Keteladanan Sukarno yang Membekas Hingga Empat Generasi

Sejarah
PANCA SYURKANI
Siapa yang tak kenal Sukarno di Indonesia — Presiden Pertama RI yang memiliki tempat istimewa di hati rakyatnya. Namun apa yang menyebabkan nama besarnya diabadikan oleh sebuah keluarga di Rusia dengan menamai keturunannya hingga empat generasi?

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus Mohamad Wahid Supriyadi terkejut saat diperkenalkan kepada dua orang anak yang sama-sama bernama Sukarno. Perkenalan itu berlangsung di sela kunjungannya di Republik Dagestan, Rusia, pada Maret lalu. Ia tak menyangka, bagaimana mungkin hal itu terjadi, sementara tak sekali pun sang Proklamator Kemerdekaan RI itu pernah menginjakkan kaki di sana.

Sukarno Kamilevich (Sukarno bin Kamil) dan Sukarno Magomedovich (Sukarno bin Muhammad), begitu keduanya diperkenalkan kepada Wahid oleh Ibrahim Abdulaev, Kepala Pusat Nusantara, saat Wahid akan meresmikan pusat studi mengenai Indonesia itu. Ayah mereka, Kamil Sukarnoevich dan Magomed Gashimovich (Muhammad bin Hasim) adalah saudara sepupu. Kedua anak yang masing-masing berusia 12 dan 10 tahun itu memang sengaja diundang Ibrahim untuk dipertemukan dengan Wahid.

Ibrahim menceritakan, bahwa penamaan ini adalah warisan kekaguman sang kakek buyut terhadap keteladanan Sukarno, yang ia abadikan dengan menamai keturunanya dan masih terawat hingga kini.

Keteladanan dari seorang Sukarno membekas begitu dalam dan tertanam kuat pada diri Musa Gashimovich, Ketua Kelompok Tani (Kolkhoz) asal Dagestan. Meski tak berkenalan secara langsung, sosok Sukarno ia kenal saat mengikuti sidang Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet di Kremlin, Moskow, pada Juni 1961. Selain dihadiri berbagai kalangan dan tokoh dari seantero Negeri Beruang Merah, pertemuan itu juga dihadiri beberapa pimpinan berbagai negara, termasuk Sukarno.

Tengah hari, ketika sidang masih berlangsung, Sukarno tiba-tiba berdiri dan meminta izin meninggalkan ruangan kepada Sekjen Partai Komunis Nikita Khrushchev  untuk melaksanakan salat Zuhur. Nikita pun mempersilahkan Sukarno meninggalkan ruangan. Hal itu membuat Musa terkejut dan seolah tak percaya akan apa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri — bagaimana bisa seseorang diperbolehkan beribadah, sementara segala kegiatan beragama merupakan hal terlarang pada zaman Soviet. Jika pun ada, dilakukan secara diam-diam dengan resiko yang tak ringan jika tertangkap basah. Dari situlah kekaguman Musa terhadap Sukarno mulai tumbuh dan mengakar.

Setahun kemudian istri Musa melahirkan seorang putera, dan dengan bekal kekaguman yang ia bawa dari ibu kota, ia pun dengan bangga menyematkan nama Sukarno Musaevich (Sukarno bin Musa) kepada sang putra  — Ayah Kamil. Musa sempat menulis surat kepada Kedutaan Besar RI Moskow untuk meminta izin menggunakan nama sang presiden, tetapi tak pernah mendapat balasan. Keajaiban yang disaksikan Musa di Kremlin kemungkinan diceritakan turun-temurun di lingkungan keluarganya sehingga kini nama Sukarno masih tersemat pada sang cicit.

Menurut Wahid, nama Sukarno masih banyak dikenal oleh generasi tua hingga saat ini, terutama di kota-kota yang pernah dikunjungi Presiden Sukarno seperti di Moskow, Saint Petersburg, Yekaterinburg, Sochi dan Samarkand yang kini merupakan wilayah Uzbekistan.

Di Moskow, Sukarno mengunjungi Masjid Agung yang saat itu masih sangat kecil dan fotonya masih tersimpan di salah satu masjid terbesar di Rusia dan di Eropa itu. Di Dalam kunjungannya pada 1956 di Leningrad — kini Sankt Peterburg, Sukarno meminta Nikita Khrushchev agar mengizinkan Masjid Biru yang saat itu difungsikan sebagai gudang dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam.

Khrushchev pun mengizinkannya masjid itu kembali dibuka sepuluh hari setelah kunjungan Sukarno. Imam Masjid Biru Cafer Nasibullahoglu pun mengakui jasa Sukarno itu.

Wahid juga menyinggung cerita tentang makam Imam Bukhari. Walaupun tidak ada sumber sejarah resmi, menurutnya masyarakat Samarkand sampai saat ini meyakini bahwa makam Imam Bukhari dibangun oleh Uni Soviet atas pengaruh Sukarno. Wahid menambahkan, penemuan makam Imam Bukhari konon menjadi syarat kesediaan Sukarno memenuhi undangan Khruschev ke Soviet. Khruschev pun memenuhinya sehingga Sukarno dapat mengunjungi makam tersebut dengan perjalanan kereta api yang ditempuh sekitar 3 hari dalam rangkaian kunjungannya pertamanya di Soviet.

Hubungan diplomatik Indonesia sudah terjalin sejak 1950. Sejak kunjungan pertama Sukarno, hubungan persahabatan antara kedua negara terus berkembang. Namun, tak berarti bahwa hubungan antara kedua negara tidak pernah mengalami kemunduran. Bagaimana pasang surut hubungan kedua negara? Baca selengkapnya di sini!