Hubungan Nonpolitik Vladimir Putin dengan Para Pemimpin Timur

Vladimir Putin dan Xi Jinping mencoba makanan Rusia dalam acara Eastern Economic Forum pada 2018.

Vladimir Putin dan Xi Jinping mencoba makanan Rusia dalam acara Eastern Economic Forum pada 2018.

Reuters
Bagaimana Vladimir Putin memberikan es krim kepada Xi Jinping, mengapa ia menolak undangan Shinzo Abe ke pemandian air panas, dan apa alasannya ia merindukan Mahatma Gandhi.

Rusia dan negara-negara Timur memiliki sejarah hubungan budaya dan politik yang panjang. Selama masa kepresidenan Vladimir Putin, presiden Rusia telah memberikan perhatian khusus pada hubungan politik dengan Timur, bertemu dengan para pemimpin Asia dalam banyak kesempatan sehingga pembicaraan media sering tersesat di luar ranah politik.

Es krim Xi Jinping

Vladimir Putin dan Xi Jinping mencoba makanan Rusia dalam acara Eastern Economic Forum pada 2018.

Pada 2016, selama KTT G20 di Hangzhou, Vladimir Putin memberikan hadiah diplomatik yang sangat tidak biasa pada presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping. Alih-alih lukisan atau hidangan mahal, Putin menyajikan sekotak es krim Rusia yang dibawa khusus dari Vladivostok di lemari es.

Putin mengatakan bahwa pengusaha Tiongkok telah mengeluh kepadanya tentang rendahnya ketersediaan es krim Rusia di Cina: es krim Rusia diimpor ke Cina dari Timur Jauh Rusia, tetapi karena peraturan bea cukai, jarang ada yang segar. Jadi presiden Rusia memutuskan untuk membawanya.

Tampak senang, Xi Jinping mengaku membeli es krim Rusia setiap kali dia mengunjungi Rusia, dan keluarganya sangat menyukainya.

Putin dan Syal Peng Liyuan

Pada KTT APEC 2014, Vladimir Putin duduk di sebelah istri Xi Jinping, Peng Liyuan. Sementara suaminya teralihkan dalam percakapan dengan Barack Obama, pemimpin Rusia yang selalu waspada mencuri kesempatan untuk menyelimuti syal wol di sekitar bahu Peng Liyuan. Dia tersenyum dan berterima kasih kepada presiden Rusia yang penuh perhatian. Namun, beberapa saat kemudian, dia menyerahkan syal hangat itu kepada pengawalnya dan diberikan jaket sebagai gantinya.

TV Tiongkok menayangkannya episode itu secara langsung, tetapi kemudian mengeditnya dari semua siaran berita. Orang Cina sangat sensitif dengan hal-hal yang pribadi. Dalam budaya Tiongkok, tidak diperbolehkan menyentuh pasangan pria lain. Bahkan dalam hal etika diplomatik umum, apa yang dilakukan Putin agak berisiko.

Episode itu menimbulkan kegemparan di media sosial Cina. Sebagian besar pengguna Cina menyatakan kesukaan dan dukungan mereka terhadap Putin, tetapi ada beberapa yang mengkritiknya karena dianggap melanggar etika. Namun, itu bukan wilayah baru bagi Putin, setelah melakukan gerakan ksatria yang sama dengan bahu Kanselir Jerman Angela Merkel setahun sebelumnya pada tahun 2013.

Putin dan Lee Hsien Loong

Pada November 2018, Vladimir Putin tertunda dalam perjalanannya ke pertemuan dengan Lee Hsien Loong, perdana menteri Singapura. Jadwal ketat dari kedua pemimpin, penundaan keamanan di bandara, dan kondisi lalu lintas memaksa agenda pertemuan digeser ke hari berikutnya. Itu adalah kejadian yang sangat langka ketika pertemuan diplomatik antara dua pemimpin dijadwal ulang karena salah satu dari mereka terlambat 1,5 jam.

Putin dan Narendra Modi

Pada pertemuan Singapura yang sama, Perdana Menteri India Narendra Modi menunjukkan kasih sayang yang berlebihan kepada Vladimir Putin dengan tidak hanya menjabat tangannya tetapi juga mendekapnya, hampir seperti pelukan ala Rusia.

Sebelumnya, pada 2015, pada pertemuan informal di Moskow, Narendra Modi telah menghadiahkan Vladimir Putin dengan dua hadiah bermakna: pedang India abad ke-18 dan sebuah fragmen asli tulisan tangan Mahatma Gandhi. Sementara pedang itu dimaksudkan untuk menggarisbawahi kemitraan militer strategis kedua negara, Tulisan tangan Gandhi mengingatkan kutipan terkenal Vladimir Putin sebelumnya.

Pada 2007, menjawab pertanyaan dari seorang jurnalis untuk majalah Jerman Der Spiegel tentang tindakan penyeimbangan antara demokrasi dan totaliterisme di negara Rusia, Vladimir Putin menjawab bahwa ia adalah satu-satunya demokrat murni dan sejati di seluruh dunia, menambahkan bahwa "setelah Mahatma Gandhi, tidak ada orang untuk diajak bicara. ”Putin kemudian menjelaskan bahwa memang ada masalah dengan lembaga-lembaga demokrasi di Rusia, tetapi harus diperhitungkan bahwa Rusia telah banyak menderita selama masa transisi dari Uni Soviet ke negara sekarang — perang saudara di Kaukasus Utara, salah satunya.

Putin dan Shinzo Abe

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bisa dibilang pemimpin asing yang paling sering bertatap muka dengan Vladimir Putin: 25 pertemuan resmi sejauh ini, dan terus bertambah. Kedua pemimpin selalu memiliki banyak hal untuk dibahas, terutama pertanyaan tentang Kepulauan Kuril.

Selama kunjungan Putin ke Jepang pada tahun 2016, Shinzo Abe menyarankan kunjungan bersama ke onsen (pemandian air panas) di kota Nagano, kampung halaman Abe. Presiden Rusia, bagaimanapun, dengan sopan menolak tawaran itu. Sebaliknya, ia dan Abe mengunjungi Pusat Seni Bela Diri Kodokan di Tokyo, di mana mereka menikmati demonstrasi judo.

Judo adalah salah satu olahraga favorit Putin. "Saya masuk ke judo ketika saya masih kecil, dan seni bela diri Timur pada umumnya — filosofi khusus mereka, etika komunikasi dengan lawan Anda, dan aturan pertarungan," kata Putin.

Hingga kini Pemerintah Rusia tak berencana menyerahkan Kepulauan Kuril kepada Jepang. Salah satu alasannya adalah adanya kemungkinan AS bisa membangun markas militernya kepulauan itu. Baca selengkapnya di sini!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki