Kisah Vasily Zaitsev, Sniper Paling Terkenal dalam Pertempuran Stalingrad 

Mil.ru (CC BY 4.0); Jean-Jacques Annaud/Mandalay Pictures; Repérage Films, 2001
Penembak jitu (sniper) andal ini diketahui memulai karier militernya bukan di akademi khusus sniper — melainkan di departemen ekonomi-keuangan Armada Pasifik Soviet.

“Mengamati gerak-gerik musuh adalah hobi saya. Saya melihat seorang perwira fasis yang sombong dan merasa dirinya penting sedang berjalan keluar dari ruang istirahat dan dengan angkuh memerintah anak buahnya. Mereka sangat patuh terhadap kehendaknya, permintaannya, dan keinginannya. Namun, sang perwira tak tahu bahwa ia hanya punya waktu beberapa detik untuk tetap bertahan hidup…” bunyi paragraf yang ditulis Zaitsev dalam memoarnya, ‘Tak Ada Tanah Bagi Kami di Tepi Sungai Volga’ (judul dalam Bahasa Inggris: ‘Notes of a Russian Sniper). 

Menurut riwayatnya, Zaitsev telah membunuh 242 tentara dan perwira musuh. Ia memang bukanlah sniper paling berbahaya dalam Perang Dunia II, tapi dapat dipastikan bahwa Zaitsev adalah sniper paling terkenal dalam Pertempuran Stalingrad.

Dari atas kapal terjun ke parit

Vasily Grigoryevich Zaitsev telah berlatih untuk menjadi seorang penembak jitu sejak kecil. Kakeknya adalah seorang pemburu berpengalaman dan sering mengajak cucunya berburu di padang rumput.

Vasily Zaitsev selama masa dinasnya di Armada Pasifik.

Namun, pecahnya perang tidak membuatnya berada di pasukan penembak jitu — melainkan di Samudra Pasifik. Zaitsev, yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik, mulai bertugas di departemen ekonomi-keuangan di markas besar unit militer Armada Pasifik.

Banyak prajurit Angkatan Laut Soviet yang ingin maju ke garis depan untuk melawan musuh, tak terkecuali Zaitsev. Pahlawan masa depan Stalingrad itu mengajukan lima kali permohonan untuk dikirim ke garis depan dan hingga akhirnya, pada musim panas 1942, permintaannya dipenuhi.

“Selama lima tahun penuh, saya dengan bangga mengenakan kemeja bergaris pelaut dan mempersiapkan diri untuk bertempur di atas ombak lautan... Dan akhirnya saya bertempur di darat,” tulis Zaitsev. 

Terlahir sebagai penembak jitu

Pada September 1942, Zaitsev berada di Stalingrad, di Divisi Infanteri ke-284 Angkatan Darat ke-62 pimpinan Letnan Jenderal Vasily Chuikov. Awalnya, ia terlibat dalam pertempuran di jalanan sebagai prajurit infanteri biasa.

 Sniper Vasily Zaitsev.

Namun, keahlian menembaknya dengan cepat dikenal. Sekelompok tentara sedang berada di posisi mereka ketika dua orang Jerman muncul di hadapan mereka. “Saya mengangkat senapan saya dan, hampir tanpa membidik, saya melepaskan tembakan. Fritz terjatuh. Beberapa detik kemudian, yang kedua muncul. Saya pun menembaknya,” kenang Zaitsev. 

Komandan resimen, yang mengamati kejadian itu, langsung memerintahkan agar Zaitsev diberi senapan sniper dengan pembidik optik.

Seorang penembak jitu andal

Zaitsev memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat baik, daya tahan tubuh yang kuat, pengendalian diri yang luar biasa, dan tenang. Dia pun dengan cepat dipromosikan ke dalam jajaran penembak jitu terbaik di Stalingrad.  

Penembak jitu Soviet di Stalingrad.

Zaitsev terus mengasah kemampuannya, mempelajari taktik musuh, menyusun strategi sendiri, dan pada saat yang sama tak takut berimprovisasi. “Saat sampai di tepi area pertempuran, buatlah penyamaran, berbaring diam dan amati, pelajari medan, susun denah, dan tandai titik-titik penting pada denah tersebut.”

Zaitsev berusaha untuk tidak beraksi saat matahari terbenam — karena saat matahari terbenam ke arah cakrawala, sinarnya akan terpantul pada penglihatan optik senapan, sehingga dapat mengacaukan posisi penembak jitu. Namun, sinar matahari pagi tampak berkilau di teropong perwira dan pengintai Jerman sehingga dapat menyilaukan mata penembak jitu musuh.

“Jika saat fajar, misalnya, Anda melihat pantulan cahaya dari pemantik api — itu menandakan bahwa penembak jitu telah bersiap. Dapatkan posisi yang tepat di tempat itu dan tunggu: Gumpalan asap tembakau akan muncul. Setelah beberapa saat berlalu, mungkin seharian, sebuah helm akan muncul selama sepersekian detik. Sebaiknya Anda tidak kedapatan sedang tidur siang!”

'Kelinci-kelinci kecil'

Penembak jitu yang berbakat dan penembak jitu ahli juga ikut serta dalam melatih penembak jitu lainnya, yang secara tidak resmi dijuluki "zaichata" ("kelinci kecil"; diambil dari kata "zaiets" dalam Bahasa Rusia yang berarti "kelinci", asal kata dari nama belakang "Zaitsev").

Vasily Zaitsev menjelaskan tugas tempur para prajurit pendatang baru.

Mereka berjumlah sekitar tiga puluhan orang. Zaitsev mengajari mereka untuk berpindah lokasi setelah dua atau tiga kali tembakan, berkamuflase dengan hati-hati, dan memasang umpan untuk mengecoh musuh (misalnya, dengan menempatkan sosok tiruan yang mengenakan seragam militer). Hal utama yang ditekankan oleh Zaitsev adalah berpikir di luar batas dan berimprovisasi.

Zaitsev menyusun taktik untuk memburu target dalam kelompok yang terdiri dari enam orang. "Sixes" adalah teknik yang berhasil ia terapkan pada para peserta pelatihannya. Teknik ini terdiri dari tiga pasangan penembak jitu (penembak dan pengintai) yang secara komprehensif mencakup zona yang sama dari arah tembakan yang berbeda.

Chuykov secara pribadi telah bertemu dengan banyak penembak jitu di dalam pasukannya. Berikut ini adalah bagaimana ia mengenang pertemuannya dengan Zaitsev dan muridnya, Viktor Medvedev: "Ketika saya pertama kali bertemu Zaitsev dan Medvedev, saya terpesona oleh kerendahan hati mereka, gerakan mereka yang tak tergesa-gesa, karakter mereka yang selalu tenang, dan tatapan mereka yang penuh selidik: Mereka bisa memandang satu titik dalam waktu yang lama tanpa mengedipkan kelopak mata. Genggaman tangan mereka kuat dan mantap: Saat berjabat tangan, mereka menggenggam Anda seperti sebuah catok."  

Pemburu penembak jitu

Selama pertempuran di Stalingrad, Zaitsev berhasil membunuh 11 penembak jitu musuh.

Vasily Chuikov memeriksa senjata penembak jitu Vasily Zaitsev.

"Saya telah belajar dengan cepat membedakan 'tulisan tangan' penembak jitu Nazi dan, dengan mengevaluasi gaya menembak serta metode kamuflase mereka, saya tak mengalami kesulitan untuk membedakan penembak jitu yang lebih berpengalaman dengan yang masih baru, serta penembak jitu yang lemah dan penembak jitu yang gigih," kenangnya.

Duel antara Zaitsev dan Mayor König (Konings) pun menjadi sangat terkenal. Sniper asal Jerman itu dikirim ke Stalingrad untuk menghabisi 'kelinci-kelinci kecil' dan, tentu saja, 'kelinci besar. Konfrontasi antara kedua penembak jitu ini digambarkan dalam film 'Enemy at the Gates' tahun 2001.

Jude Law memerankan penembak jitu Vasily Zaitsev dalam film tahun 2001 'Enemy at the Gates'.

Siapa sebenarnya Mayor König telah banyak dipertanyakan oleh para sejarawan. Menurut salah satu catatan, nama tersebut bisa jadi merupakan nama samaran untuk SS Standartenführer Heinz Thorvald, kepala sekolah penembak jitu di Kota Zossen.

König-Thorvald berhasil membunuh beberapa penembak jitu Soviet, dan setelah itu ia melawan Zaitsev. Seorang pengintai bernama Nikolai Kulikov berhasil memancing pria Jerman itu keluar dari persembunyiannya. 

"Dengan sangat hati-hati, seperti yang dilakukan penembak jitu paling berpengalaman, Kulikov mengangkat helmnya," kenang Zaitsev. "Tentara fasis itu menembak. Kulikov tersentak sedikit ke atas, berteriak keras, dan jatuh ke belakang... Akhirnya, penembak jitu Soviet itu, 'kelinci utama' yang telah ia buntuti selama empat hari, tewas! Inilah yang pasti ada di benak orang Jerman itu dan dia menjulurkan bagian atas kepalanya dari balik lembaran besi. Saya menembak. Kepala fasis itu jatuh ke belakang, sementara penglihatan optik senapannya tetap berkilauan di bawah sinar matahari."

Begitu hari mulai gelap, pasukan Soviet di zona ini melakukan serangan mendadak pada malam hari. Di tengah pertempuran, Zaitsev dan rekannya menyeret mayat mayor itu keluar dari bawah lembaran besi, mengambil surat-suratnya, dan menyerahkannya kepada komandan divisi.

Pahlawan Uni Soviet

Pada Januari 1943, Zaitsev terluka parah dan kehilangan penglihatannya untuk sementara. Penglihatannya dipulihkan di Moskow, setelah ia langsung diterbangkan ke ibu kota. Pada 22 Februari di tahun yang sama, Letnan Muda Vasily Zaitsev dianugerahi gelar 'Pahlawan Uni Soviet' atas keberanian dan prestasi militer yang ditunjukkannya dalam pertempuran melawan penjajah Fasis Jerman.

Pahlawan Uni Soviet Vasily Zaitsev.

Setelah kondisi kesehatannya pulih, Zaitsev kembali ke militer, ikut serta dalam pertempuran, melatih "kelinci-kelinci kecil" dan menulis dua buku panduan tentang seni penembak jitu. Namun, ketika kemenangan tiba, ia berada di rumah sakit militer di Kiev.

Zaitsev memutuskan untuk tinggal di ibu kota Soviet Ukraina dan menghabiskan waktu bertahun-tahun bekerja di sana sebagai manajer di sektor industri ringan. Ia meninggal pada 15 Desember 1991, beberapa hari sebelum runtuhnya Uni Soviet.

Keinginan terakhir penembak jitu yang terkenal itu adalah dimakamkan di Volgograd (nama Stalingrad sejak 1961). Namun, makamnya tetap berada di Kiev selama bertahun-tahun. Baru pada 2006, jasadnya dimakamkan di Mamayev Kurgan, lokasi pertempuran sengit di mana 35 ribu pejuang kota itu dikebumikan.

Pernah menjadi warga Soviet pertama yang mengunjungi Gedung Putih di Washington dan menaklukkan 309 tentara Nazi, berikut ini adalah sosok Lyudmila Pavlichenko

Pembaca yang budiman,

Situs web dan akun media sosial kami terancam dibatasi atau diblokir lantaran perkembangan situasi saat ini. Karena itu, untuk mengikuti konten terbaru kami, lakukanlah langkah-langkah berikut:

  • ikutilah saluran Telegram kami;
  • berlanggananlah pada newsletter mingguan kami; dan
  • aktifkan push notifications pada situs web kami.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki