Dua Kali Berpeluang, Kenapa Rusia Menyia-nyiakan Kesempatan Merebut Konstantinopel?

Sejarah
YEKATERINA SINELSCHIKOVA
Sepanjang sejarah upaya penaklukan Konstantinopel (tepatnya lebih dari sepuluh kali), ada beberapa peristiwa ketika Rusia hanya tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan impiannya untuk merebut ibu kota Kekaisaran Romawi Timur itu. Namun, setiap kali peluang itu muncul, Rusia memilih untuk tidak melakukannya.

Selama berabad-abad, Rusia bermimipi menguasai selat-selat Konstantinopel — ibu kota Kekaisaran Romawi Timur (atau Kekaisaran Bizantium), yang kini dikenal sebagai Istanbul, sebuah kota strategis yang menghubungkan Eropa dan Asia. Kota ini merupakan kunci dominasi geopolitik di Timur Tengah dan sekaligus rute terpendek menuju India dari Eropa.

Karena sangat menginginkan Konstantinopel, Ekaterina yang Agung bahkan menamai cucunya Konstantin (nama kaisar pertama dan terakhir Bizantium). Ekaterina berharap dirinya kelak dapat mengangkat cucunya itu sebagai pemimpin kekaisaran itu.

“Apa yang akan terjadi pada kita dan peradaban ini jika seorang perempuan menguasai sebagian dunia dari Siberia hingga Mesir? Selamatkan diri kalian,” tulis filsuf Italia Alessandro Verri pada 1770-an.

Namun, sejumlah upaya yang dilakukan untuk merebut kota itu tak selalu dilatarbelakangi oleh motif strategis. Pada zaman dulu di Rusia, Konstantinopel juga disebut Tsargrad, yang berarti ‘kota tsar’. Kota itu dianggap sebagai pusat historis Gereja Ortodoks. Katedral Hagia Sophia, yang kemudian beralih fungsi sebagai masjid hingga 1931, masih berdiri tegak di kota itu hingga kini. Perang yang dilancarkan Rusia terhadap Kesultanan Utsmaniyah digambarkan sebagai perang salib untuk membebaskan dunia Ortodoks dari dominasi Islam.

Meski begitu, Rusia tak pernah mencaplok Konstantinopel. Padahal, sejarah mencatat bahwa Rusia sempat dua kali berpeluang untuk menguasai kota itu tanpa susah payah.

Antara Konstantinopel dan Manfaat Pajak

Berdasarkan kronik Rusia, Pangeran Oleg adalah penguasa Rusia pertama yang berhasil sampai di gerbang Konstantinopel pada tahun 907. Ia dijuluki “Sang Nabi” karena visinya yang legendaris. Dia adalah seorang panglima yang luar biasa. Kampanye militernya meletakkan fondasi bagi negara Rus Kuno (atau Rus Kiev) dan perbatasannya. Karena itu, jika pada akhirnya dia membuat keputusan yang berbeda, tak diragukan lagi bahwa Konstantinopel akan menjadi bagian dari Rus.

Kronik tersebut menyebutkan bahwa Pangeran Oleg menyerang Tsargrad dengan infanteri dan armada yang — meski para sejarawan percaya jumlahnya lebih kecil — terdiri dari 2.000 kapal. Orang-orang Yunani menutup gerbang Konstantinopel sehingga pembantaian berdarah hanya terjadi di pinggiran kota.

“Banyak orang Yunani terbunuh di pinggiran, banyak tenda yang dihancurkan, sementara gereja-gereja hangus dibakar. Bagi mereka yang menjadi tahanan, beberapa orang dipenggal, sedangkan yang lainnya disiksa, tapi kebanyakan dilempar ke laut. Ada lebih banyak kebrutalan yang dilakukan orang-orang Rusia terhadap orang-orang Yunani, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh musuh,” bunyi catatan dalam kronik tersebut.

Namun setelah menaklukkan Konstantinopel, Oleg menyadari bahwa kesepakatan damai akan lebih bermanfaat bagi Rus daripada ekspansi lebih jauh. Oleh karena itu, menurut legenda tersebut, sang pangeran memaku perisainya di gerbang kota, menandatangani perjanjian perdagangan yang menguntungkan dengan Konstantinopel, dan menerima upeti yang lumayan besar. Setelah itu, orang-orang Rusia bisa tinggal di pinggiran ibu kota selama setengah tahun tanpa dikenai pajak, bebas bea perdagangan, dan menikmati hak untuk mendapatkan makanan gratis serta perbaikan perahu dengan uang Bizantium.

Antara Konstantinopel dan Keputusasaan

Ekaterina yang Agung menyebut rencananya untuk membangun kembali monarki Yunani sebagai Proyek Yunani. Proyek ini sama sekali tidak merencanakan ekspansi Rusia secara langsung, melainkan penciptaan negara baru dengan nama kuno Dacia dan perluasan pengaruh Rusia. Pada akhirnya, rencana tersebut termasuk menyingkirkan orang-orang Turki dari Eropa, membebaskan semua orang Kristen Balkan dari kekuatan muslim dan, tentu saja, merebut Konstantinopel. Namun, Proyek Yunani akhirnya mandek. Para permaisuri tak mendapat cukup dukungan di Eropa, dan Konstantinopel pun segera dilupakan saat Perang Rusia-Turki meletus (dan Rusia mencaplok Krimea pada 1783).

Masih penasaran dengan Konstantinopel, cucu ketiga Ekaterina, Kaisar Nikolay I, hanya tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan impian neneknya. Pada 1829, tentara Rusia memasuki Adrianople (sekarang Edirne), 240 kilometer dari Istanbul. Sebetulnya, butuh dua hari untuk melintasi jarak ini, dan kemungkinan besar Konstantinopel akan jatuh karena saat itu tentara Utsmaniyah sudah kelelahan. Namun sebaliknya, Nikolay membuat kesepakatan dengan Sultan Mahmud II. Setelah membuat beberapa deklarasi luhur tentang persahabatan — yang kelak akan dilupakan 12 tahun kemudian — Kesultanan Utsmaniyah menutup selat-selatnya untuk negara lain.

Namun, ada alasan lain yang lebih substansial di balik sikap murah hati Rusia. Sebetulnya, tak ada kejelasan apa yang akan dilakukan Rusia dengan Konstantinopel setelah berhasil merebutnya. Rusia tidak memiliki cukup sumber daya untuk mempertahankan wilayah baru. Membiarkan tentara yang menang dalam kemiskinan di kota yang ditaklukkan akan menyebabkan pemberontakan. Selain itu, merebut Konstantinopel berarti mengonfigurasi ulang seluruh Eropa Tenggara dan itu bisa menyebabkan perang dunia karena Inggris dan Prancis tak akan menerima perkembangan semacam itu. Oleh karena itu, lebih mudah untuk tidak mengklaim apa pun atas kota itu dan menyelesaikan masalah dengan sebuah perjanjian damai yang menguntungkan.

Akibat keputusannya itu, Nikolay I menerima banyak keluhan. Ia dinilai telah menyia-nyiakan peluang yang terbuka lebar untuk merebut Konstantinopel. Meski begitu, ia dengan santai menanggapi berbagai kekecewaan tersebut dengan mengatakan bahwa dia bahagia karena satu-satunya kesamaan dirinya dengan neneknya hanyalah “profil wajah”. Dia tidak menyukai cara neneknya memerintah.

Pada akhirnya, Rusia memang tidak pernah menguasai Konstantinopel. Meski begitu, Rusia tetap menjadi negara terbesar di dunia. Bagaimana Rusia bisa mendapatkan wilayah yang begitu besar? Ini semua dapat diselisik dari sejarahnya.