Dipersenjatai Rudal Hipersonik, Kapal Perang Rusia Bisa Jadi Mimpi Buruk AL Amerika

Global Look Press
Kapal-kapal perang Rusia yang dipersenjatai rudal hipersonik bisa menjadi mimpi buruk bagi Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS).

"Ini adalah sebuah skenario yang tak ingin dibayangkan oleh oleh Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS): setiap kapal perang permukaan Rusia dipersenjatai dengan rudal antikapal hipersonik," tulis media AS The National Interest

Semua kapal perang dari proyek-proyek baru Rusia memang dapat dipersenjatai dengan rudal hipersonik Tsirkon, sebagaimana disampaikan oleh Presiden United Shipbuilding Corporation — perusahaan pembuat kapal terbesar Rusia — Alexei Rahmanov pada akhir tahun lalu.

Uji coba peluncuran pertama rudal Tsirkon dari kapal permukaan dilakukan dari kapal Admiral Gorshkov pada Januari lalu, di mana kapal pertama dari Proyek 22350 fregat itu menembakkan rudal Tsirkon yang menyasar target darat dari Laut Barents, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Rusia TASS.

"Sesuai dengan program uji coba negara terhadap Tsirkon, Admiral Gorshkov meluncurkan rudal ini dari Laut Barents dengan sasaran darat di salah satu wilayah militer Ural Utara pada awal Januari," ujar sumber di lingkungan pertahanan Distrik Federal Barat Laut Rusia yang tak ingin disebutkan namanya, kepada TASS. Rudal itu dilaporkan terbang sejauh lebih dari 500 kilometer. Tahap selanjutnya adalah peluncuran Tsirkon dari kapal selam nuklir.

Rahmanov menjelaskan bahwa mempersenjatai kembali kapal yang ada dengan rudal baru tidak akan menjadi "masalah yang terlalu mahal."

Rudal Tsirkon telah menjadi ancaman nyata yang sangat menakutkan. Rudal ini dilaporkan memiliki jangkauan 1.000 kilometer dan kecepatan sekitar Mach 8 – 9 (9.800 – 11.025 km/jam), jauh lebih cepat daripada rudal antikapal subsonik seperti Harpoon AS (sekitar 965 km/jam) atau senjata supersonik seperti P-800 Onyx Rusia (Mach 2,5, atau 3.58 km/jam). Ancamannya sangat serius sehingga Inggris pun khawatir bahwa pertahanan antirudal pada kapal induk Queen Elizabat-nya tidak dapat menghentikan senjata antikapal hipersonik Rusia itu.

Manurut Michael Peck, penulis The National Interest, Uni Soviet dan Rusia tidak pernah benar-benar mencoba bersaing dengan AS dalam hal kepal besar, seperti kapal induk (Rusia hanya memiliki satu kapal induk). Akan tetapi, AL Rusia saat ini memiliki sekitar 30 kapal perusak dan fregat, 50 korvet dan 30 kapal rudal kecil yang dipersenjatai dengan rudal antikapal supersonik atau subsonik, serta rudal antipesawat. Dengan mempersenjatai kapal-kapal tersebut dengan senjata hipersonik seperti Tsirkon, secara teori memungkinkan kapal rudal kelas Tarantul seberat 500 ton menenggelamkan kapal penjelajah atau bahkan kapal induk AS.

Namun, Kepala AL Rusia Nikolai Yevmenov mengakui pada Januari bahwa Tsirkon tengah mengalami "penyakit masa kanak-kanak" dan akan memerlukan waktu beberapa tahun untuk memperbaikinya.

Akan tetapi, ada masalah yang lebih besar yang dihadapi AL Rusia, yaitu bahkan rudal jarak jauh tercepat pun tidak akan efektif jika tidak dapat mendeteksi target. Sebuah kapal rudal 500 ton yang berusaha menenggelamkan kapal penjelajah atau kapal induk akan terlempar keluar dari air sebelum dapat mengeluarkan tembakan, kecuali kapal itu memiliki sensor jarak jauh yang dapat mendeteksi target sebelum target mendeteksinya. Opsi lain adalah, kapal itu mendapat data sensor dari kapal atau pesawat lain.

Peck juga menyinggung, ketika militer AS mengembangkan rudal hipersoniknya sendiri, maka harapan hidup kapal perang Rusia akan jauh lebih kecil.

Kapal-kapal Rusia yang dipersenjatai dengan Zirkon akan sangat tangguh jika beroperasi di perairan terbatas dekat pantai Rusia, dengan banyak dukungan darat dan radar. Namun, jika beroperasi di Atlantik Utara yang luas, akan menjadi masalah yang berbeda. Tsirkon dan rudal sejenisnya memang mematikan (atau mungkin saja mematikan, karena belum dicoba dalam pertempuran), tetapi itu bukan senjata yang ajaib.

Pentagon merilis peta kegiatan Angkatan Laut (AL) Rusia, dimana disebutkan bahwa AL Rusia memiliki aktivitas yang tinggi di dekat pantai tenggara Amerika Serikat, di Samudra Atlantik Utara, dan di Laut Karibia. Selain itu, Pentagon juga mencatat kehadiran signifikan AL Rusia di Kutub Utara. Baca selengkapnya di sini!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki