Putin Tolak Program Vaksinasi Wajib, Pemimpin Chechnya: Warga yang Tak Mau Suntik Dirawat Belakangan

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Republik Chechnya Ramzan Kadyrov

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Republik Chechnya Ramzan Kadyrov

Global Look Press
Putin menekankan bahwa Rusia telah mengimbau seluruh warganya untuk mempertimbangkan vaksinasi, tetapi tidak mewajibkannya.

Presiden Rusia Vladimir Putin menentang program wajib suntik vaksin COVID-19 sekalipun tak menampik manfaat vaksinasi itu sendiri, lapor layanan pers Kremlin.

“Menurut saya, kita tidak mungkin mewajibkan vaksinasi COVID-19. Namun, masyarakat harus menyadari manfaat vaksinasi, masyarakat harus paham bahwa jika mereka tidak mendapatkan vaksinasi, mereka berisiko terinfeksi, bahkan fatal, terutama bagi kaum lansia,” kata Putin.

Putin menekankan bahwa Rusia telah menciptakan semua persyaratan untuk vaksinasi COVID-19, dan mengimbau seluruh warganya untuk mempertimbangkan vaksinasi.

Sebelumnya, Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, pada Rabu (19/5), mengatakan bahwa vaksinasi dapat diwajibkan demi kepentingan negara dan perlindungan masyarakat. Namun, Medvedev kemudian meralat pernyataannya dan mengaku salah paham. Ia menekankan bahwa vaksinasi di Rusia bersifat sukarela.

Sementara itu, Republik Yakutia, salah satu subjek federal Rusia, mengumumkan vaksinasi wajib pada Selasa (25/5). Namun, setelah media memberitakan isu ini secara luas, pemerintah setempat segera mengklarifikasi bahwa yang mereka maksud adalah vaksinasi massal, bukan vaksinasi wajib.

Kadyrov Berbeda Pandangan 

Sementara itu, pandangan Pemimpin Republik Chechnya Ramzan Kadyrov terhadap vaksinasi wajib bertolak belakang dengan Putin. Kadyrov justru menganjurkan agar warga Chechnya yang menolak disuntik vaksin dirawat belakangan jika sewaktu-waktu terinveksi virus corona.

Menurut Kadyrov, warga Chechnya yang belum memahami manfaat vaksinasi dapat menemui dokter atau ulama setempat untuk mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan mereka terkait vaksinasi COVID-19.

“Jika dia tetap menolak disuntik vaksin, biarkan dia dirawat belakangan. Biarkan dia merasakan betapa kekurangan oksigen amat menyengsarakan,” ujar Kadyrov.

Bagaimanapun, Kadyrov juga menyesalkan bahwa vaksinasi di Chechnya amat lambat. Distrik Federal Kaukasus Utara bahkan berada peringkat terbawah dalam hal vaksinasi di Rusia, sementara Chechnya sendiri berada di urutan keempat dari tujuh subjek federal di kawasan tersebut.

Menurut data resmi, dalam beberapa pekan terakhir, hanya sekitar 12 kasus virus corona per hari yang tercatat di Chechnya. Secara total, sejak awal pandemi, ada lebih dari 12 ribu kasus yang tercatat di wilayah tersebut, dan 133 orang di antaranya meninggal dunia. Kini, 45 ribu warga Chechnya telah mendapatkan vaksinasi COVID-19. Sementara, populasi wilayah tersebut mencapai 1,5 juta orang.

Selanjutnya, inilah segala hal yang perlu Anda ketahui tentang Sputnik V, vaksin COVID-19 pertama Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki