Mampu Hancurkan Satelit di Orbit, Apa Saja Keunggulan Sistem Pertahanan S-500?

Kementerian Pertahanan Rusia/TASS
Unit pertama S-500 kini tengah menjaga Kota Moskow dan, pada akhir dekade, mungkin akan dijual ke sejumlah negara asing.

Baru-baru ini, Rusia menembak jatuh satelit lama Soviet di ruang angkasa. Kemenhan Rusia memang tidak mengungkapkan senjata apa yang digunakan untuk menembak jatuh satelit tersebut, tetapi kini hanya ada dua sistem senjata Rusia yang mampu melakukannya: sistem pertahanan udara S-500 dan S-550. Bagaimanapun, peristiwa tersebut betul-betul menarik perhatian dunia. Apalagi, sebelum ini, para ahli tidak yakin apakah sistem pertahanan udara S-500 benar-benar ada.

Jadi, apa saja kebaruan sistem pertahanan udara S-500 dan kapan negara asing dapat memesan kompleks senjata canggih tersebut?

S-500 di Rusia

S-500 merupakan sistem pertahanan udara generasi pertama yang mampu mengenai objek musuh di orbit rendah. Objek-objek tersebut mencakup segala rudal balistik dan rudal hipersonik jelajah generasi berikutnya serta berbagai target aerodinamis (pesawat) yang hanya dikembangkan di Rusia dan luar negeri.

Menurut informasi yang terungkap (sebagian besar informasi pengembangan sistem pertahanan ini dirahasiakan komando militer), S-500 mampu mengenai target hingga 600 kilometer. Artinya, rudal sistem pertahanan ini mampu menyasar 200 kilometer lebih jauh daripada pendahulunya, S-400. Tak hanya itu, S-500 pun mampu melenyapkan lebih banyak target udara daripada S-400.

Saat ini, tentara Rusia telah menerima sistem pertahanan udara S-500 pertamanya. Unit tersebut telah dikirim ke Tentara Ke-15 Pasukan Kedirgantaraan Rusia untuk melindungi Moskow dan Distrik Industri Pusat.

Namun, Viktor Murakhovsky, pemimpin redaksi Arsenal Otechestva, menyarankan agar publik tidak terburu-buru dengan pernyataan bahwa sistem pertahanan udara generasi baru itu benar-benar telah siap.

“Yang dikirim ke militer itu adalah versi awal S-500, gunanya untuk uji operasional. Versi yang diterima oleh tentara tidak memiliki sejumlah fitur dan karakteristik teknis yang diperlukan bagi sebuah unit pertahanan udara generasi baru,” kata Murakhovsky.

Menurutnya, yang semacam itu lazim dilakukan ketika militer mendapatkan versi awal suatu senjata. Dengan demikian, perusahaan pengembang dapat memperbaiki hal-hal kecil yang mungkin luput sebelum senjata tersebut diadaptasi sepenuhnya oleh militer. Pada saat yang sama, militer Rusia akan melanjutkan serangkaian uji coba penembakan di lapangan tembak Kapustin Yar dan melatih prajurit-prajuritnya untuk mengoperasikan sistem baru tersebut.

“Pada 2022, sistem pertahanan udara itu akan sepenuhnya selesai dan unit pertama yang beroperasi secara penuh akan dikirim ke tentara. Pengiriman massal S-500 ke tentara Rusia akan dimulai pada 2024,” kata Murakhovsky.

Pengiriman S-500 ke India, Tiongkok, dan NATO

India, Tiongkok, dan sejumlah mitra Rusia lainnya akan segera menjadi pembeli pertama sistem rudal antipesawat generasi berikutnya S-500, kata Dmitry Shugaev, Direktur Layanan Federal untuk Kerja Sama Teknik Militer (FSMTC), awal bulan ini.

Pakar-pakar militer pun percaya bahwa Turki, yang merupakan bagian dari NATO, juga masuk dalam daftar pembeli potensial pertama.

“Dengan mempertimbangkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia telah mengumumkan rencananya untuk mengembangkan S-550, kompleks S-500 kemungkinan besar akan dipasok ke Tiongkok, India, dan Turki, yang sudah menggunakan kompleks S-400 dan memiliki sikap positif terhadap penguatan sistem pertahanan udara dan misil mereka dengan kompleks S-500,” simpul Artem Kosorukov, seorang analis politik dari Universitas Negeri Moskow (MGU).

Ia mengatakan bahwa ada dua keutamaan S-500 dibandingkan analognya. Radarnya dapat mendeteksi objek musuh dari jarak yang sangat jauh, sementara kemampuan pertahanan rudalnya tak hanya dapat mendeteksi dan menghancurkan pesawat siluman B-2, F-22, dan F-35, tetapi juga rudal-rudal balistik di luar atmosfer dan di orbit rendah, rudal jelajah hipersonik, dan pesawat-pesawat nirawak (drone).

Para ahli juga mengatakan bahwa pemasokan S-500 ke mitra-mitra asing baru akan dimulai ketika pasukan Rusia telah sepenuhnya dilengkapi dengan sistem pertahanan udara tersebut. Proses itu akan memakan waktu 7—8 tahun dan baik India, Tiongkok, maupun Turki baru dapat menandatangani kontrak pembelian S-500 pada 2028.

Perbedaan antara versi domestik dan ekspor

Kementerian Pertahanan tidak mengungkapkan perbedaan antara S-500 Rusia dan S-500 untuk pembeli asing.

“Versi ekspor berbeda dengan versi yang dimiliki tentara Rusia, khususnya, (versi ekspor) tidak menggunakan teknologi yang tergolong rahasia negara dan, selain itu, sejumlah fungsinya akan dikurangi. Dengan kata lain, insinyur-insinyur kita akan melindungi pengembangan terbaru mereka, Sekalipun pembeli asing nantinya membongkar S-500 hingga potongan terkecil, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa,” kata Vitaly Mankevich, Presiden Industrialis dan Pengusaha Uni Rusia-Asia, kepada Russia Beyond.

Maxim Starchak, seorang peneliti dari Pusat Kebijakan Internasional dan Pertahanan di Universitas Queens, menyatakan pendapat yang sama. Menurutnya, kita dapat berasumsi bahwa jangkauan radar pada versi ekspor kemungkinan akan dikurangi beberapa ratus kilometer.

“Militer Rusia mungkin ingin pesawat-pesawatnya tetap tidak terlihat radar pada versi ekspor S-500. Selain itu, akan ada perbedaan lain antara versi domestik dan ekspor, tetapi itu kelak akan dibahas oleh Kementerian Pertahanan Rusia dan mitra-mitra asing kita,” kata Starchak.

Baru-baru ini, Rusia mengumumkan pengembangan sistem rudal antipesawat terbaru yang disebut S-550. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki