India dan Tiongkok Berpotensi Jadi Pembeli Pertama S-500

Kementerian Pertahanan Rusia/Global Look Press
Nantinya, Rusia mungkin akan mengirimkan sistem S-500 ke Tiongkok dan India.

Pembeli pertama sistem rudal antipesawat terbaru Rusia S-500 mungkin adalah India dan Tiongkok, kata Direktur Layanan Federal Rusia untuk Kerja Sama Teknik Militer (FSMTC) Dmitry Shugaev dalam sebuah wawancara dengan RBC.

“Ketika sistem ini dikirim ke angkatan bersenjata (Rusia) sampai batas yang diperlukan, kita dapat menawarkannya ke luar negeri. Kami mempertimbangkan India, Tiongkok, dan semua negara yang telah menjalin kemitraan jangka panjang dan hubungan yang dapat diandalkan dengan kami sebagai pemilik masa depan sistem terbaru ini," katanya.

Pada saat yang sama, FSMTC berencana untuk mempertimbangkan permintaan potensial secara individual dalam setiap kasus tertentu, tambah Shugaev.

Pada awal bulan ini, Presiden Putin menyatakan bahwa tentara Rusia akan segera menerima sistem pertahanan udara S-500.

S-500 Prometey, juga dikenal sebagai 55R6M Triumfator-M, merupakan sistem antipesawat dan antimisil balistik terbaru yang tengah dikembangkan Rusia. Dilengkapi dengan hulu ledak berpemandu terbaru, sistem pertahanan udara masa depan Rusia ini mampu melacak dan menyasar hingga sepuluh hulu ledak rudal yang terbang dengan kecepatan lebih dari 6.000 meter per detik. Sementara itu, seri rudal 77N6 S-500 dilaporkan mampu mencegat rudal jelajah hipersonik dan rudal balistik antarbenua (ICBM), serta objek udara lainnya yang terbang dengan kecepatan lebih dari Mach 5.

Perbedaan utama antara S-500 dan semua sistem asing serupa adalah kisaran 360 derajatnya. Pesaing terdekatnya, MIM-104 Patriot Amerika, hanya dapat menyasar target ke arah yang telah ditentukan pada sudut 180 derajat. Apalagi, operator membutuhkan sekitar setengah jam untuk mengerahkan peluncur Patriot dan menempatkan mereka dalam posisi menembak.

Selanjutnya, inilah segala hal yang perlu Anda ketahui tentang sistem pertahanan S-500.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki