Empat Mitos Terpopuler tentang Penembak Jitu

Vitali Timkiv /Sputnik
Seorang mantan penembak jitu badan intelijen FSB Rusia membantah mitos-mitos yang paling sering dikaitkan dengan profesi “pencabut nyawa” ini.

Satu Tembakan, Satu Nyawa

Ketika seorang penembak jitu menghadapi teroris yang menggunakan tameng manusia atau seorang pengebom bunuh diri yang akan meledakkan diri, memang benar hanya ada satu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dan menyelamatkan nyawa sandera atau orang-orang di sekitar. Akan tetapi, ada juga keadaan yang mengharuskan seorang penembak jitu melepaskan tembakan berkali-kali dan bahkan wajar jika ada yang meleset.

Pertempuran di daerah pedesaan, misalnya, jarang bisa dimenangkan dengan satu tembakan tepat ke kepala komandan musuh. Biasanya, ada sejumlah target yang harus disingkirkan terlebih dahulu, mulai dari pengintai dan diakhiri dengan kru senapan mesin atau senapan mesin otomatis. Terkadang, penembak jitu harus melindungi anggota tim lainnya dan menahan musuh agar mereka dapat bergerak maju atau mundur.

Dibayangi Iblis Seumur Hidup

Mengambil nyawa manusia lebih mudah daripada yang dibayangkan orang-orang. Penembak jitu Pasukan Khusus adalah orang-orang terlatih yang memiliki pola pikir tertentu. Jadi, tidak ada orang-orang berpikiran lemah yang memegang senapan dan tidak mampu menembak orang jahat yang menggunakan sandera sebagai tameng manusia. Ada saat yang tepat ketika seorang penembak jitu harus menarik pelatuk dan itu hanya berlangsung selama milidetik. Kesempatan itu tidak bisa dilewatkan hanya karena karena sang "pencabut nyawa" ragu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Jadi, tidak benar jika seorang penembak jitu dibayangi setan seumur hidupnya. Yang diperlihatkan di film-film hanyalah dramatisasi belaka. Penembak jitu menjalani kehidupan normal begitu mereka mengakhiri karier militer mereka.

Semua Orang Bisa Menjadi Penembak Jitu

Dalam menjalankan misi, seorang penembak jitu terkadang harus berbaring di sepanjang hari di tanah, semak-semak, atau di bawah terik matahari tanpa beranjak sedikit pun. Jadi, pekerjaan ini membutuhkan orang yang mampu melakukan pekerjaan monoton berjam-jam tanpa istirahat.

Selain itu, penembak jitu Pasukan Khusus juga orang berpendidikan. Mereka harus ahli dalam balistik agar dapat bekerja dengan berbagai elemen, seperti angin (menghitung kecepatan penyimpangan yang dihasilkan dalam lintasan peluru). Selain itu, mereka juga harus tahu cara menyamarkan diri di area operasi.

Seseorang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari itu semua.

Membunuh Target Sejauh Berkilo-kilo Meter

Pada pertengahan 2017, seorang penembak jitu Pasukan Khusus Kanada yang tidak disebutkan namanya membuat rekor dunia baru. Dia berhasil melakukan pembunuhan dari jarak 3.540 meter. Itu adalah pembunuhan penembak jitu terjauh di dunia. Biasanya, para penembak jitu menghilangkan target dengan jarak yang lebih dekat dari itu.

Para penembak jitu kepolisian diajarkan untuk menghilangkan target tidak lebih dari 500 meter di daerah perkotaan. Pada jarak  seperti itu, mereka harus mampu menembak sebuah target berukuran 30 sentimeter persegi

Sementara, penembak jitu militer, diajarkan untuk mengenai target sejauh satu kilometer. Namun, tugas ini hanyalah untuk mencapai target, karena kaliber peluru yang diperlukan untuk mencapai jarak seperti itu memastikan bahwa bagian tubuh akan terkoyak akibat benturan, memastikan kematian musuh karena kehilangan darah.

Begini cara penembak jitu Rusia mengantongi "izin membunuh".

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki