Sepuluh Aturan Tak Tertulis di Timur Jauh Rusia

Cyril Braga/Sputnik, Sayapin/TASS, Domain publik

Cyril Braga/Sputnik, Sayapin/TASS, Domain publik

Kami membahas kehidupan di wilayah terjauh Rusia (dilihat dari kacamata Moskow), di ujung jalur kereta Trans-Siberia yang legendaris.

1. Mengemudi di sebelah kanan

Hampir semua orang di Timur Jauh Rusia memiliki mobil dan hampir semuanya mengemudi di sebelah kanan (RHD). Padahal, Rusia adalah negara lalu lintas di lajur kanan (RHT). “Kekacauan” ini terjadi karena kedekatan wilayah tersebut dengan Jepang. Negara itu menjadi semacam pemasok mobil-mobil murahan yang “diimpor” dari kapal yang kelebihan muatan dan disambar oleh penduduk setempat. Sementara, biaya pengiriman mobil-mobil setir kiri (LHD) yang digunakan di seluruh Rusia melalui darat sangat mahal. Alhasil, penduduk Timur Jauh telah lama beradaptasi dengan kendaraan asing dari negara tetangga. Orang-orang di sini amat menyukai mobil SUV. Mobil jenis ini cocok untuk dibawa memancing ke daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau.

2. Menjual mobil dan mengobral barang di atas mobil

Dua puluh tahun lalu, Vladivostok adalah kota diler mobil. Entah bagaimana, hampir tiap keluarga di kota itu berbisnis jual beli kendaraan roda empat. Namun, belakangan ini, kenaikan bea masuk membuat bisnis ini kurang menguntungkan. Mau tak mau, orang-orang harus beradaptasi dengan realitas baru. Sekarang, diler mobil paling terkenal di Vladivostok, Zelyony Ugol, tak hanya menjual mobil, tetapi juga sepeda, kopi Jepang, dan barang-barang lainnya, termasuk alkohol selundupan yang “diobral” di atas kap mobil.

3. Untuk berhemat, pilih produk Tiongkok

Semuanya mahal di Timur Jauh. Meski begitu, selalu ada produk Tiongkok yang lebih murah. Karena wilayah Timur Jauh berbatasan dengan Tiongkok, ada banyak orang Tionghoa di sini. Tak heran, penduduk setempat pun sudah terbiasa dengan kehadiran mereka. Jika Anda hendak menata rambut, Anda harus merogoh kocek hingga 1.000 rubel (sekitar Rp193.000) di salon-salon kecantikan Rusia. Namun, di salon-salon Tionghoa, Anda cukup mengeluarkan 300 rubel (sekitar Rp58.000) saja. Begitu pula dengan jasa manikur. Di sini, salon manikur Rusia bisa berharga lebih dari 1.500 rubel (sekitar Rp290.000), sedangkan jasa serupa oleh orang Tionghoa hanya 500 rubel (sekitar Rp96.000). Yang jelas, aturan itu berlaku untuk semuanya!

4. Beli produk Asia, bukan Rusia

Penduduk di wilayah ini sangat suka membeli barang-barang buatan Korea, Jepang, atau Tiongkok, baik kosmetik, aneka bahan kimia rumah tangga (pembersih kamar mandi, sabun detergen, disinfektan, dsb.), sepatu, dan lai-lain. Orang-orang di sini lebih sering berbelanja di toko Asia daripada toko Rusia. Tak heran, ketika terjadi keadaan kahar (force majeure), seperti pandemi, produk Asia langsung ludes dari rak-rak toko.

5. Tak ada kebiasaan berjalan-jalan di taman

Biarkan orang Moskow dan penduduk kota besar tanpa udara segar lainnya berjalan-jalan di taman. Di sini, orang-orang sama sekali tak mengenal konsep berjalan-jalan di mana. Anda bisa pergi ke pantai atau sungai, berenang atau berlayar ke sebuah pulau, teluk, mercusuar, atau bahkan ke gunung berapi kapan pun. Lingkungan di sini masih sangat alami. Anda tak perlu repot-repot mencari ruang terbuka hijau buatan di pusat kota.

6. Hidup di dataran tinggi

Pemandangan di Timur Jauh sangat mengagumkan, tetapi kehidupan di sini tidak mudah. Banyak orang tinggal tepat di atas bukit dan lereng gunung berapi. Karena itu, tinggal di lantai 9 dan, pada saat yang sama, sejajar dengan lantai 2 blok apartemen tetangga bukan pemandangan aneh di sini. Selama musim dingin, ketika semuanya tertutup salju atau es, perjalanan pulang kerja bisa berubah menjadi pencarian selama berjam-jam.

7. Banyak beruang

Kota-kota di Timur Jauh dibangung di tengah alam liar. Jadi, sewaktu-waktu, Anda mungkin akan dikunjungi beruang. Tiap tahun, media setempat melaporkan kasus beruang memasuki rumah warga, menyerang ternak, atau berlarian di jalan di tengah arus lalu lintas. Kebetulan, Kamchatka memuncaki peringkat jumlah beruang per orang terbanyak (15:1). Tak heran, hampir tiap orang di Timur Jauh pernah bertemu beruang sekali (atau dua kali).

8. Makanan laut yang lezat

Apa yang dianggap makanan mahal di daerah Rusia lainnya juga diangap mahal di Timur Jauh. Orang-orang di sini memang biasa menyantap hidangan laut lebih dari sekali dalam setahun (penduduk daerah lain mungkin harus menabung setahun penuh supaya dapat menyantapnya pada Malam Tahun Baru). Kaviar dan kepiting Kamchatka yang terkenal berasal dari sini dan harganya separuh harga di Moskow. Pasar-pasar setempat menjual kaviar dalam ember dan rasanya sangat enak. Namun, jika Anda mendengar bahwa harga kaviar di sini sangat murah sehingga penduduk setempat memakannya tiap hari untuk sarapan, itu cuma mitos. Satu kilogram kaviar salmon sockeye di sini dijual seharga 2.900 rubel (sekitar Rp559.000).

9. Tiongkok atau dacha, bukan Eropa

Eropa terlalu jauh, sementara, bagi banyak orang, penerbangan ke Benua Biru menghabiskan beberapa bulan gaji. Jadi, kalaupun pernah, perjalanan ke Eropa adalah pengalaman sekali seumur hidup. Karena itu, wilayah Asia yang berada tepat di seberang tepi Sungai Amur menjadi pilihan yang jauh lebih nyaman (dan rasional). Apalagi, ada peraturan bebas visa antarkota perbatasan.

10. Melestarikan mitos kehidupan yang baik

Di sini, pemerintah membagikan lahan gratis kepada semua orang. Lahan itu memang berada di tengah taiga tak berujung, tanpa jalan raya, tanpa infrastruktur, atau apa pun. Bagaimanapun, alam yang asli dan pegunungan di sekelilingnya sangat memikat. Meski tak seindah kedengarannya, penduduk Timur Jauh tampaknya tak terburu-buru menyanggah mitos tersebut.

Ada sebuah tempat di dunia ini yang memisahkan AS dan Rusia sejauh tembakan peluru meriam. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki