Mengapa Pelajar Rusia Sering Menjuarai Kompetisi Pemrograman Tingkat Internasional?

Tim Universitas Negeri Lomonosov Moskow menampilkan Grigory Reznikov, Mikhail Ipatov, Vladislav Makeev, dan Elena Andreeva (pelatih)

Tim Universitas Negeri Lomonosov Moskow menampilkan Grigory Reznikov, Mikhail Ipatov, Vladislav Makeev, dan Elena Andreeva (pelatih)

Pelatihan dan dedikasi yang mendalam merupakan faktor kunci yang membuat tim-tim Rusia menguasai dunia teknologi informasi (TI).

Pada 19 April lalu, tim Rusia dari Universitas Negeri Lomonosov Moskow memenangkan Juara World Champion 2018 di ACM International Collegiate Programming Contest (ICPC), kompetisi pemrograman multi tim tahunan, yang merupakan kejuaraan terbesar dan paling bergengsi di dunia pemrograman.
Posisi kedua dan medali emas lain diraih oleh tim Rusia dari Institut Fisika & Teknologi Moskow, sementara Universitas ITMO Sankt Peterburg dan Universitas Federal Ural masing-masing merebut perunggu di posisi kesembilan dan ketiga belas.
Secara keseluruhan, tim Rusia memenangkan empat dari 13 medali — jumlah terbanyak dibanding negara lain. Kompetisi ini menampilkan 140 tim dari 51 negara, termasuk 11 tim yang mewakili Rusia.

Sejak tahun 2000, pelajar dari Rusia telah 13 kali memenangkan ICPC, dan mereka memenangkan kejuaraan tujuh tahun berturut-turut. Dari 2012 hingga 2017, gelar Juara Dunia telah dipertukarkan antara dua tim dari ibu kota budaya Rusia — Universitas Negeri Sankt Peterburg dan Universitas ITMO. Universitas ITMO juga merupakan pemimpin dunia dalam jumlah total piala kejuaraan, mereka telah memenangkan ICPC tujuh kali!

Apa itu ICPC?

Mikhail Ipatov, Grigory Reznikov, dan Vladislav Makeev

Dalam kompetisi, tim yang terdiri dari tiga pelajar harus menyelesaikan delapan atau lebih (maksimal 12) masalah kompleks dalam waktu lima jam dengan menggunakan salah satu bahasa pemrograman yang mereka terima (Java, C, C ++, Kotlin dan Python). Setiap tim hanya memiliki satu komputer, jadi selain memenuhi batas waktu yang ketat dan keterampilan pemrograman, kontestan juga perlu menunjukkan kerja tim yang sangat baik. Pemenangnya adalah tim yang memecahkan jumlah paling banyak dalam waktu tercepat.

“Kesulitan masalah meningkat dari tahun ke tahun, kejuaraan juga memperhitungkan perangkat bahasa pemrograman baru yang muncul. Tahun ini, ICPC melibatkan Kotlin, bahasa yang dikembangkan oleh programmer Rusia, yang dapat disebut sebagai prestasi Rusia lainnya,” kata Roman Elizarov, ketua juri di semifinal ICPC regional di Eurasia Utara. "Kotlin dikembangkan oleh perusahaan dari Sankt Peterburg, JetBrains, dan semakin populer di seluruh dunia."

Selain gelar Juara Dunia, terdapat medali emas, perak, dan perunggu. Medali didistribusikan sebagai berikut: tim yang menyelesaikan di posisi empat teratas menerima emas; tim yang menempati posisi kelima hingga kedelapan — perak; dan yang menyelesaikan kesembilan hingga ke dua belas — perunggu. Medali perunggu tambahan juga dapat diberikan kepada tim yang memecahkan masalah dengan jumlah yang sama dengan tim tempat kedua belas — inilah yang terjadi tahun ini.

Tim juga menerima hadiah uang tunai: masing-masing juara mendapatkan 15.000 dolar; peraih medali emas 7.500 ribu dolar; perak 6.000 dolar; dan perunggu 3.000 dolar. Tidak buruk, bukan?

Fakta menariknya: kejuaraan ICPC memecahkan rekor dalam jumlah kontestan yang mengikutinya. Tahun ini, sekitar 50.000 pelajar dari 111 negara berpartisipasi, hampir empat kali lebih banyak dari Olimpiade, yang pada 2016 melibatkan 11.544 atlet.

Rahasia kesuksesan

Ada sejumlah faktor yang membantu para programmer Rusia menguasai kompetisi, kata Niyaz Nigmatullin, juara ICPC sebanyak dua kali (2012, 2013) dan lulusan Universitas ITMO, yang kini mengajar di ITMO dan melatih tim tingkat sekolah.

“Faktor pertama adalah tradisi matematika yang kuat yang berasal dari periode Soviet. Kedua, ada keseluruhan sistem dan budaya pemrograman di Rusia. Semuanya dimulai di tingkat sekolah dengan banyak kota yang memiliki kamp pelatihan mereka sendiri,” ia menjelaskan.

“Ada komunitas besar anak muda yang berbagi minat dalam pemrograman: mereka bertemu, bersosialisasi, berlatih bersama di kamp dan acara, berpartisipasi dalam proyek bersama dan bersaing satu sama lain, yang membantu mereka berkembang pesat sebagai profesional TI. Plus, mereka memiliki sikap yang sangat serius terhadap pelatihan dan persiapan (untuk ICPC). Mungkin tidak ada negara lain yang memberikan banyak perhatian pada pelatihan. Orang-orang kami sering berlatih hingga 20 jam seminggu,” Nigmatullin memaparkan.

Andrei Stankevich, anggota komite semifinal ICPC North Eurasia dan pelatih tim Universitas ITMO, sepakat. “Orang-orang kami berlatih lebih keras dan lebih sistematis dibanding negara lain. Selama periode persiapan untuk kompetisi, tim kami harus berlatih dua sampai tiga kali seminggu, lima jam tiap pertemuan dalam kondisi yang sedekat mungkin dengan yang kompetisi sebenarnya: 12 tugas yang harus diselesaikan dalam lima jam,” katanya kepada Rusia Beyond.

Andrei Lopatin, juara ICPC dua kali lainnya (2000, 2001) dan pelatih dua tim pemenang dari Universitas Sankt Peterburg (2014, 2016), mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Rusia Beyond bahwa tradisi kuat matematika negara itu, sistem multitier pelatihan profesional TI, serta persaingan internal adalah faktor paling penting yang membantu Rusia menghasilkan profesional yang sangat terampil. Hal ini memungkinkan mereka tidak hanya memenangkan kejuaraan pada tingkat siswa, tetapi juga digerakkan secara internasional oleh perusahaan TI terkemuka.

"Mereka yang memenangkan kejuaraan seperti ICPC dapat beradaptasi dengan cepat dan berpikir kreatif— ini adalah sesuatu yang banyak dicari saat ini," katanya.

Lopatin memenangkan ICPC satu tim dengan Nikolai Durov, pendiri jaringan sosial VK dan kakak laki-laki Pavel Durov (pendiri dan pemilik Telegram). Lopatin juga bekerja untuk VK dan menjadi kepala tim pengembangan Telegram.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki