Diduga Terpengaruh ISIS, Lima Remaja Serang Polisi dan Ledakkan Bom Bunuh Diri di Chechnya

Masjid Akhmad Kadyrov di kota Grozny, Chechnya, Rusia.

Masjid Akhmad Kadyrov di kota Grozny, Chechnya, Rusia.

Michael Runkel/Global Look Press
Tiga aksi teror berupa serangan pisau, bom bunuh diri, dan serudukan mobil terhadap petugas polisi di Republik Chechnya, Rusia, Senin (20/8), dilakukan oleh lima orang remaja radikal. Empat di antaranya tewas di tempat, sementara seorang lainnya berhasil ditahan.

RTmelaporkan, dua tersangka yang memegang pisau berusaha menyerang sebuah kantor polisi di Distrik Shalinsky, Chechnya, 36 kilometer di sebelah tenggara ibu kota Grozny, sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Sebelum ditembak mati, mereka berhasil melukai dua orang petugas, kata Komite Investigasi Rusia.

Kira-kira pada saat yang sama, seorang pria meledakkan dirinya di dekat pos polisi di desa sekitar, Mesker-Yurt. Untungnya, serangan tersebut tak menimbulkan korban jiwa, baik di antara petugas maupun warga sipil. Pengebom bunuh diri itu sendiri selamat dari ledakan dan dibawa ke rumah sakit di bawah pengawasan polisi.

Dua pelaku lainnya kemudian menabrak dua orang petugas lalu lintas di pusat kota Grozny. Selama pengejaran, polisi berhasil menembak mati si pengemudi dan penumpangnya, yang ternyata merupakan adiknya yang baru berusia 11 tahun, tulisVesti.ru.

Komite Investigasi Rusia telah memublikasikan online video lokasi terjadinya serangan.

Semua yang terlibat dalam serangan itu masih berada bawah umur. “Yang tertua di antara mereka berusia 16 tahun ... dan yang termuda berusia 11 tahun,” kata Menteri Kebijakan Nasional Chechnya Dzhambulat Umarov kepada TASS.

Kepala Republik Chechnya Ramzan Kadyrov mengatakan, para pelakunya mungkin telah dipengaruhi ISIS melalui media sosial. Namun, dia menekankan situasi di republik itu “aman” dan organisasi teroris tak akan tumbuh subur di wilayah tersebut.

Pada hari yang sama, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas tiga serangan di Chechnya tersebut melalui “kantor beritanya”, Amaq.

ISIS telah mengembangkan “program khusus untuk mengindoktrinasi anak-anak remaja dengan ide-ide ekstremis. “Itulah sebabnya, yang menjadi militan kini semakin muda. Kini, sering kali anak laki-laki berusia sekitar 11 atau 12 tahun (menjadi sasaran perekrutan),” kata Umarov kepada TASS.

Identitas para pelaku telah berhasil diidentifikasi. Mereka semua adalah warga Chechnya, kata Umarov. Tidak ada korban jiwa dari kalangan warga sipil akibat serangan itu, tetapi beberapa petugas terluka dan kondisinya cukup serius, katanya menambahkan.

Dalam sebuah wawancara, Pemimpin Republik Chechnya Ramzan Kadyrov pernah mengatakan bahwa Barat adalah ‘orang tua’ ISIS dan Al-Qaeda. Bacalah selengkapnya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki