Hendak Legalkan Penggunaan Jilbab di Sekolah, Parlemen Chechnya Ajukan RUU

Penggunaan simbol keagamaan di sekolah sedang menjadi kontroversi di Rusia saat ini.

Penggunaan simbol keagamaan di sekolah sedang menjadi kontroversi di Rusia saat ini.

Yuri Mashkov/TASS
Anggota Parlemen Republik Chechnya dari fraksi partai ‘Rusia Bersatu’ akan mengajukan RUU yang memperbolehkan penggunaan simbol keagaaman di instansi-instansi pendidikan di republik itu.

Anggota partai ‘Rusia Bersatu’ (partai politik yang berkuasa di Rusia) akan mengajukan RUU yang melegalkan seluruh siswa di Chechnya mengenakan simbol keagamaan apa pun di sekolah-sekolah kepada parlemen. Demikian hal itu diungkapkan Ketua Parlemen Republik Chechnya Magomed Daudov, Kamis (26/1).

Menurut Daudov, rancangan tersebut merupakan respons terhadap komentar Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Rusia Olga Vasilyeva yang pada Selasa (24/1) lalu mengatakan bahwa — sesuai ketetapan Mahkamah Konstitusi Rusia — siswa dilarang mengenakan jilbab di sekolah.

Pernyataan sang menteri segera dikritik oleh Kepala Republik Chechnya Ramzan Kadyrov, yang mengatakan bahwa “tiga anak perempuannya tak akan pernah melepas jilbab mereka”.

“Kami, anggota Parlemen Republik Chechnya dari fraksi Partai ‘Rusia Bersatu’. mengusulkan dengan segera dibuatnya suatu hukum untuk Republik Chechnya yang multietnis, yang memperbolehkan anak-anak kami yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan budaya untuk memakai jilbab, salib, atau kippah di sekolah selama mereka ingin memakainya,” tulis Daudov di Instagram-nya.

Sebelumnya, Mahkamah Agung Rusia telah dua kali mengesahkan beberapa peraturan daerah yang melarang penggunaan jilbab di sekolah. Namun demikian, keputusan itu belum ditetapkan sebagai hukum yang berlaku secara nasional.

Pelarangan Jilbab di Eropa

Beberapa negara di Eropa telah lebih dulu membatasi penggunaan simbol-simbol keagamaan, khususnya jilbab bercadar, sebagai antisipasi terhadap meningkatnya aksi terorisme.

Sebagai contoh, Prancis telah melarang segala bentuk simbol keagamaan, yang kerap lebih mengarah pada pelarangan penggunaan jilbab, di sekolah-sekolah sejak 2004. Kemudian pada 2011, Perancis melarang penggunaan cadar di muka umum, dan pada 2016 lalu negara itu melarang penggunaan pakaian renang “burkini”. Tetangga Prancis, Belgia, juga telah melarang penggunaan cadar di muka publik sejak 2011.

Di sisi lain, Jerman tidak melarang penggunaan jilbab. Namun, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan pada Desember lalu bahwa pemakaian cadar harus di larang di negaranya. Sementara di Belanda, majelis rendah parlemen Negeri Kincir Angin ini telah menyetujui aturan pelarangan penggunaan burqa pada November lalu, dan kini hanya tinggal menunggu waktu hingga senat mengesahkan peraturan itu.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

More