Tiga Alasan Mengapa Anda Tidak Lucu di Rusia

AP
Seorang penulis Amerika yang tinggal di Sankt Peterburg menjelaskan mengapa Anda perlu memikirkan ulang selera humor Anda, sebelum datang ke Rusia. Atau lebih baik lagi, tunda saja.

Orang Rusia sering tersenyum, ada yang tersenyum lebar, ada yang senyum simpul, ada yang memiliki celah manis di antara kedua gigi depannya yang kadang membuat mereka malu dan kadang-kadang dipandang sebagai sumber kebanggaan. Orang Rusia juga tertawa. Mereka tertawa cukup keras dan kadang agak mengganggu, kadang menular, dan kadang sampai memenuhi ruangan.

Jika Anda pernah ke Rusia lalu pulang untuk memberi tahu semua teman Anda bahwa orang-orang Rusia serius dan tidak pernah tersenyum atau tertawa, saya punya kabar buruk untuk Anda.

Itu hanya karena Anda tidak cukup lucu.

Inilah tiga alasan mengapa Anda tidak lucu di Rusia.

1. Bercanda tentang Keluarga Orang lain

Banyak teman Rusia saya yang memiliki pengalaman berbeda dengan orang asing. Beberapa pernah ke luar negeri, dan sebagian memiliki 'pengetahuan' yang terperinci berkat acara-acara sitkom (situasi komedi) Amerika. Seringkali, saya mendapat pertanyaan tentang humor dari kelompok terakhir. Pertanyaan seperti ketika teman saya Ivan bertanya:

"Mengapa orang Amerika begitu terobsesi dengan ibu satu sama lain?"

Dan saya katakan kepadanya, "Karena itu lucu?"

"Kenapa?" dia menuntut.

Dan saya pikir, yah ... saya tidak tahu!

Tetapi saya mengatakan kepadanya, "Karena ibu-ibu itu lucu?" berharap dia akan menertawakan kecanggungan saya dan kami bisa berhenti sampai di situ.

Tapi dia tidak berhenti.

Jadi, saya berkata, "Seperti jika Anda bertanya mengapa saya ada di Rusia dan saya katakan ‘Saya di sini untuk menjemput ibumu di peternakan kurcaci ... paham? "

Dia memikirkannya sebentar sebelum menggelengkan kepalanya.

"Yah, karena — kurcaci itu jelek, jadi saya menyebut ibumu jelek. Dan — ah, baiklah, kalian punya peternakan kurcaci, kan? Jadi itu lucu."

Dan dia memikirkannya dengan sungguh-sungguh sebelum dengan yakin memberi tahu saya, "Itu tidak lucu."

Aku mengangkat bahu. "Tidak — kurasa tidak."

Aturan ini berlaku dua kali lipat untuk para nenek. Sementara MILF (Mother I’d Like to F****) mungkin telah masuk ke bahasa umum banyak pemuda Rusia, GILF (Grandmother I’d like to F****) harus menunggu beberapa tahun lagi.

Saya memiliki sedikit daya tarik yang tidak sehat dengan babushka (nenek-nenek). Ada kekuatan yang menakutkan yang mengelilingi mereka, stabilitas dan kemarahan, dan saya curiga bahwa mereka semua mampu mengambil gigitan daging yang besar. Teman saya Ivan tahu soal ini, dan tahun lalu ketika kami pergi ke tempat neneknya untuk makan malam Tahun Baru, saya bertanya dengan bercanda, "Apakah nenekmu seorang baBOOshka?" Menekankan "oo." Dia berhenti, memegang bahu saya dan berkata:

"Bukan. Dia seorang BAHbushka. "

"Apa?"

“Nenek saya adalah seorang BAHbushka. Bukan babOOshka; interpretasi yang tidak peka dari imaginasi gila Anda soal orang lanjut usia Rusia. "

"Oh," kataku, menyadari aku menyinggung dia dengan usahaku untuk mencoba melucu.

Dan dia berkata, “Tidak apa-apa, ingat saja — jangan pernah mengolok-olok nenek orang lain. Anda bisa mengolok-olok babOOshaks, tetapi jangan pernah mengolok-olok BAHbooshkas. "

"Oke," aku berjanji.

Dan saya tidak pernah melakukannya.

2. Menggunakan Humor untuk Menghindari Kecanggungan suatu Situasi

Ketika Anda berbicara bahasa yang sama dengan seseorang yang Anda ajak bicara, nada memainkan peran yang sangat penting. Bagi sesama orang Amerika, mereka biasanya tahu ketika saya mulai menggunakan humor untuk menghindari percakapan. Di Rusia, taktik ini jauh lebih rumit. Seringnya, kau hanya akan menggali lubang yang lebih dalam dari kata-kata terakhir yang Anda katakan.

Ambil contoh, seorang lelaki yang saya temui di sebuah bar yang memutuskan untuk menceritakan sedikit tentang masa kecilnya.

"Kami dulu punya peluru, kau tahu?" katanya.

Saya mengangguk, “Tentu saja.”

"Dan kami akan melemparkan mereka ke dalam api dan mereka akan meledak. Itu sangat menyenangkan! Saat itu ada banyak peluru di mana-mana."

"Mhm, yah — itu aman."

Dia mengerutkan kening. "Tidak, itu sangat berbahaya."

"Benar — maksudku, setidaknya kalian tidak saling menembak."

"Tidak, itu orang tua kami."

"Benar ... itu bagus,"

"Mengapa itu bagus?"

"Karena mereka tidak menembakmu?" Aku mencoba menimpali.

Dia tampak berpikir, “Yah, kadang-kadang mungkin. Tapi, tidak — itu tidak baik. Seperti apa Amerika bagi Anda? "

Dan saya mengangkat bahu dan berkata, "Oh yah, sama saja."

"Sungguh?" katanya. Dan saya dapat melihat bahwa dia mencoba untuk mencocokkan semua yang dia tahu tentang Amerika dengan kebohongan yang baru saja saya katakan kepadanya dalam upaya untuk menghentikan obrolan dengan cara canggung dan lucu.

Saya akhirnya kabur.

3. Pendekatan Berbeda untuk Sarkasme

Hal ini sejalan dengan dilema sarkasme. Sering terjadi kesalahpahaman antara orang Amerika dan Inggris (meskipun mereka sering bertengkar satu sama lain mengenai hal ini) bahwa negara-negara yang mereka kunjungi tidak mengerti sarkasme. Inilah masalahnya: mencoba memahami sarkasme melalui kesenjangan budaya dan hambatan bahasa yang sangat berkabut itu sangat sulit.

Berkali-kali, saya mendengar dari orang barat bahwa orang Rusia tidak mengerti sarkasme, hanya untuk berbicara dengan orang Rusia yang menjelaskan secara sederhana: Rusia justru terbuat dari sarkasme dan ironi, keduanya ada di dalam segala hal yang akan Anda temukan di sini. Bahkan hutan birch dan musim dingin yang panjang sesungguhnya sarkastik, begitu Anda mengenalnya dengan cukup baik.

Belum lama ini saya sedang berada di sebuah restoran bertema macaroni dan keju (mac-n-cheese) dengan teman saya Ivan. (TIPS: Rusia bukan tempat terbaik untuk membeli macaroni dan keju)

Kami sudah lama tidak bertemu satu sama lain, jadi ketika dia tiba, dia memeluk saya dengan sangat erat. Saat berpelukan itu, saya tertawa dan berkata, "Wah, tenanglah Tuan Spacey."

Dia menarik diri dengan ekspresi bingung di wajahnya.

"Kau tahu," aku menjelaskan, "Kevin Spacey, mabuk dan mencabuli banyak pria?"

Ivan tampak kaget, "Apa !?"

"Ya kawan, itu banyak diberitakan."

"Sial," desah Ivan. "Saya sangat menyukai film-filmnya."

Lalu kami duduk dan makan makaroni dan keju bersama, sambil menyesali kenyataan bahwa orang-orang berbakat kadang-kadang merusak teman-temannya.

Tapi saya tidak pernah tertawa.

Pesan moral dari cerita ini adalah: jika menjadi lucu itu penting bagi Anda dan Anda berencana berjalan-jalan ke Rusia, maka Anda mungkin ingin mencatat hal-hal ini. Atau lakukan apa yang saya lakukan, dan nyaman saja dengan hanya membuat satu orang di ruangan tertawa: diri sendiri.

Benjamin Davis adalah seorang jurnalis Amerika dan penulis The King of Fu yang tinggal di Sankt Peterburg, Rusia, di mana ia menghabiskan setahun untuk bekerja dengan seniman Rusia Nikita Klimov dalam proyek mereka: Flash-365. Sekarang, ia lebih sering menulis kisah-kisah fiksi magis-realisme tentang budaya Rusia, kemalangan humor mencela diri sendiri, dan babushka (nenek-nenek), sambil berbagi temuannya melalui saluran Telegram-nya.

Baca juga: Mengapa Orang Rusia tak Kenal Basa-Basi? 

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki