konfrontasi penuh di benua itu.

Anehnya, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan pertemuan beberapa hari lalu itu “kuat” dan “konstruktif”.

Apresiasi sang sekjen sebetulnya tak begitu mencerminkan hasil dari pertemuan singkat itu karena pertukaran informasi antara kedua belah pihak jelas tak menghasilkan terobosan apa pun. Apa yang diungkapkan Stoltenberg merupakan penghargaan terhadap fakta bahwa NATO dan Rusia masih berkomunikasi satu sama lain.

Pernyataan ini tercetus sekalipun Moskow, melalui Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, memberikan peringatan keras bahwa “tidak akan ada lagi bisinis seperti biasa” dengan Barat. Oleh karena itu, kita memiliki alasan yang cukup baik untuk bernapas lega.

NATO Siap Perang

Selama beberapa tahun terakhir, Moskow telah mengkhawatirkan berbagai aktivitas NATO. Mulai dari meningkatnya infrastruktur militer aliansi, penyebaran persenjataan canggih yang mampu meluncurkan hulu ledak nuklir, hingga penyebaran pasukan NATO di sepanjang perbatasan barat Rusia.

Tambahan pasukan NATO akan segera dikirim ke Polandia, Latvia, Lituania, Estonia, Rumania, dan Bulgaria. Sementara, kekuatan Angkatan Laut NATO ditempatkan di Laut Hitam, termasuk kapal-kapal perang dari negara-negara yang tak berbatasan dengan laut itu, seperti Polandia, Jerman, dan Spanyol.

Pada Januari lalu, Unit Tempur Brigade Lapis Baja Ke-3 dari Divisi Infanteri Ke-4 mendarat di Pelabuhan Jerman Bremerhaven. Kemudian, seluruh tentara yang berjumlah 3.000 personel beserta 2.600 unit peralatan, termasuk 87 tank, 18 howitzer gerak otomatis (self-propelled) Paladin, dan 144 kendaraan tempur Bradley, dikirim ke Polandia barat dengan publikasi besar-besaran.

Masih di bulan yang sama, tank tempur M1A2 melakukan latihan di Swietozow di Polandia, dan pada bulan berikutnya, tentara Amerika melakukan latihan penyerangan perkotaan di Area Pelatihan Gaiziunai di Lituania.

Bulan lalu, latihan Allied Spirit VI mengikutsertakan sekitar 2.770 peserta dari 12 anggota dan mitra NATO. Latihan itu bertujuan untuk menguji komunikasi antara anggota aliansi. Sementara itu, latihan menembak dengan meriam howitzer diadakan di Area Pelatihan Grafenwoehr di Jerman.

Peta “peristiwa militer AS terbaru di Eropa” di situs web Departemen Pertahanan AS sekilas menunjukkan bahwa ada sekitar tiga dari empat latihan militer yang telah diselenggarakan di Eropa Timur, dan dalam kasus negara-negara Baltik, latihan diselenggarakan di dekat perbatasan Rusia.

Secara total, NATO berencana menggelar 28 latihan militer gabungan di sepanjang perbatasan Rusia pada tahun ini yang melibatkan 60 ribu personel militer.

Salah satu tujuan utama latihan-latihan ini, menurut Mayor Jenderal Duane Gamble dari Komando Mandala Ke-21, adalah untuk mempersiapkan ABCT (unit tempur brigade lapis baja) menjalani latihan dalam waktu 72 jam, yang sebenarnya merupakan persiapan untuk peperangan sesungguhnya.

Karena doktrin militer AS mendefinisikan Rusia sebagai musuh geopolitik nomor satu mereka, dan para politisi Amerika menikmati retorika permusuhan terhadap negara yang mereka anggap sebagai ‘pewaris kekaisaran jahat’ Soviet ini, Moskow tak punya pilihan lain selain menilai perkembangan ini sebagai ancaman keamanan yang paling akut sejak akhir Perang Dingin.

Ukraina dan Kesepahaman Bersama

Dewan Rusia-NATO mengungkapkan, sebagaimana yang Stoltenberg katakan, “perbedaan pendapat yang nyata” atas apa yang terjadi di Ukraina dan apa yang harus dilakukan di sana. Sekjen NATO mendesak Moskow “untuk menggunakan pengaruhnya terhadap para militan” di Ukraina timur demi memastikan bahwa komitmen yang telah ditetapkan dalam perjanjian Minsk tidak dilanggar.

Kita bisa seratus persen memastikan bahwa kedua belah pihak tidak akan setuju pada akar penyebab perang sipil Ukraina, serta cara untuk menghentikan perpecahan di negara yang pernah menjadi negara yang kuat dan makmur itu.

Sayangnya, hanya ada sedikit kesempatan bahwa NATO akan melunakkan sikap kaku mereka terhadap krisis Ukraina. Kenapa? Banyak ahli strategi di Moskow, yang mungkin digambarkan oleh para pengamat Barat sebagai orang-orang “konservatif”, sangat percaya bahwa NATO mengikuti filosofi dan perintah dari faksi sayap kanan radikal Neokonservatisme pada pemerintahan Bush dan Obama, dan sangat ingin memuaskan diri mereka dalam gerakan-gerakan provokatif dan tidak bertanggung jawab di Ukraina.

Neokonservatisme

Neokonservatisme (biasa disingkat neokon) adalah aliran politik yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 1960-an di kalangan Demokrat yang tidak sepakat dengan kebijakan dalam dan luar negeri partainya. Sebagian besar pengikutnya mulai dikenal khalayak pada masa pemerintahan Republik tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan 2000-an.Jumlah neokonservatif meningkat pada masa pemerintahan George W. Bush dan George H.W. Bush karena mereka berperan besar dalam perencanaan invasi Irak 2003.

Ada kecurigaan yang mengganggu bahwa sejumlah besar militer dan intelijen personel AS yang berada di antara angkatan bersenjata Ukraina, yang meluncurkan serangan terhadap republik Donetsk dan Lugansk yang memberontak pada pertengahan 2014 lalu, tak berada di sana semata-mata untuk mengumpulkan informasi.

Tujuan utama dari kudeta di Kiev yang disponsori oleh mantan Asisten Menlu AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia Victoria Nulland adalah untuk memprovokasi Rusia agar mereka menggunakan kekuatan militer untuk menggulingkan pemerintah pro-Barat dan kelompok ultranasionalis di Kiev.

Hal ini akan memberikan NATO justifikasi yang sempurna untuk tahun-tahun mendatang, dan akan membuat semua pensiunan prajurit Perang Dingin bersukacita dan bernyanyi keras-keras, “Hari-hari yang membahagiakan kembali lagi!” Ini akan memberikan dalih untuk menghancurkan perbedaan pendapat dalam jajaran NATO dan bersatu dalam menghadapi musuh lama yang baru.

Sampai Ukraina menyibak ilusi atas apa yang sebenarnya terjadi di Kiev pada Februari 2014 dan sepenuhnya bersih dari kepemimpinan yang mengkhianati aspirasi rakyat, Barat dan NATO kemungkinan besar akan terus melihat kerabat terdekat dan tetangga Rusia itu sebagai alat penahanan, atau setidaknya sebagai alat pengganggu.

Histeria Anti-Rusia

Risiko keamanan terkait pembangunan kekuatan militer NATO dan perluasan mereka ke perbatasan Rusia, baik secara nyata maupun yang bisa dibayangkan, akan memaksa Kremlin untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan meningkatkan potensi pembalasan atas kerusakan yang tak dapat diterima dari aliansi militer Barat.

Mengingat keunggulan senjata konvensional NATO, Rusia menjadi sangat bergantung pada sistem pencegahan nuklirnya. Penggunaan senjata nuklir, mungkin pada tahap awal kemungkinan serangan Barat terhadap Rusia, mengakar kuat dalam doktrin militer.

Namun, ini tak lantas akan menenangkan segala ketakutan bahwa skenario apokaliptik ini tidak akan pernah terwujud, bukan? Ini mengingatkan pada konsep pencegahan kepastian saling menghancurkan (mutually assured destruction/MAD) pada masa Perang Dingin. Sama sekali tidak baik.

Kepastian Saling Menghancurkan

Kepastian saling menghancurkan adalah doktrin strategi militer dan kebijakan keamanan nasional yang menyatakan bahwa penggunaan senjata penghancur massal berskala besar oleh dua pihak yang bertentangan atau lebih akan mengakibatkan kehancuran total seluruh pihak, baik pihak penyerang maupun pihak yang bertahan.Doktrin ini didasarkan pada teori deterensi yang menyatakan bahwa ancaman pemakaian senjata canggih terhadap lawan membuat lawan tidak bisa memakai senjata canggih yang sama.

Kita patut mengutip perkataan Richard Sokolsky, seorang rekan senior dari Program Rusia dan Eurasia di Carnegie Endowment for International Peace.

“Barat dan Rusia mungkin atau mungkin tidak akan terjerums ke dalam Perang Dingin baru di Eropa, tapi hubungan permusuhan mereka bisa membawa keduanya ke arah konfrontasi yang lebih besar dan konflik. Kedua belah pihak perlu meminjam satu atau dua halaman dari pedoman Perang Dingin AS-Rusia untuk mencegah ‘perang sejuk’ mereka di Eropa berubah menjadi panas.”

Jika NATO gagal mengikuti saran sang pakar dan histeria anti-Rusia terus menyebar seperti virus, situasi di lapangan, menurut Hukum Murphy, tak diragukan akan “berkembang dari buruk menjadi lebih buruk.”

Akibatnya, benua Eropa akan semakin menyerupai teater perang yang potensial, yang tentu saja telah menjadi peristiwa yang berulang dalam sejarah Eropa sejak dahulu kala. Bukankah ini waktunya untuk berhenti dan membalikkan tren ini?

Dengan pemikiran ini, sangat menggembirkan bahwa NATO belum menutup Rusia seluruhnya, dan menjaga pintu dialog tetap terbuka.

Vladimir Mikheev adalah seorang penulis lepas untuk Rusia Beyond The Headlines. Pendapatnya tidak merefleksikan opini resmi RBTH.


Hubungan Rusia-NATO

Ke mana sebenarnya arah ekspansi NATO?

Bagaimana kebijakan luar negeri Rusia setelah Perang Dingin?

Benarkah Rusia dan Barat di ambang Perang Dingin?

Rusia gencar memperbarui sistem pertahanan untuk menghadapi ancaman NATO

Dialog sistem pertahanan misil Rusia-Barat menemui jalan buntu