Siapkah Rusia Menghadapi Puncak Pandemi Virus Corona?

Seorang petugas medis memeriksa penumpang di Bandara Sheremetyevo, Moskow.

Seorang petugas medis memeriksa penumpang di Bandara Sheremetyevo, Moskow.

Reuters
Hingga Rabu (1/4), ada 2.777 kasus virus corona dengan 24 kematian yang tercatat di Rusia. Lantas, siapkah negara ini menghadapi skenario terburuk?

Kapan puncak pandemi di Rusia?

Pandemi kemungkinan memuncak di Moskow pada awal bulan ini, menurut prognosis (prediksi perkembangan suatu penyakit) Denis Protsenko, dokter kepala di Rumah Sakit Kota No. 40, yang telah sepenuhnya dialihkan untuk merawat pasien penderita COVID-19.

Namun, sebagaimana yang diprediksi para pakar sebelumnya, prakiraan tanggal puncak pandemi di Rusia bisa berubah-ubah, tergantung pada efektivitas langkah-langkah pencegahan yang diterapkan.

“Sebelumnya saya pikir (puncak pandemi) akan terjadi pada akhir minggu ini,” kata Protsenko pada 26 Maret. Namun, tak lama kemudian, sang dokter segera mengoreksi prognosisnya yang telanjur optimistis.

“Jumlah kasus masih bertambah. Sekarang, saya pikir (puncak pandemi) terjadi pada pertengahan atau akhir minggu depan,” kata Protsenko.

Pada saat yang sama, puncak pandemi di Moskow dan wilayah Rusia lainnya kemungkinan besar terjadi pada waktu yang berbeda. Semua itu tergantung pada skenario apa yang akan terjadi di Rusia.

Berbicara dengan Presiden Putin, yang datang mengunjungi rumah sakit untuk pasien virus corona, Protsenko mengatakan, jika Rusia mengikuti “skenario Asia”, situasi ini akan segera tenang. Sebaliknya, jika Rusia ternyata mengikuti “skenario Italia”, situasi akan menjadi lebih buruk.

Presiden Putin dan Denis Protsenko, dokter kepala di Rumah Sakit Kota No. 40, yang telah sepenuhnya dialihkan untuk merawat pasien penderita COVID-19.

Tenaga medis mengatakan, jika berpatokan pada model yang optimistis, situasi di Rusia bisa stabil pada April atau Mei. Meski demikian, semua orang harus bersiap menghadapi skenario terburuk, tanpa tahu kapan pandemi akan memuncak jika hal tersebut terjadi.

Kenapa kasus virus corona di Rusia lebih sedikit dibandingkan di negara-negara lain?

Jumlah kasus COVID-19 di Rusia terus bertambah, tetapi, dibandingkan dengan negara lain, penyebarannya cukup lambat.

Pada 1 April, 2.777 orang dinyatakan terinfeksi virus corona. Jumlah ini masih lebih rendah daripada di negara-negara lain. Misalnya, AS kini mencatatkan jumlah kasus terbesar (161 ribu dinyatakan positif terinfeksi virus corona), sementara Iran melaporkan 41 ribu kasus.

Para petugas medis di Bandara Sheremetyevo, Moskow.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti mengapa penyebaran virus di Rusia lebih lambat. Meski begitu, ada beberapa teori.

“Pertama-tama, kita memiliki lebih sedikit turis daripada Italia dan lebih sedikit orang yang bepergian ke luar negeri. Populasi negara ini lebih tersebar dan kepadatan penduduknya lebih rendah. Semua faktor ini sangat menentukan,” kata Vladimir Kolin, Direktur Umum DNA-Technology, sebuah perusahaan yang telah merancang tes virus corona.

Di sisi lain, langkah-langkah yang diambil pemerintah mungkin telah mengurangi penyebaran virus di Rusia. Pada 31 Januari, Rusia menutup akses kereta api dengan Tiongkok. Pada 18 Februari, Rusia melarang warga Tiongkok memasuki Rusia. Langkah-langkah terbaru termasuk memberlakukan prosedur swakarantina di rumah untuk semua penduduk Moskow mulai 30 Maret, menetapkan minggu nonkerja dari 28 Maret hingga 5 April, dan menangguhkan hampir semua lalu lintas udara internasional sejak 27 Maret.

Pada saat yang sama, beberapa ahli menyarankan bahwa jumlah kasus virus corona di Rusia mungkin jauh lebih tinggi daripada angka yang dikonfirmasi secara resmi.

“Orang-orang bisa saja terinfeksi virus tanpa menunjukkan gejala apa pun. Seseorang bisa tidak memiliki gejala, tetapi masih menyebarkan virus. Kasus semacam itu hanya bisa diketahui setelah melakukan tes antibodi. Namun pada tahap pencegahan, tak ada yang bisa kita lakukan — mereka tak terdeteksi,” kata Valentin Kovalyov, seorang dokter penyakit menular.

Namun, hingga kini belum ada seorang pun yang mengonfirmasi teori tersebut.

Mampukah Rusia mengatasi puncak epidemi?

Ada banyak pendapat terkait kesiapan Rusia dalam menghadapi puncak epidemi.

Ada yang mengatakan bahwa sistem perawatan kesehatan Rusia mungkin akan kewalahan jika jumlah kasus mulai meningkat tajam.

“Ini karena institusi-institusi medis kekurangan dana. Akibatnya, mereka kekurangan staf medis, bermasalah dengan penyediaan peralatan, dan sebagainya,” kata Andrei Konoval, salah satu pemimmpin ‘Action’, sebuah serikat tenaga medis antardaerah.

Menurutnya, beberapa tahun lalu, Rusia memangkas jumlah departemen penyakit menular dan jumlah tempat tidur penyakit menular demi menghemat anggaran. Akibatnya, Rusia bisa kesulitan memenuhi kebutuhan tempat tidur tambahan di rumah sakit jika jumlah pasien virus corona meningkat tajam, kata Konoval.

Tenaga medis di Moskow.

Namun, yang lain percaya bahwa Rusia lebih siap untuk menghadapi puncak pandemi daripada negara-negara lain.

“Tak ada seorang pun yang mengharapkan terjadi ‘skenario Italia’ di sini. Kita punya cukup peralatan dan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi pandemi. Secara keseluruhan, jumlah ventilator medis yang kita miliki cukup. Beberapa tahun lalu, muncul kepanikan ketika kita tak punya cukup ventilator berjalan untuk merawat pasien yang membutuhkan perawatan paliatif (pelayanan kepada pasien yang penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan secara medis/stadium akhir). Sejak itu, kami memesan lebih banyak ventilator dan kini kita memiliki cukup banyak alat tersebut. Sehubungan dengan rumah sakit besar, mereka sudah pasti dilengkapi dengan baik,” kata Larisa Popovich, Direktur Institut Kesehatan Ekonomi di Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE).

Menurutnya, risiko terbesar terhadap sistem perawatan kesehatan Rusia saat ini justru digembar-gemborkan oleh orang-orang yang menyembunyikan fakta bahwa mereka terjangkit virus corona. “Sebagian penduduk percaya bahwa kebebasan pribadi mereka lebih penting daripada tanggung jawab mereka terhadap masyarakat. Merekalah kategori pembawa virus potensial yang paling berbahaya,” kata Popovich.

Para analis memprediksi berapa lama pandemi virus corona kemungkinan bertahan di Rusia. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki