Indonesia Siap Bekerja Sama dengan Rusia Demi Cegah Perpecahan Dunia Islam

Menlu Rusia Sergey Lavrov menerima telepon dari mitranya di Indonesia, Menlu Retno Marsudi.

Menlu Rusia Sergey Lavrov menerima telepon dari mitranya di Indonesia, Menlu Retno Marsudi, pada Selasa (5/1). Demikian informasi tersebut dipublikasikan di situs Kementerian Luar Negeri Rusia.

Dalam percakapan melalui telepon tersebut, kedua diplomat dikabarkan bertukar pandangan terkait deeskalasi dan ketegangan yang muncul dalam beberapa hari terakhir di kawasan Teluk Persia. Keduanya pun setuju bahwa perselisihan yang kini tengah terjadi harus diatasi melalui dialog.

Sang diplomat Indonesia itu pun menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, siap bekerja sama dengan Rusia demi mencegah perpecahan dalam dunia Islam. Selain itu, kedua menteri juga sepakat bahwa potensi yang dimiliki Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) harus dimanfaatkan secara lebih aktif demi mengatasi masalah yang kini memanas.

Teluk Persia Memanas

Pada Minggu (3/1) malam, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengumumkan bahwa Arab Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Iran setelah demonstran menyerbu Kedutaan Besar Saudi di Teheran dan konsulat di Mashhad.

Setelah Arab Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Iran, Bahrain dan Sudan turut mengikuti langkah tersebut. Sementara, Uni Emirat Arab (UEA) akan menurunkan tingkat derajat hubungan diplomatik dengan Iran. Hanya Kuwait dan Qatar yang tidak mengikuti langkah UEA.

Para demonstran di Iran berunjuk rasa untuk memprotes eksekusi mati terhadap ulama Syiah terkemuka Syekh Nimr al-Nimr oleh Pemerintah Saudi, pada Sabtu (2/1). Nimr al-Nimr dihukum mati karena dituding terlibat dalam kasus terorisme.

Menanggapi hal ini, Moskow mengaku prihatin atas ketegangan yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran. Sebagaimana yang dilaporkan media Rusia Sputnik, Rusia mendesak Teheran dan Riyadh, serta negara-negara Teluk Persia lainnya, untuk menahan diri dan menghindari segala langkah yang bisa memperburuk situasi serta mengakibatkan eskalasi lebih lanjut. Rusia pun mengaku siap menjadi mediator demi meredakan ketegangan antara dua negara di Timur Tengah tersebut.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More