Perisai Nuklir Berbasis Darat Rusia Kian Perkasa

Dalam lima tahun ke depan, Rusia akan merampungkan modernisasi persenjataan nuklirnya. Fasilitas peluncuran Rudal (silo) Rusia nantinya akan mampu menahan serangan pertama, sambil melancarkan serangan balasan.

Rusia secara aktif melakukan modernisasi persenjataan nuklirnya agar pada 2024 tidak ada lagi rudal atau alat pengangkut era Soviet yang tersisa pada angkatan daratnya.

Hasilnya, Angkatan Bersenjata Rusia akan memperoleh paket lengkap rudal strategis antarbenua berbasis darat sebagai bagian dari pencegah nuklir negara itu.

Rudal nuklir yang dimiliki Rusia saat ini

Peluncuran Rudal Balistik Antarbenua

Menurut situs web Strategic Nuclear Weapons of Russia, pada awal 2020, Rusia telah mengerahkan 532 kapal strategis yang mampu membawa hingga 2.100 hulu ledak nuklir (di bawah usulan perjanjian pengurangan senjata strategis START III dengan AS).

Inilah beberapa rudal nuklir yang dimiliki Angkatan Bersenjata Rusia saat ini:

  • 46 rudal berat R-36M2 (SS-18)
  • 2 sistem Avangard (rudal UR-100NUTTKh, SS-19 Mod 4)
  • 45 sistem Topol bergerak (SS-25)
  • 60 sistem Topol-M peluncuran silo (SS-27)
  • 18 sistem Topol-M bergerak (SS-27)
  • 135 sistem rudal RS-24 Yarsbergerak dan 14 peluncuran silo

Dari rudal-rudal di atas, R-36M2 dan Topol akan dinonaktifkan dan digantikan oleh rudal Yars terbaru, yang akan ditempatkan di silo yang ditempati rudal yang lama, Selain itu, rudal tersebut juga akan dipasang pada peluncur bergerak dengan roda, serta roket Sarmat yang berat.

Yars

Peluncur otonom

“Fitur utama Rudal baru adalah jalur terbang yang tidak dapat diprediksi oleh sistem pertahanan udara musuh. Dalam perjalanannya ke target, pola terbang Yars tidak seperti parabola yang menjadi ciri khas rudal pada umumnya, melainkan menggeliat seperti ular. Hal ini  akan menyulitkan musuh dalam memprediksi target yang dituju," jelas Dmitry Safonov, mantan analis militer untuk surat kabar Izvestia, kepada Russia Beyond.

Menurut Safonov, mesin rudal sama sekali tidak seperti pendahulunya. Yars tidak hanya meninggalkan silo pada kecepatan yang lebih tinggi, tetapi dapat terus mengubah ketinggian, arah, dan kecepatan di lapisan bawah atmosfer untuk membingungkan sistem pertahanan musuh.

"Fitur penting Yars lainnya adalah adanya enam hulu ledak berpemandu presisi, yang dapat melepaskan diri dalam penerbangan dan mengirim muatan mereka ke ‘alamatnya’,'" tambah Safonov.

Setiap hulu ledak dapat menghasilkan ledakan hingga 100 kiloton. Sebagai perbandingan, bom nuklir yang dijatuhkan oleh Amerika di Hiroshima dan Nagasaki menghasilkan ledakan lima kali lebih lemah (masing-masing sekitar 20 kiloton).

Sarmat

Tes tembakan rudal balistik antarbenua yang beras

Rudal berbobot sekitar 100 ton ini memiliki jangkauan setidaknya 17.000 kilometer.  Menurut para perancangnya, Sarmat dapat terbang ke sasaran bahkan melalui Kutub Selatan, tempat di mana tidak ada yang akan mengharapkannya, dan di mana tidak terdapat sistem pertahanan rudal.

"Senjata ini dapat bertahan dari serangan pertama oleh musuh, karena silo-nya dilindungi terhadap serangan rudal langsung. Terlebih lagi, sistem panduannya terlindung dari efek penonaktifan gelombang radio-magnetik,” terang Viktor Litovkin, Analis Militer Kantor Berita Rusia TASS kepada Russia Beyond.

Selain itu, Sarmat akan dilengkapi dengan tidak kurang dari 15 hulu ledak nuklir yang dipandu dengan presisi.

“Hulu ledak ini terletak di bagian dalam berdasarkan prinsip grapeshot (proyektil yang bukan merupakan elemen padat, tetapi susunan geometris peluru bundar yang dikemas dalam tas kanvas). Proyektil kemudian dilepas pada saat yang tepat, menjatuhkan sekelompok bom nuklir ke tanah dengan hasil ledakan hingga 300 kiloton,” tambah Litovkin.

BrahMos merupakan rudal jelajah tercepat di dunia hasil kolaborasi Rusia-India. Rudal ini secara khusus telah menjadi dasar untuk pengembangan lebih lanjut teknologi rudal jelajah Rusia untuk militer India. Baca selengkapnya di sini!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki