Pistol TT dan Senapan SVT: Dua Senjata Terbaik Ciptaan Tokarev Sebelum dan Selama Perang Dunia II

Denis Abramov/Sputnik
Pistol dan karabin Fyodor Tokarev amat populer semasa Perang Patriotik Raya dan bahkan berperan penting dalam perang mafia di Rusia pada pertengahan 1990-an.

Pada paruh kedua tahun 1920-an, Tentara Merah membutuhkan pistol baru karena revolver Nagan yang mereka gunakan sudah ketinggalan zaman sehingga tak lagi efektif.

Prototipe pertama senjata baru calon pengganti revolver Nagan Tentara Merah dibuat pada awal 1930-an oleh pembuat senjata autodidak Fyodor Tokarev. Dinamai TT, prototipe tersebut berupa pistol kaliber 7,62 mm dengan magazen berkapasitas delapan peluru.

Pistol TT

Tokarev menciptakan senjata yang kuat, andal, mudah dirawat, dan murah produksinya. Namun, ada beberapa fitur pinjaman dalam desain tersebut.

Sistem otomatisnya memanfaatkan energi rekoil yang tercipta akibat hentakan pendek pada laras, sementara sistem pengunciannya mirip pistol Browning dengan pelatuk horizontal.

Pistol TT Tokarev berasal dari desain perancang senjata api Amerika, John Browning. Bagaimanapun, sebagian besar senjata modern sedikit banyak merupakan salinan desain senjata Browning.

“Saat membuat senjata, Anda tidak perlu membuat sesuatu yang benar-benar baru. Tugas utama perancang adalah menerapkan skema yang telah terbukti (andal) dan merakitnya sebaik mungkin,” kata Vadim Kozulin, seorang profesor di Akademi Ilmu Militer.

Meski begitu, pistol TT memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, ini adalah pistol pertama di dunia yang seluruh mekanisme pemicunya dapat dengan mudah dicopot sebagai bagian terpisah.

Selain itu, pistol TT tidak memiliki sistem pengaman. Ini kelemahan utama pistol itu karena sering kali mengakibatkan salah tembak atau tak sengaja menembak kaki. Pistol itu bahkan bisa saja jatuh ke tanah dan tak sengaja menembak sendiri (pelatuknya terbentur) karena tak ada pengaman. Inilah alasan utama mengapa TT akhirnya digantikan oleh pistol Makarov.

Namun demikian, senjata ini tetap memiliki reputasi baik di kalangan tentara, bahkan menjadi senjata utama mafia Rusia setelah Uni Soviet runtuh pada 1990-an.

Senapan SVT-40

Tokarev menciptakan senapan SVT-40 sebelum perang Rusia-Finlandia tahun 1939—1940. Senapan ini merupakan senapan dengan mekanisme pengisian peluru berbasis gas (gas-operated riffle) dengan piston hentakan pendek, pegas di atas laras, dan baut miring.

Konstruksi senjata-senjata kecil buatan Soviet biasanya sederhana dan kuat, dirancang untuk digunakan oleh tentara tak berpengalaman, dan terkadang tidak dipersenjatai dengan baik. SVT-38, sebaliknya, dirancang dengan mempertimbangkan bobot senjata, termasuk popor kayu, badan senjata, dan action system-nya. Senapan ini menerapkan prinsip operasi gas dengan mangkuk silinder yang tidak mudah diakses. Mekanisme semacam itu termasuk rumit dan menuntut perawatan ekstra supaya tidak berkarat.

Selama Perang Patriotik Raya, desain senapan SVT-40 malah menjadi malapetaka karena tentara yang kurang terlatih (sebagian besar petani dan buruh yang dipanggil untuk bertempur) tak dapat menggunakan senjata itu. Kebanyakan dari mereka bahkan tak tahu bahwa senapan tersebut membutuhkan perawatan khusus.

Sebetulnya, ada juga varian otomatis yang mulai diproduksi pada 1942. Namun, karena respons negatif, SVT-40 (dan versi sebelumnya, SVT-38) ditinggalkan. Akhirnya, Mosin Nagant yang mudah digunakan dan dirawat menjadi senjata pilihan tentara.

Meski begitu, SVT-40 secara teknis dianggap sebagai senjata canggih pada zamannya. Dilengkapi dengan peluru 7,62 x 54 yang kuat, senapan itu sepenuhnya mampu menembak dalam mode otomatis, dan cukup efektif menyasar target hingga jarak 500 meter.

Adapun kini SVT-40 dapat ditemukan di tangan pemburu di Rusia atau di rak-rak kolektor senjata.

Selanjutnya, inilah lima senjata api terbaik buatan Rusia yang mungkin belum Anda ketahui.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki