Kemiskinan, Keputusasaan, dan Anjing Liar: Apa Saja Ketakutan Terbesar Orang Rusia?

Natalya Nosova
Orang-orang Rusia takut akan kembalinya masa lalu yang mengerikan, tak memiliki tujuan hidup, anjing liar, dan polisi lalu lintas.

Takut akan Masa Lalu

Kebanyakan ketakutan yang menghantui orang Rusia modern berasal dari lika-liku perjalanan negara itu sampai sekarang. Ketidakstabilan politik yang sering terjadi, kekacauan sosial, anarki, kekacauan, dan krisis ekonomi adalah ancaman tak berwujud. Namun, itu semua menanamkan perasaan tak nyaman pada mereka yang pernah melalui masa-masa sulit di negara ini. Walaupun dua dekade telah berlalu sejak ancaman semacam ini mengguncang Rusia, tak ada yang bisa melupakannya begitu saja.

Generasi yang lebih tua, yang menyaksikan turbulensi abad ke-20, memiliki ketakutan yang dalam terhadap hal-hal semacam itu. Kehidupan seolah-olah mengajarkan orang-orang yang melihat kehancuran dan kemiskinan pada masa pasca-Perang Dunia II supaya bersiap menghadapi yang terburuk.

“Guru sekolah saya memberi tahu murid-muridnya mengenai ibunya yang memiliki koper khusus untuk menyimpang gandum, garam, dan bahan makanan pokok lainnya jika tiba-tiba terjadi kelangkaan bahan (makanan),” kata Olga Kolesnikova (31).

Ibu sang guru adalah contoh yang bagus, dan setiap orang Rusia mengenal setidaknya satu orang tua yang menyimpan sejumlah besar korek api dalam jumlah yang berlebihan di suatu tempat di kabinet dapurnya ... untuk berjaga-jaga.

Bersikap berlebihan untuk menghadapi kondisi yang terburuk tentu tak baik untuk kesehatan mental seseorang. Namun, kebanyakan generasi tua seolah-olah memang hidup dalam tekanan tanpa henti. Mereka takut akan kemungkinan malapetaka yang menimpa Rusia sekalipun tak ada alasan logis yang dapat mendukung kekhawatiran semacam itu dalam waktu dekat. Namun, ketakutan semacam itu sama sekali tak bisa dihilangkan.

Sementara, krisis politik dan ekonomi pada 1990-an pun tak mudah bagi generasi penerus. Dengan kondisi negara yang kacau balau, orang-orang Rusia merasa seakan-akan dilemparkan ke atas kapal yang terombang-ambing di tengah laut, sementara tak ada seorang pun yang tahu cara mengemudikan kapal. Orang-orang harus belajar untuk bertahan hidup dari kemiskinan dan kekurangan akan kebutuhan pokok, serta menyelamatkan kehidupan mereka di masa kejayaan kejahatan terencana, dan kehancuran keuangan negara.

“Mungkin, kita selalu takut ... bahwa tahun '90-an akan kembali, bahwa ‘mereka akan mengambil semuanya,’ bahwa perbatasan akan ditutup, toko-toko akan kosong, sementara makanan dan sepatu bot akan lenyap (dari rak-rak toko). Kita harus hidup dengan (bayang-bayang) itu,” tulis jurnalis Arina Holina di blog-nya tentang ketakutan akan kembalinya era '90-an.

Takut Tak Punya Tujuan Hidup

Anda mungkin berpikir bahwa ketakutan anak-anak muda Rusia pasti lebih sediki daripada orang tua dan kakek-nenek mereka. Apalagi, mereka belum pernah melihat perang, tak pernah mengalami krisis, dan sebagian besar memiliki penghasilan tetap dan punya masa depan yang terbilang cukup meyakinkan. Namun ternyata, banyak anak muda yang tersiksa oleh ketakutan yang lebih sulit dipahami, tapi sama meresahkannya.

Orang-orang Rusia telah mencari makna kehidupan bahkan sebelum Dostoyevsky mempopulerkannya. Dewasa ini, banyak orang Rusia berjuang melawan krisis pencarian makna hidup yang berasal dari masa remajanya.

Begitu lulus sekolah, orang-orang Rusia menghadapi tekanan untuk membuat pilihan hidup yang akan menentukan sisa hidup mereka. Tak banyak orang yang menunda kuliah setahun (mengambil gap year) dan berpikir keras demi mendapatkan jawaban yang hendak mereka cari. Kebanyakan orang akan terburu-buru ke universitas setelah lulus SMA. Ketika mereka akhirnya berhenti sejenak dan melihat ke sekelilingnya, banyak yang merasa galau dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sudah mereka lakukan selama ini dan bagaimana atau akan seperti apa kehidupan mereka selanjutnya.

Kebiasaan mempertanyakan kompetensi diri secara intens sering kali menimbulkan berbagai ketakutan yang harus dihadapi seseorang saat dia tak dapat menemukan tujuan dalam hidupnya. Anak-anak muda Rusia sering kali merasa takut kehilangan kendali hidupnya dan berakhir dalam situasi ketika mereka tak bisa memengaruhi hasil yang diterima akibat masalah yang membesar seperti efek bola salju.

Orang-orang Rusia, seperti kebanyakan orang lainnya, merasa gamang saat mereka tak memiliki kendali atas kehidupan mereka, dan memang, mereka hampir tak memiliki kendali penuh. Namun, ini adalah ketakutan yang paling produktif dari semuanya.

“Sebagian besar karya sastra paling menonjol yang dibuat para penulis Rusia dipersembahkan untuk kematian, depresi, dan menggambarkan betapa buruknya keadaan.” kata Valeria Lyubimova (23).

Takut akan Persoalan Sepele

Banyak orang asing percaya bahwa orang Rusia tak punya rasa takut. Namun, ada pengecualian. Seperti kebanyakan orang di negara-negara lain, orang Rusia bukan sama sekali tak punya rasa takut, tapi ketakutan mereka seringkali sepele.

“Saya takut ada seseorang yang sengaja mendorong saya ke rel kereta Metro pada jam sibuk dan saya harus menyelamatkan diri dari kereta yang lewat dengan berbaring di antara rel,” kata Alena Samarina (27).

Ada pula sumber kekhawatiran lainnya yang agak lucu. Beberapa orang Rusia takut bertemu rekan mereka saat berlibur ke luar negeri karena mereka takut pertengkaran terakhir mereka mungkin membuat mereka tersipu malu.

Sementara, warga kota besar, seperti Moskow, kerap takut pada hal-hal yang lazim ditemui sehari-hari. Kecelakaan pesawat dan mobil, terorisme, polisi lalu lintas, anjing liar, pemabuk, penyakit, telat membeli minuman keras sebelum pukul 11 ​​malam, dan bahkan pandangan yang mencurigakan membuat banyak orang Rusia yang kurang awas harus menghadapi ketakutan mereka.

Membuat orang Rusia tersenyum memang tidak mudah, tapi mengapa terkadang mereka tiba-tiba menangis? Jawabannya bermacam-macam!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki